Kenapa Kita Lebih Sering Mengabadikan Momen daripada Menikmatinya?

Mahasiswi S1 Manajemen Universitas Pamulang, semester 7, konsentrasi Digital Marketing. Tertarik pada dunia digital marketing, bisnis, dan media.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Nazwa aqila tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernahkah kita pergi ke tempat yang indah, tetapi justru sibuk memikirkan foto yang bagus untuk diunggah? Atau sedang berkumpul bersama teman, tetapi perhatian lebih banyak tertuju pada kamera ponsel daripada percakapan yang sedang berlangsung?
Menurut saya, kebiasaan mengabadikan setiap momen sebenarnya tidak salah. Foto dan video memang bisa menjadi cara untuk menyimpan kenangan. Namun, ketika keinginan untuk mendapatkan dokumentasi justru membuat kita lupa menikmati pengalaman secara langsung, di situlah kita perlu berhenti sejenak dan bertanya: sebenarnya kita sedang menikmati momen atau sedang sibuk membuat konten tentang momen tersebut?
Media sosial membuat kebiasaan ini semakin terasa normal. Ketika melihat orang lain membagikan liburan, makanan, tempat nongkrong, atau kegiatan bersama teman, kita juga terdorong untuk melakukan hal yang sama. Ada perasaan bahwa sebuah pengalaman akan terasa lebih lengkap jika bisa dibagikan kepada orang lain.
Padahal, tidak semua pengalaman harus ditunjukkan kepada publik.
Menurut saya, salah satu masalahnya bukan terletak pada penggunaan media sosial, melainkan pada perhatian kita yang mulai terbagi. Ketika sedang menikmati pemandangan, misalnya, kita bisa saja menghabiskan beberapa menit untuk mencari sudut foto terbaik, mengatur pencahayaan, mengambil gambar berulang kali, lalu memilih foto yang paling bagus. Setelah itu, kita masih memikirkan caption dan siapa saja yang akan melihat unggahan tersebut.
Tanpa disadari, pengalaman yang seharusnya sederhana menjadi sebuah proses untuk menghasilkan konten.
Hal yang sama bisa terjadi ketika berkumpul bersama teman. Kita mungkin mengambil banyak foto sebagai kenangan, tetapi terkadang justru sibuk mengatur pose daripada menikmati obrolan. Padahal, beberapa tahun kemudian, bisa jadi yang paling kita rindukan bukan foto yang sempurna, melainkan percakapan sederhana dan tawa yang terjadi saat itu.
Bukan berarti kita harus berhenti memotret atau meninggalkan media sosial. Mengabadikan momen tetap penting, terutama untuk menyimpan kenangan yang suatu hari bisa kita lihat kembali. Namun, kita juga perlu memberikan batas agar kamera tidak mengambil alih pengalaman kita.
Salah satu cara sederhananya adalah menikmati momen terlebih dahulu, baru kemudian mengambil beberapa foto. Tidak perlu setiap kejadian direkam. Tidak perlu setiap makanan difoto. Tidak perlu setiap perjalanan menghasilkan unggahan.
Sesekali, kita bisa meletakkan ponsel dan membiarkan diri benar-benar hadir di tempat kita berada.
Menurut saya, kenangan yang berharga tidak selalu ditentukan oleh seberapa bagus fotonya atau seberapa banyak orang yang menyukai unggahannya. Ada pengalaman yang tetap berarti meskipun tidak pernah masuk Instagram atau TikTok.
Pada akhirnya, media sosial seharusnya menjadi tempat untuk berbagi pengalaman, bukan alasan bagi kita untuk kehilangan pengalaman itu sendiri.
Jadi, sesekali tidak apa-apa kalau sebuah momen hanya menjadi milik kita. Tidak semua hal yang indah harus diabadikan. Beberapa hal cukup dinikmati, dirasakan, lalu disimpan sebagai kenangan.
