Semakin Mahal Hidup, Semakin Sulit Menikmati Hasil Kerja Sendiri

Saya mahasiswi S1 Akuntansi Universitas Pamulang
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Nazra Aulia Farhaniyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bekerja seharusnya menjadi salah satu cara seseorang memperbaiki kehidupannya. Setelah menghabiskan waktu dan tenaga untuk mencari penghasilan, ada harapan sederhana yang ingin diwujudkan: memenuhi kebutuhan sehari-hari, menabung, sesekali membeli sesuatu yang diinginkan, atau menikmati waktu bersama keluarga tanpa terlalu memikirkan uang. Namun, bagi banyak orang, harapan tersebut terasa semakin sulit dicapai ketika biaya hidup terus meningkat.
Gaji yang diterima setiap bulan sering kali sudah memiliki tujuan sebelum benar-benar berada di tangan. Sebagian digunakan untuk membayar kebutuhan tempat tinggal, sebagian untuk makan dan transportasi, lalu sisanya dialokasikan bagi tagihan, cicilan, atau kebutuhan keluarga. Ketika seluruh kewajiban itu terpenuhi, uang yang tersisa terkadang hanya cukup untuk bertahan sampai hari gajian berikutnya.
Menurut saya, persoalan yang paling melelahkan bukan hanya ketika harga kebutuhan naik, melainkan ketika seseorang mulai merasa bahwa kerja kerasnya tidak lagi memberikan perubahan yang berarti dalam hidup. Ia tetap bekerja, berusaha meningkatkan kemampuan, bahkan mungkin mendapatkan penghasilan lebih besar daripada beberapa tahun sebelumnya. Namun, jika pengeluaran meningkat lebih cepat, kemajuan yang diharapkan sulit benar-benar dirasakan.
Situasi ini dapat ditemukan dalam berbagai kehidupan. Seorang pekerja yang baru mendapatkan kenaikan gaji mungkin berharap bisa mulai menabung lebih banyak. Akan tetapi, pada waktu yang hampir bersamaan, biaya transportasi meningkat, harga makanan berubah, atau kebutuhan rumah tangga bertambah. Tambahan penghasilan yang seharusnya membuka peluang baru justru habis untuk menyesuaikan diri dengan pengeluaran yang semakin besar.
Hal serupa juga dirasakan oleh mereka yang baru memulai kehidupan mandiri. Memiliki pekerjaan dan menerima gaji sendiri memang memberikan kebanggaan tersendiri. Namun, kebebasan mengelola uang ternyata datang bersama tanggung jawab yang tidak sedikit. Membayar tempat tinggal, membeli kebutuhan pokok, mengurus kendaraan, hingga menyiapkan dana darurat membutuhkan perhitungan yang matang. Keinginan sederhana seperti berlibur atau membeli barang yang sudah lama diincar pun sering kali harus ditunda.
Kondisi tersebut tidak selalu berarti seseorang kurang pandai mengatur keuangan. Mengelola pengeluaran memang penting, tetapi kemampuan itu memiliki batas ketika pendapatan tidak sebanding dengan kebutuhan dasar. Mengurangi pembelian yang tidak mendesak mungkin membantu, tetapi tidak semua persoalan dapat diselesaikan dengan berhenti membeli kopi, mengurangi hiburan, atau menahan keinginan berbelanja.
Ada perbedaan antara hidup hemat dan terus-menerus merasa bersalah ketika mengeluarkan uang untuk diri sendiri. Seseorang boleh saja mengatur anggaran dengan disiplin, tetapi ia juga membutuhkan kesempatan untuk beristirahat, bersenang-senang, dan menikmati sesuatu yang membuat hidup terasa lebih menyenangkan. Jika hampir seluruh penghasilan hanya digunakan untuk memenuhi kewajiban, ruang untuk menikmati hasil kerja akan semakin sempit.
Kebiasaan membandingkan kehidupan dengan orang lain juga dapat memperberat keadaan. Media sosial memperlihatkan teman yang membeli rumah, rekan kerja yang berlibur ke luar negeri, atau seseorang yang baru saja membeli kendaraan. Kita hanya melihat hasil yang ditampilkan, tanpa mengetahui kondisi keuangan, tanggungan, maupun perjuangan di baliknya. Perbandingan semacam ini dapat membuat seseorang merasa tertinggal, meskipun ia sebenarnya sedang berusaha memenuhi kebutuhan yang tidak kalah penting.
Di tengah situasi tersebut, pembicaraan mengenai kesejahteraan seharusnya tidak berhenti pada besarnya gaji. Hal yang juga perlu diperhatikan adalah kemampuan penghasilan tersebut untuk memenuhi kebutuhan hidup secara layak. Kenaikan pendapatan memang penting, tetapi akses terhadap tempat tinggal yang terjangkau, transportasi yang memadai, layanan kesehatan, serta harga kebutuhan pokok yang terkendali turut menentukan kualitas hidup masyarakat.
Perusahaan, pemerintah, dan masyarakat memiliki peran yang berbeda dalam menghadapi persoalan ini. Dunia kerja perlu memperhatikan keseimbangan antara upah dan kebutuhan pekerja, sedangkan kebijakan publik perlu mempertimbangkan dampak biaya hidup terhadap rumah tangga. Di tingkat individu, perencanaan keuangan tetap bermanfaat, terutama untuk membangun tabungan dan mengantisipasi pengeluaran mendadak. Namun, tanggung jawab tersebut tidak seharusnya dibebankan sepenuhnya kepada orang yang sedang berusaha mencukupi kebutuhannya.
Ada pula hal yang sering terlupakan ketika membicarakan uang, yaitu waktu dan tenaga yang dikorbankan untuk mendapatkannya. Seseorang mungkin berhasil memperoleh penghasilan yang cukup, tetapi harus bekerja terlalu lama hingga jarang bertemu keluarga atau tidak memiliki waktu untuk dirinya sendiri. Penghasilan memang diperlukan untuk hidup, tetapi kehidupan yang layak juga membutuhkan kesempatan untuk menikmati waktu di luar pekerjaan.
Kita tidak harus selalu memiliki banyak uang untuk merasa bahagia. Makan bersama keluarga, beristirahat tanpa terganggu pekerjaan, atau menikmati akhir pekan dengan sederhana tetap memiliki nilai yang besar. Namun, hal-hal kecil tersebut akan lebih mudah dinikmati ketika kebutuhan dasar terpenuhi dan seseorang tidak terus-menerus dibayangi kekhawatiran mengenai pengeluaran berikutnya.
Barangkali yang perlu kita pertanyakan bukan hanya seberapa keras seseorang bekerja, melainkan apakah hasil pekerjaannya sudah cukup untuk memberinya kehidupan yang layak. Sebab, bekerja bukan semata-mata tentang bertahan dari satu bulan ke bulan berikutnya. Ada kebutuhan untuk berkembang, merencanakan masa depan, membantu orang-orang yang dicintai, dan menikmati hasil usaha yang telah dilakukan selama ini.
Nazra Aulia Farhaniyah Prodi Akuntansi S1 Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pamulang.
