Konten dari Pengguna

Anak Muda dan Tren Hustle Culture: Sibuk Tapi Gagal Bahagia?

Nazwa Aulia Sutisna

Nazwa Aulia Sutisna

Mahasiswi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nazwa Aulia Sutisna tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Oleh : Nazwa Aulia Sutisna

ilustrasi seorang remaja yang gagal bahagia akibat sangat terobsesi tren hustle culture, (sumber : foto pribadi.com)
zoom-in-whitePerbesar
ilustrasi seorang remaja yang gagal bahagia akibat sangat terobsesi tren hustle culture, (sumber : foto pribadi.com)

“Kerja keras biar kaya sebelum usia 30.”

Kalimat itu begitu sering kita temui di media sosial. Tak sedikit anak muda yang memulai hari pukul enam pagi dan baru bisa rehat tengah malam. Semua demi "produktif", demi "cuan", demi "kesuksesan".

Fenomena ini dikenal sebagai hustle culture, budaya kerja keras tanpa henti. Di permukaan, ini terlihat keren—penuh semangat, visioner, dan terobsesi akan pencapaian. Tapi di balik layar, banyak yang mulai kelelahan, kehilangan makna, bahkan kesehatan mentalnya terganggu.

Kerja Keras Itu Baik, Tapi Jangan Sampai Lupa Hidup

Tidak ada yang salah dengan kerja keras. Yang jadi masalah adalah ketika hidup hanya berisi kerja. Melewatkan waktu bersama keluarga, kehilangan hobi, bahkan tidak sempat istirahat—semua dianggap pengorbanan yang wajar demi “kesuksesan”.

Padahal, hidup bukan hanya soal gaji besar atau promosi cepat. Ada aspek lain yang tak kalah penting: kebahagiaan, ketenangan, dan kesehatan jiwa.

Media Sosial dan Tekanan Tak Terlihat

Salah satu pendorong utama hustle culture adalah media sosial. Di Instagram atau LinkedIn, kita mudah terpapar unggahan orang-orang yang sudah “sukses” di usia muda: punya bisnis sendiri, traveling ke luar negeri, atau investasi miliaran.

Tanpa sadar, kita membandingkan diri dengan standar hidup orang lain yang sebenarnya tidak sepenuhnya nyata. Kita merasa tertinggal, lalu memaksa diri untuk ikut lari, tanpa tahu arah yang dituju.

Lelah Bukan Berarti Gagal

Anak muda masa kini butuh ruang untuk berhenti sejenak. Mengambil napas. Mengevaluasi: apa benar yang dikejar itu kebahagiaan? Atau hanya validasi?

Berhenti sejenak bukan tanda menyerah. Menolak lembur bukan berarti malas. Tidur cukup bukan kelemahan. Itu semua adalah bentuk keberanian menjaga diri.

Menata Ulang Makna Sukses

Sukses tidak harus berarti punya rumah mewah sebelum usia 30. Sukses bisa berarti mampu menjaga kewarasan di tengah tekanan. Bisa tidur nyenyak tanpa cemas. Bisa menikmati makan malam tanpa terburu-buru membuka laptop.

Sudah saatnya kita menata ulang makna produktivitas. Bukan seberapa banyak pekerjaan yang bisa diselesaikan, tapi seberapa seimbang hidup yang kita jalani.