Anak Kos: Antara Dompet Tipis dan Tawa yang Tebal

Mahasiswi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Nazwa Aulia Sutisna tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Oleh : Nazwa Aulia Sutisna

Kalau hidup adalah seni bertahan, maka anak kos adalah senimannya. Mereka bisa menyulap tiga ribu rupiah menjadi satu porsi makan siang, dan menyulap air galon terakhir jadi campuran sampo, sabun, dan dalam kondisi darurat air minum.
Hidup hemat ala anak kos bukan sekadar pilihan, tapi semacam ritual wajib yang berlangsung dari tanggal 1 sampai tanggal 30 dengan intensitas meningkat drastis di tanggal 25 ke atas. Saat itu, segala bentuk pengeluaran akan diproses lewat otak dengan sistem pertanyaan tiga tingkat: “Butuh nggak?”, “Penting nggak?”, dan yang paling menentukan, “Masih punya duit nggak?”
Strategi Bertahan: Dari Sembako ke Siasat
Menjadi anak kos otomatis menjadikan seseorang CEO (Chief Efficiency Officer) yang tahu cara mengatur keuangan seketat mungkin. Nasi padang dibagi dua kali makan? Sudah biasa. Sambal dikumpulkan untuk stok besok? Itu baru strategi kelas menengah.
Saya pernah lihat seorang teman kos masak air pakai setrika. Lain waktu, ada juga yang menjemur mie instan agar kriuk, katanya biar ngemil tanpa gas. Kreativitas anak kos memang tak berbatas, apalagi kalau urusannya perut.
Di podcast Makna Talks, Raditya Dika pernah bilang:
“Anak kos itu manusia yang paling inovatif, karena mereka dipaksa hidup layak dengan kondisi yang nggak layak.”
Dan benar saja. Mereka bisa tidur dengan tenang meski belum bayar listrik, karena tahu: masih ada tetangga kos yang bisa dimintai colokan.
Hidup Hemat Tapi Tetap Hidup
Hemat bukan berarti menyiksa. Anak kos tahu itu. Mereka tahu batas antara irit dan pelit. Meski uang pas-pasan, anak kos tetap bisa bersosialisasi. Nongkrong di warung kopi cukup pesan teh manis hangat, refill lima kali. Yang penting: hadir.
Saya ingat cerita dari podcast Do You See What I See, episode "Kehidupan Gelap Anak Kos", tentang seseorang yang jadi pengunjung tetap pengajian kampung karena ada konsumsi nasi kotak. Bukan soal agama, katanya. Tapi soal logistik.
Denny Caknan di acara Obrolan Malam Minggu TVRI pernah nyeletuk:
“Anak kos itu bukan nggak punya selera tinggi. Tapi seleranya disesuaikan sama saldo.”
Hidup hemat bukan soal tak punya keinginan, tapi soal pengelolaan. Anak kos punya impian besar, tapi dompetnya kecil. Maka jadilah mereka jago menahan lapar, tapi nggak menahan tawa.
Sisi Positif: Ilmu Bertahan Hidup
Meski kadang menyedihkan, hidup hemat ala anak kos justru membentuk karakter. Mereka belajar manajemen waktu, keuangan, dan hubungan sosial (dalam bentuk nebeng Wi-Fi, nebeng jemuran, sampai nebeng makan).
Setiap tantangan adalah peluang untuk berimprovisasi. Saat kompor rusak, mereka belajar teknik masak pakai lilin. Saat tanggal tua, mereka belajar teknik survival mode ala Discovery Channel.
Dan percayalah, jika seseorang bisa bertahan hidup sebulan penuh dengan uang Rp300 ribu, dia pasti bisa bertahan di dunia kerja, bahkan di dunia perpolitikan.
Penutup: Hemat Boleh, Asal Tetap Bahagia
Hidup hemat ala anak kos bukan soal menyesal, tapi soal bersiasat. Di balik mie instan dan kopi sachet, ada cerita tentang mimpi, perjuangan, dan solidaritas. Ada canda tawa yang mengiringi lilin darurat saat listrik mati. Ada pelajaran hidup yang tak diajarkan di kampus mana pun.
Jadi, buat kamu yang sedang hidup hemat di kamar sempit dengan kasur tipis dan galon kosong, jangan khawatir. Kelak, saat hidup membaik, kamu akan tersenyum dan bilang: “Gue pernah hidup kayak gitu. Dan gue bisa bertahan.”
Dan untuk sekarang, nikmatilah masa-masa ini. Karena kadang, tawa paling lepas datang dari perut yang paling lapar.
