Konten dari Pengguna

Ramai Saat Viral, Sepi Setelahnya: Ujian Sebenarnya Bisnis Kuliner

Nazra Aulia Farhaniyah

Nazra Aulia Farhaniyah

Saya mahasiswi S1 Akuntansi Universitas Pamulang

ยทwaktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nazra Aulia Farhaniyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi usaha kuliner viral sesaat. (Sumber: ChatGPT.co.id).
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi usaha kuliner viral sesaat. (Sumber: ChatGPT.co.id).

Beberapa waktu terakhir, bisnis kuliner semakin mudah menarik perhatian masyarakat melalui media sosial. Sebuah kedai bisa mendadak dipadati pembeli hanya karena video makanannya masuk beranda, antrean pengunjung menjadi bahan unggahan, atau seorang kreator konten memberikan ulasan positif. Makanan yang sebelumnya tidak banyak dikenal tiba-tiba diburu orang dari berbagai daerah. Namun, ketika tren mulai bergeser dan perhatian publik beralih ke tempat lain, keramaian tersebut perlahan menghilang. Meja yang dahulu selalu terisi mulai kosong, sedangkan penjualan tidak lagi seperti minggu-minggu pertama pembukaan.

Fenomena ini cukup sering terlihat dalam kehidupan sehari-hari. Ada usaha minuman yang awalnya ramai karena menawarkan cara penyajian unik, kedai makanan dengan antrean panjang akibat promosi di media sosial, hingga tempat makan yang mendadak populer karena memiliki tampilan menarik untuk difoto. Pengunjung datang bukan hanya untuk menikmati hidangan, tetapi juga untuk merasakan pengalaman yang sedang ramai dibicarakan. Sayangnya, tidak semua orang yang datang pada masa viral memiliki alasan untuk kembali.

Menurut saya, salah satu tantangan terbesar bisnis kuliner saat ini bukan sekadar menarik perhatian calon pembeli, melainkan mengubah rasa penasaran menjadi kebiasaan membeli. Mendapatkan pelanggan pertama mungkin bisa dibantu oleh promosi, tren, atau rekomendasi kreator konten. Akan tetapi, membuat seseorang kembali membeli produk yang sama membutuhkan alasan yang lebih kuat. Rasa makanan, harga, porsi, pelayanan, kebersihan, dan konsistensi kualitas menjadi faktor yang menentukan apakah sebuah usaha layak dipertahankan dalam pilihan konsumen.

Ketika sebuah produk sedang viral, sebagian pelaku usaha mungkin merasa bahwa strategi pemasarannya sudah berhasil. Penjualan meningkat, stok cepat habis, dan keuntungan terlihat menjanjikan. Situasi tersebut tentu menggembirakan, terutama bagi pemilik usaha kecil yang baru memulai bisnis. Namun, keramaian sesaat bisa menimbulkan kesalahan dalam mengambil keputusan. Pemilik usaha mungkin terburu-buru menambah tempat duduk, membeli peralatan baru, memperbesar jumlah produksi, atau membuka cabang karena menganggap permintaan akan terus meningkat.

Padahal, lonjakan pembelian pada masa viral belum tentu mencerminkan permintaan yang stabil. Sebagian pelanggan datang karena penasaran, sementara sebagian lainnya sekadar mengikuti tren yang sedang populer. Setelah mencoba, mereka merasa cukup dan tidak memiliki keinginan untuk membeli lagi. Ketika jumlah pelanggan menurun, biaya operasional yang telanjur meningkat justru menjadi beban. Usaha yang sebelumnya terlihat menjanjikan dapat mengalami kesulitan karena pengeluaran disusun berdasarkan perkiraan bahwa keramaian akan terus bertahan.

Persoalan lain muncul ketika pelaku usaha terlalu bergantung pada tren. Ketika satu jenis makanan mulai kehilangan perhatian, tidak sedikit bisnis serupa yang mencoba mengikuti produk viral berikutnya. Hari ini menjual minuman tertentu, beberapa bulan kemudian mengganti menu utama karena muncul tren baru. Strategi tersebut tidak selalu salah, tetapi perubahan yang dilakukan tanpa memahami karakter pelanggan dapat membuat identitas usaha menjadi tidak jelas. Konsumen mungkin mengenal sebuah kedai karena satu produk populer, tetapi tidak menemukan alasan lain untuk tetap menjadi pelanggan.

Kejenuhan pembeli juga merupakan hal yang wajar. Media sosial membuat masyarakat terus diperkenalkan pada makanan baru, mulai dari hidangan dengan tampilan unik hingga kombinasi rasa yang tidak biasa. Ketika terlalu banyak usaha menawarkan sesuatu yang hampir serupa, perhatian konsumen menjadi mudah berpindah. Makanan yang dahulu dianggap istimewa perlahan terasa biasa karena semakin banyak tempat menjual produk sejenis. Dalam kondisi seperti ini, pelaku usaha tidak cukup hanya mengandalkan penampilan produk atau promosi yang menarik perhatian.

Bisnis kuliner yang ingin bertahan perlu memahami bahwa pelanggan tidak selalu mencari sesuatu yang baru. Ada orang yang memilih kembali ke tempat makan tertentu karena rasanya konsisten, harganya sesuai kemampuan, porsinya memuaskan, atau pelayanannya membuat mereka nyaman. Kebiasaan membeli tersebut memang tidak selalu menghasilkan keramaian besar dalam waktu singkat, tetapi dapat membentuk sumber pendapatan yang lebih stabil. Pelanggan yang kembali secara rutin sering kali lebih berarti bagi keberlangsungan usaha dibandingkan banyak pengunjung yang hanya datang sekali.

Hal ini bukan berarti promosi melalui media sosial tidak penting. Sebaliknya, media sosial dapat menjadi sarana efektif untuk memperkenalkan produk, menjangkau pasar baru, dan membangun hubungan dengan konsumen. Namun, promosi seharusnya menjadi pintu masuk, bukan satu-satunya alasan seseorang membeli. Setelah berhasil menarik perhatian, pemilik usaha perlu memastikan bahwa pengalaman yang diterima pelanggan sesuai dengan harapan yang dibentuk oleh promosi tersebut.

Pelaku usaha juga perlu lebih cermat membaca angka penjualan. Keramaian pada akhir pekan atau lonjakan pesanan setelah sebuah video viral tidak otomatis menunjukkan bahwa bisnis sudah memiliki pasar yang kuat. Catatan mengenai jumlah pembelian berulang, menu yang paling diminati, keuntungan setiap produk, dan biaya operasional dapat membantu pemilik usaha memahami kondisi sebenarnya. Dari sana, keputusan untuk menambah produksi, mengembangkan menu, atau memperluas tempat usaha dapat dibuat berdasarkan kebutuhan, bukan semata-mata karena sedang ramai.

Di sisi lain, konsumen juga memiliki peran dalam membentuk tren kuliner. Kita sering tertarik mencoba makanan setelah melihat banyak orang mengunggahnya di media sosial. Kebiasaan tersebut tidak salah, tetapi popularitas sebuah produk tidak selalu mencerminkan kualitasnya. Makanan yang ramai dibicarakan belum tentu sesuai dengan selera semua orang, sebagaimana kedai yang sepi belum tentu menawarkan produk yang buruk. Perbedaan antara popularitas dan kualitas inilah yang perlu dipahami ketika menilai keberhasilan sebuah usaha.

Bisnis kuliner tidak harus selalu menjadi pembicaraan di media sosial untuk dapat menghasilkan keuntungan. Kedai sederhana yang memiliki pelanggan tetap, warung makan yang menjaga kualitas masakan, atau usaha rumahan yang melayani pesanan secara konsisten tetap memiliki peluang untuk berkembang. Mereka mungkin tidak mengalami lonjakan pengunjung yang dramatis, tetapi memiliki fondasi usaha yang dibangun melalui kepercayaan dan pengalaman pelanggan dari waktu ke waktu.

Keramaian memang dapat menjadi awal yang baik bagi sebuah bisnis. Namun, ketika perhatian publik mulai berpindah, pemilik usaha akan berhadapan dengan pertanyaan yang lebih penting: apakah produknya memang dibutuhkan, apakah pelanggan merasa puas, dan apakah usaha tersebut mampu memberikan nilai yang membuat orang ingin kembali? Jawaban atas pertanyaan itu tidak bisa diperoleh hanya melalui jumlah penonton video atau panjangnya antrean saat tren sedang berada di puncak.

Nazra Aulia Farhaniyah Prodi Akuntansi S1 Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pamulang.