Konten dari Pengguna

Pengaruh Media Sosial terhadap Konsentrasi Belajar Mahasiswa

Nazua Dinar Sefyani

Nazua Dinar Sefyani

student from universitas pamulang

ยทwaktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nazua Dinar Sefyani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bored young woman watching content on video streaming services using mobile phone. Image: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Bored young woman watching content on video streaming services using mobile phone. Image: Shutterstock

Media sosial telah menjadi bagian dari kehidupan mahasiswa. Instagram, TikTok, WhatsApp, YouTube, dan berbagai platform lainnya tidak hanya digunakan untuk hiburan, tetapi juga untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi.

Meskipun memiliki banyak manfaat, penggunaan media sosial yang berlebihan dapat menjadi salah satu gangguan dalam proses belajar.

Mahasiswa sering kali berniat membuka media sosial hanya selama beberapa menit ketika sedang belajar.

Namun, satu video dapat berlanjut menjadi video berikutnya hingga waktu belajar yang seharusnya digunakan untuk membaca atau mengerjakan tugas menjadi berkurang.

Close Up Of Two Student Using Phone During Class. Image: Shutterstock

Salah satu masalah utama dari media sosial adalah kemampuannya menarik perhatian pengguna secara terus-menerus. Konten yang muncul pada media sosial biasanya disesuaikan dengan minat pengguna sehingga membuat seseorang ingin terus melihat konten berikutnya.

Kebiasaan berpindah perhatian dari buku atau materi kuliah ke media sosial dapat membuat proses belajar menjadi tidak maksimal. Ketika mahasiswa belajar sambil memeriksa notifikasi, konsentrasi mereka terbagi. Akibatnya, waktu yang dibutuhkan untuk memahami sebuah materi dapat menjadi lebih panjang.

Dampak tersebut tidak hanya berkaitan dengan waktu belajar. Penggunaan media sosial yang bermasalah juga dapat berhubungan dengan kesejahteraan dan pola kehidupan sehari-hari. WHO melaporkan bahwa penggunaan media sosial bermasalah pada remaja meningkat dari 7% pada 2018 menjadi 11% pada 2022 dalam data yang mencakup 44 negara dan wilayah.

WHO juga menghubungkan penggunaan bermasalah dengan berbagai konsekuensi terhadap kesejahteraan dan kehidupan sehari-hari.

Namun, tidak tepat jika media sosial dianggap sepenuhnya sebagai musuh pendidikan. Banyak mahasiswa menggunakan media sosial untuk mengikuti akun edukasi, berdiskusi mengenai perkuliahan, mencari informasi beasiswa, atau menemukan materi pembelajaran. Dengan demikian, dampaknya sangat bergantung pada tujuan dan pola penggunaannya.

Mahasiswa tidak harus menghilangkan media sosial sepenuhnya. Yang lebih realistis adalah mengatur waktu penggunaannya. Ketika sedang belajar, mahasiswa dapat mematikan notifikasi atau menggunakan metode belajar tertentu agar tidak terus-menerus terdistraksi.

Man, smile and coffee in home with phone, reading breaking news and scroll for social media update. Image: Shutterstock

Media sosial dapat memberikan manfaat bagi mahasiswa, tetapi penggunaan yang tidak terkontrol dapat mengganggu konsentrasi belajar.

Oleh karena itu, persoalannya bukan apakah mahasiswa boleh menggunakan media sosial, melainkan bagaimana mereka mengendalikan penggunaannya. Kemampuan mengatur perhatian menjadi salah satu keterampilan penting bagi mahasiswa di era digital.