Dibalik Iklan Persuasif: Tradisi Sosiopsikologis Memengaruhi Keputusan Individu

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Pamulang
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Nazwa Deswinta tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kamu pastinya pernah melihat iklan produk dengan tulisan ‘Diskon 50%’, atau ‘Limited Edition’. Ternyata dibalik pemasaran tersebut terdapat strategi yang dibuat dengan prinsip psikologi yang disengaja. Dalam ilmu komunikasi, fenomena tersebut dijelaskan melalui tradisi sosiopsikologis, yang mengkaji bagaimana faktor mental dan sosial memengaruhi cara kita menerima pesan. Lalu, bagaimana iklan-iklan persuasif tersebut bekerja?
Tradisi Sosiospikologis dalam Komunikasi Pemasaran
Tradisi ini berasal dari psikologi sosial dan mengkaji bagaimana kita sebagai individu memproses informasi, beradaptasi dalam situasi komunikasi yang berbeda, serta bagaimana sikap, kepercayaan, dan perilaku komunikasi terbentuk dan berubah melalui interaksi sosial.
Menurut Robert T. Craig, tradisi sosiopsikologis dalam iklan berfokus pada tiga aspek, yaitu:
1. Proses kognitif, yaitu bagaimana kita mempersepsi, mengingat, dan menafsirkan sebuah pesan dalam iklan. Iklan yang ditampilkan menggunakan simbol dan narasi yang unik membentuk asosiasi mental pada sebuah merek, ataupun produk tertentu. Contohnya iklan dengan narasi ‘sudah tersebar diseluruh penjuru Indonesia’ membuat persepsi terhadap iklan produk tersebut.
2. Pengambilan keputusan, kita mengambil keputusan tidak hanya berdasarkan keputusan yang rasional, tetapi juga dipengaruhi oleh emosi ataupun tekanan sosial. Seperti contoh diatas, setelah terbentuk persepsi, kita akan mengambil keputusan dari iklan tersebut, apakah menarik untuk dibeli atau tidak.
3. Teknik persuasi, dimana pesan iklan dirancang secara terstruktur untuk mengubah sikap dan keyakinan kita. Teknik seperti social proof, scarcity principle (kelangkaan), dan authority endorsement atau dukungan publik figur sering digunakan dalam iklan.
Efek Strategi Tradisi Sosiopsikologis pada Perilaku Individu
Strategi promosi seperti diskon besar-besaran atau iklan yang menarik menimbulkan efek yang signifikan terhadap perilaku kita sebagai individu, dari sisi positif maupun negatif. Namun, dari kedua sisi, efek yang paling terlihat lebih ke sisi negatif.
1. Peningkatan impulsive buying, atau pembelian spontan. Efek dari iklan yang menarik dan promosi produk dengan harga murah membuat kita malah spontan berbelanja tanpa berpikir kembali kegunaan dari produk yang dibeli.
2. Kecanduan berbelanja. Hal ini memengaruhi sikap kita dalam berbelanja. Kita merasa berbelanja adalah keharusan, melihat adanya iklan menarik dan banyak orang yang berbelanja juga, memengaruhi mental, merasa FOMO atau tidak ingin ketinggalan.
3. Kekecewaan pasca belanja menjadi ujung dari efek penggunaan tradisi sosiopsikologis. Dengan pembelian yang spontan, kecanduan berbelanja tanpa memikirkan produk apa yang dibeli, dan berakhir menyesal karena produk tidak sesuai ekspektasi kita.
Solusi Agar Bisa Mengendalikan Diri Dari Iklan Persuasif
Tentunya setiap masalah pasti ada solusi. Berikut solusi terbaik bagi individu sebelum termakan oleh iklan menarik atau diskon besar.
1. Berbincang pada diri sendiri dapat mengendalikan tindakan kita. Sebelum belanja, tanya pada diri sendiri, apakah kita memerlukan produk tersebut atau tidak.
2. Cek fakta pada iklan yang ditampilkan, apakah narasi yang dipaparkan benar atau salah, karena tidak semua iklan memberikan informasi yang valid.
3. Gunakan Adblock untuk mengurangi munculnya iklan-iklan di sosial media. Namun, jika iklan ditempat, maka tinggalkan iklan tersebut dan menjauh.
Tradisi sosiopsikologis ini memang sering diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, terutama pada iklan-iklan untuk mempromosikan sesuatu. Hal ini sudah menjadi hal lumrah dan kadang sulit untuk terhindar dati hal tersebut. Maka dari itu, penting untuk mengendalikan diri dalam melihat hal yang bersifat persuasif dilingkungan sekitar kita.
