Konten dari Pengguna

Skripsi Penting, tetapi Kesehatan Tidak Boleh Menjadi Taruhan

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nazra Aulia Farhaniyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi sedang mengerjakan skripsi. (Sumber: shutterstock.com).
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi sedang mengerjakan skripsi. (Sumber: shutterstock.com).

Kabar meninggalnya seorang mahasiswi yang diketahui sempat mengerjakan skripsi hingga dini hari mengundang duka sekaligus menjadi pengingat bagi banyak orang. Terlepas dari penyebab medis yang dimiliki korban dan hasil pemeriksaan yang menjadi kewenangan pihak berwenang, peristiwa ini mengajak kita melihat kembali budaya yang selama ini dianggap biasa di lingkungan kampus.

Bagi sebagian mahasiswa, begadang sering kali dianggap sebagai bagian dari perjuangan. Menyelesaikan revisi hingga dini hari, mengurangi waktu tidur demi mengejar tenggat waktu, bahkan mengabaikan kondisi tubuh seolah menjadi hal yang lumrah menjelang penyusunan skripsi.

Tanpa disadari, kebiasaan tersebut perlahan membentuk anggapan bahwa semakin seseorang mengorbankan waktu istirahat, semakin besar pula kesungguhannya dalam belajar.

Padahal tubuh manusia memiliki batas.

Menurut saya, keberhasilan akademik seharusnya tidak diukur dari seberapa sering seseorang begadang, melainkan dari bagaimana ia mampu mengelola waktu, menjaga kesehatan, dan tetap konsisten menyelesaikan tanggung jawabnya.

Tekanan selama menyusun skripsi memang nyata. Revisi yang tidak sedikit, target kelulusan, harapan keluarga, hingga kecemasan menghadapi masa depan sering membuat mahasiswa memaksakan diri untuk terus bekerja tanpa memberi kesempatan tubuh beristirahat.

Ironisnya, budaya seperti ini sering dianggap wajar. Kalimat seperti "namanya juga skripsi" atau "semua mahasiswa pasti merasakan hal yang sama" membuat banyak orang menganggap kelelahan sebagai sesuatu yang harus diterima.

Padahal kesehatan bukanlah hambatan dalam meraih prestasi, melainkan fondasi agar prestasi itu dapat diraih dengan baik.

Peristiwa ini juga menjadi pengingat bahwa dunia pendidikan tidak hanya bertugas melahirkan lulusan yang cerdas secara akademik, tetapi juga individu yang mampu menjaga keseimbangan antara tanggung jawab dan kesehatan. Kampus, dosen, maupun mahasiswa memiliki peran yang sama dalam membangun budaya akademik yang sehat, di mana kerja keras tetap dihargai tanpa mengorbankan kondisi fisik maupun mental.

Skripsi memang penting karena menjadi salah satu tahap akhir perjalanan sebagai mahasiswa. Namun skripsi hanyalah bagian dari perjalanan hidup, bukan sesuatu yang layak membuat kesehatan kehilangan prioritas.

Gelar sarjana akan menjadi pencapaian yang membanggakan. Namun pencapaian tersebut akan jauh lebih bermakna jika diraih dengan tubuh yang tetap sehat dan kehidupan yang tetap terjaga.

Nazra Aulia Farhaniyah Prodi Akuntansi S1 Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pamulang.