Konten dari Pengguna

Tidak Semua Mahasiswa Menikmati Masa Kuliah yang Katanya Paling Menyenangkan

Nazra Aulia Farhaniyah

Nazra Aulia Farhaniyah

Saya mahasiswi S1 Akuntansi Universitas Pamulang

ยทwaktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nazra Aulia Farhaniyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi lelah menghadapi perkuliahan. (Sumber: iStock.com).
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi lelah menghadapi perkuliahan. (Sumber: iStock.com).

Masa kuliah sering digambarkan sebagai salah satu periode paling menyenangkan dalam kehidupan seseorang. Ada kesempatan bertemu teman baru, mengikuti berbagai kegiatan, mencoba pengalaman berbeda, dan perlahan menemukan arah masa depan. Banyak orang menyebutnya sebagai masa untuk menikmati kebebasan sebelum memasuki dunia kerja. Namun, gambaran tersebut tidak selalu sesuai dengan kenyataan yang dialami setiap mahasiswa.

Bagi sebagian orang, kehidupan perkuliahan justru menjadi fase yang penuh tekanan. Tugas datang silih berganti, jadwal ujian semakin padat, dan tuntutan untuk memperoleh nilai yang baik sering kali membuat waktu istirahat terasa berkurang. Di tengah kesibukan tersebut, ada pula mahasiswa yang harus memikirkan biaya pendidikan, membantu keluarga, atau bekerja sambil menyelesaikan kewajiban akademik.

Menurut saya, salah satu hal yang jarang dibicarakan dari kehidupan kampus adalah kenyataan bahwa setiap mahasiswa memiliki perjuangan yang berbeda, meskipun mereka berada di lingkungan yang sama. Ada yang bisa menikmati kegiatan organisasi dan berkumpul bersama teman setelah kuliah. Ada pula yang harus segera pulang karena memiliki tanggung jawab lain. Perbedaan tersebut tidak selalu menunjukkan siapa yang lebih mampu menikmati masa muda, melainkan memperlihatkan bahwa setiap orang memiliki keadaan dan prioritas masing-masing.

Tekanan juga dapat muncul dari kebiasaan membandingkan kehidupan sendiri dengan pengalaman orang lain. Media sosial sering menampilkan sisi perkuliahan yang terlihat menyenangkan, mulai dari kebersamaan di kampus, pencapaian akademik, hingga pengalaman mengikuti berbagai kegiatan. Ketika melihat unggahan seperti itu, seseorang mungkin merasa dirinya kurang menikmati masa kuliah karena tidak memiliki banyak cerita serupa.

Padahal, apa yang terlihat di layar hanya sebagian kecil dari kehidupan seseorang. Teman yang tampak selalu bahagia belum tentu tidak memiliki masalah. Mahasiswa yang aktif mengikuti berbagai kegiatan juga bisa menghadapi tekanan yang tidak diketahui orang lain. Membandingkan kehidupan sehari-hari dengan potongan pengalaman orang lain hanya akan membuat seseorang sulit menghargai proses yang sedang dijalaninya sendiri.

Persoalan lain yang tidak kalah penting adalah anggapan bahwa mahasiswa harus mampu menjalani semuanya dengan baik. Mereka diharapkan memperoleh nilai tinggi, memiliki banyak teman, aktif dalam kegiatan kampus, mengembangkan keterampilan, dan mempersiapkan karier sejak dini. Semua itu memang dapat memberikan manfaat, tetapi tidak setiap orang memiliki waktu, tenaga, dan kesempatan yang sama untuk melakukannya secara bersamaan.

Keinginan untuk berkembang seharusnya tidak berubah menjadi tuntutan yang membuat seseorang merasa selalu tertinggal. Tidak mengikuti organisasi bukan berarti gagal memanfaatkan masa kuliah. Memiliki lingkaran pertemanan yang kecil juga tidak berarti seseorang tidak mampu bersosialisasi. Begitu pula dengan mahasiswa yang membutuhkan waktu lebih lama untuk menemukan minat dan menentukan pilihan kariernya.

Kampus sendiri merupakan tempat untuk belajar, bukan hanya mengenai materi perkuliahan, tetapi juga tentang mengenali kemampuan dan keterbatasan diri. Ada mahasiswa yang sejak awal sudah mengetahui tujuan hidupnya, sementara yang lain masih mencoba memahami hal-hal yang benar-benar ingin mereka lakukan. Keduanya merupakan bagian dari proses yang wajar selama dijalani dengan kesungguhan dan kemauan untuk terus belajar.

Sayangnya, pembicaraan mengenai kehidupan mahasiswa sering lebih berfokus pada pencapaian yang mudah dilihat. Nilai, prestasi, pengalaman organisasi, dan keberhasilan memperoleh pekerjaan menjadi hal yang sering dibanggakan. Sementara itu, perjuangan sederhana seperti tetap mengikuti perkuliahan ketika sedang menghadapi masalah, berusaha memahami materi yang sulit, atau menyelesaikan tugas di tengah keterbatasan jarang mendapatkan perhatian yang sama.

Padahal, perjalanan pendidikan tidak selalu berlangsung dengan lancar. Ada masa ketika seseorang merasa bersemangat, tetapi ada pula periode ketika motivasi menurun dan kegiatan sehari-hari terasa lebih berat. Kondisi tersebut tidak serta-merta menunjukkan bahwa mahasiswa telah kehilangan kemampuan atau salah memilih jalan. Terkadang, mereka hanya membutuhkan waktu untuk beristirahat, mengevaluasi prioritas, dan kembali melanjutkan langkahnya secara bertahap.

Hal ini juga menjadi pengingat bahwa lingkungan pertemanan di kampus seharusnya tidak hanya menjadi tempat berbagi kesenangan. Hubungan yang baik juga memberikan ruang bagi seseorang untuk mengakui bahwa dirinya sedang kesulitan tanpa takut dibandingkan atau diremehkan. Pertanyaan sederhana seperti menanyakan kabar dengan sungguh-sungguh dapat menjadi bentuk perhatian yang berarti bagi teman yang sedang menghadapi masa sulit.

Menikmati masa kuliah tidak harus berarti menjalani kehidupan yang selalu ramai dan penuh pengalaman baru. Bagi seseorang, kebahagiaan mungkin hadir ketika berhasil menyelesaikan mata kuliah yang sulit. Bagi yang lain, kepuasan bisa datang dari kemampuan membagi waktu antara kuliah dan pekerjaan, membantu keluarga, atau sekadar memiliki waktu istirahat setelah menjalani hari yang panjang.

Setiap mahasiswa berhak memiliki pengalaman perkuliahan yang berbeda. Tidak perlu memaksakan diri mengikuti semua kegiatan hanya karena takut dianggap tidak memanfaatkan masa muda. Hal yang lebih penting adalah mengetahui apa yang sedang diperjuangkan, menjaga keseimbangan hidup, dan memberikan kesempatan kepada diri sendiri untuk berkembang sesuai kemampuan.

Masa kuliah memang dapat menjadi periode yang penuh kenangan, tetapi tidak harus selalu menyenangkan setiap saat. Ada pelajaran yang diperoleh melalui keberhasilan, ada pula pemahaman yang muncul ketika seseorang menghadapi kesulitan. Keduanya tetap menjadi bagian berharga dari proses pendidikan.

Nazra Aulia Farhaniyah Prodi Akuntansi S1 Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pamulang.