Konten dari Pengguna

Sampah yang Kita Abaikan Bisa Menjadi Bencana

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nazra Aulia Farhaniyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi penumpukan sampah. (Sumber: shutterstock.com).
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi penumpukan sampah. (Sumber: shutterstock.com).

Kebakaran Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin di Kabupaten Tangerang bukan sekadar peristiwa yang menghanguskan tumpukan sampah. Asap yang menyelimuti permukiman warga, puluhan keluarga yang harus mengungsi, hingga penetapan status tanggap darurat menunjukkan bahwa persoalan sampah telah berkembang menjadi ancaman bagi kesehatan, lingkungan, bahkan keselamatan masyarakat.

Banyak orang mengira persoalan sampah selesai ketika kantong sampah di depan rumah telah diangkut petugas. Padahal, perjalanan sampah baru dimulai. Sampah yang setiap hari kita hasilkan akan terus menumpuk di tempat pembuangan akhir apabila tidak diimbangi dengan pengurangan, pemilahan, dan pengolahan yang baik.

Menurut saya, kebakaran TPA Jatiwaringin adalah pengingat bahwa sampah bukan lagi persoalan kebersihan semata. Ketika jumlahnya terus bertambah tanpa pengelolaan yang memadai, sampah dapat berubah menjadi sumber bencana. Musim kemarau, suhu yang tinggi, dan embusan angin kencang membuat tumpukan sampah yang mengandung gas mudah terbakar menjadi sangat berisiko.

Dampaknya pun tidak sederhana. Asap pekat yang dihasilkan dapat menurunkan kualitas udara dan meningkatkan risiko gangguan pernapasan, terutama bagi anak-anak, lansia, serta masyarakat yang memiliki penyakit kronis. Ketika pemerintah harus mengerahkan helikopter water bombing, puluhan mobil pemadam kebakaran, hingga menetapkan status tanggap darurat, sesungguhnya kita sedang menyaksikan persoalan yang telah berkembang jauh melampaui urusan pengelolaan sampah biasa.

Langkah cepat pemerintah tentu patut diapresiasi. Penanganan darurat menjadi kebutuhan agar api tidak terus meluas dan dampaknya terhadap masyarakat dapat diminimalkan. Namun, respons setelah bencana tidak boleh membuat kita lupa pada akar persoalannya.

Indonesia masih menghadapi tantangan besar dalam pengelolaan sampah. Di banyak daerah, tempat pembuangan akhir masih menjadi tujuan utama hampir seluruh sampah rumah tangga. Sementara itu, kebiasaan memilah sampah dari sumbernya belum menjadi budaya yang dilakukan secara konsisten. Akibatnya, volume sampah terus meningkat dan memperbesar risiko lingkungan di masa mendatang.

Padahal, langkah sederhana seperti mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, memilah sampah organik dan anorganik, serta mendukung kegiatan daur ulang dapat memberikan dampak yang besar apabila dilakukan secara bersama-sama. Pengelolaan sampah tidak akan berhasil jika hanya mengandalkan pemerintah. Kesadaran masyarakat menjadi bagian yang sama pentingnya.

Peristiwa di Jatiwaringin juga menjadi pengingat bahwa perubahan iklim membuat berbagai risiko lingkungan semakin sulit diprediksi. Musim kemarau yang lebih panjang dan suhu yang semakin tinggi meningkatkan potensi kebakaran di lokasi-lokasi penumpukan sampah apabila tidak diantisipasi sejak dini.

Sudah saatnya kita memandang sampah sebagai tanggung jawab bersama, bukan sekadar sesuatu yang harus dibuang dari rumah. Sebab, sampah yang hari ini kita abaikan dapat kembali dalam bentuk asap yang mencemari udara, kebakaran yang mengancam permukiman, bahkan krisis lingkungan yang dampaknya dirasakan oleh banyak orang.

Kebakaran TPA Jatiwaringin seharusnya menjadi pengingat bahwa persoalan sampah tidak bisa terus diselesaikan dengan cara lama. Perubahan cara pandang, pengelolaan yang lebih baik, serta keterlibatan seluruh elemen masyarakat menjadi langkah yang tidak lagi bisa ditunda jika kita ingin mencegah bencana serupa terulang di masa mendatang. Sampah memang terlihat sederhana ketika berada di tangan kita, tetapi dampaknya bisa menjadi persoalan besar ketika tanggung jawab terhadapnya berhenti setelah dibuang.

Nazra Aulia Farhaniyah Prodi Akuntansi S1 Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pamulang.