Tidak Semua Orang Dewasa Tahu Arah Hidupnya

Saya Mahasiswi Prodi S1 Akuntansi Universitas Pamulang
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Nazra Aulia Farhaniyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada satu pertanyaan yang diam-diam sering muncul ketika seseorang mulai memasuki usia dewasa.
"Apakah hidupku sudah berjalan ke arah yang benar?"
Pertanyaan itu mungkin tidak selalu diucapkan.
Namun, tidak sedikit orang yang membawanya pulang setiap malam setelah bekerja, setelah kuliah, atau setelah melihat kehidupan orang lain di media sosial.
Menurut saya, salah satu kesalahpahaman terbesar tentang menjadi dewasa adalah anggapan bahwa semakin bertambah usia, seseorang akan semakin yakin terhadap arah hidupnya.
Padahal, kenyataannya tidak selalu demikian.
Banyak orang dewasa yang masih bingung.
Banyak yang masih mencoba.
Banyak pula yang diam-diam sedang mencari jawaban yang belum mereka temukan.
Hanya saja, tidak semua orang berani mengakuinya.
Sejak kecil, kita tumbuh dengan gambaran bahwa hidup memiliki urutan yang jelas.
Lulus sekolah.
Masuk kuliah.
Mendapat pekerjaan.
Menikah.
Memiliki rumah.
Lalu semuanya akan terasa baik-baik saja.
Namun, ketika benar-benar memasuki dunia dewasa, kita mulai menyadari bahwa kehidupan tidak pernah berjalan serapi daftar tersebut.
Ada yang lulus tepat waktu tetapi kesulitan memperoleh pekerjaan.
Ada yang sudah bekerja, tetapi tidak merasa bahagia.
Ada yang berpindah-pindah pekerjaan karena masih mencari tempat yang benar-benar sesuai.
Ada pula yang terlihat berhasil dari luar, tetapi setiap hari masih bertanya apakah jalan yang dipilihnya memang yang terbaik.
Ironisnya, kebingungan seperti itu sering dianggap sebagai sesuatu yang memalukan.
Kita merasa seolah-olah semua orang sudah mengetahui tujuan hidupnya, sementara hanya diri kita yang masih berjalan tanpa arah.
Padahal, jika mau jujur, banyak orang sedang mengalami hal yang sama.
Mereka hanya tidak menceritakannya.
Media sosial ikut memperkuat perasaan tersebut.
Yang kita lihat hampir selalu adalah pencapaian.
Seseorang diterima bekerja.
Seseorang membuka usaha.
Seseorang melanjutkan studi.
Seseorang membeli rumah.
Yang jarang terlihat adalah keraguan yang mereka alami sebelum mengambil keputusan, kegagalan yang mereka sembunyikan, atau rasa takut yang tetap muncul meskipun tampak percaya diri.
Akibatnya, kita lebih mudah membandingkan perjalanan hidup sendiri dengan hasil akhir kehidupan orang lain.
Padahal, setiap orang sedang berjalan di jalannya masing-masing.
Ada yang menemukan tujuan hidup lebih cepat.
Ada yang baru menemukannya setelah berkali-kali mengubah arah.
Tidak ada aturan yang mengatakan bahwa semua orang harus sampai pada tujuan di waktu yang sama.
Menjadi dewasa bukan berarti memiliki semua jawaban.
Sering kali, menjadi dewasa justru berarti belajar hidup berdampingan dengan pertanyaan yang belum bisa dijawab hari ini.
Belajar menerima bahwa tidak semua rencana berjalan sesuai keinginan.
Belajar memahami bahwa perubahan arah bukan selalu tanda kegagalan.
Kadang, itu justru bagian dari proses menemukan tempat yang benar-benar tepat.
Mungkin karena terlalu sering melihat kehidupan orang lain, kita lupa bahwa perjalanan hidup bukan perlombaan.
Tidak ada garis finis yang mengharuskan semua orang tiba bersamaan.
Yang ada hanyalah proses yang berbeda-beda.
Karena itu, mungkin tidak ada yang salah jika hari ini kita belum sepenuhnya mengetahui ke mana hidup akan membawa kita.
Tidak semua keputusan harus sudah selesai dibuat pada usia tertentu.
Tidak semua mimpi harus segera tercapai agar hidup dianggap berhasil.
Selama kita masih terus belajar, mencoba, memperbaiki diri, dan berani melangkah meskipun belum melihat seluruh jalan di depan, sebenarnya kita sedang bergerak.
Dan bergerak selalu lebih baik daripada berhenti hanya karena takut salah arah.
Pada akhirnya, menjadi dewasa bukan tentang siapa yang paling cepat menemukan tujuan hidupnya.
Menjadi dewasa adalah keberanian untuk terus melangkah, bahkan ketika peta yang kita miliki belum sepenuhnya lengkap.
Karena sering kali, arah hidup tidak ditemukan dalam satu keputusan besar.
Ia justru perlahan terlihat dari langkah-langkah kecil yang terus kita ambil setiap hari.
Nazra Aulia Farhaniyah Prodi Akuntansi S1 Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pamulang.
