Konten dari Pengguna

Penghapusan Wisuda: Keputusan Kang Dedi Mulyadi dan Suara Masyarakat

Nazwa Dwi Ariyani

Nazwa Dwi Ariyani

Nama saya adalah Nazwa Dwi Ariyani, seorang mahasiswi aktif di Universitas Pamulang, jurusan Akuntansi.

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nazwa Dwi Ariyani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gambar hanyalah Ilustrasi. Foto: Nazwa Dwi Ariyani/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Gambar hanyalah Ilustrasi. Foto: Nazwa Dwi Ariyani/kumparan

Baru-baru ini, sebuah pernyataan dari Kang Dedi Mulyadi dalam siaran langsung di channel YouTube nya memantik perbincangan luas di masyarakat. Dengan nada tegas namun penuh pertimbangan, Kang Dedi menyampaikan bahwa wisuda dari jenjang TK hingga SMA sebaiknya ditiadakan. Menurutnya, tradisi ini telah melenceng dari esensi pendidikan dan justru menjadi beban finansial bagi banyak keluarga.

“Wisuda seharusnya untuk akhir sebuah fase besar, seperti kuliah. Bukan setiap jenjang. Apa manfaatnya bagi anak-anak kita di usia 5 tahun?” ujarnya.

Pernyataan ini tentu saja menimbulkan pro dan kontra. Sebagian masyarakat setuju dengan argumen Kang Dedi. Mereka merasa bahwa wisuda anak TK, SD, hingga SMA kini lebih banyak dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk meraup keuntungan. Biaya sewa gedung, toga, foto, hingga dekorasi bisa mencapai ratusan ribu hingga jutaan rupiah, sebuah angka yang tidak sedikit bagi keluarga dari kalangan bawah.

Namun, tidak semua setuju. Seorang ibu rumah tangga mengungkapkan dalam komentar, “Anak saya satu-satunya. Lihat dia pakai toga meski baru lulus TK itu membahagiakan saya sebagai orang tua. Bukan soal gengsi, tapi rasa bangga.” Suara serupa juga datang dari siswa yang merasa wisuda adalah simbol pencapaian dan motivasi untuk melangkah ke tahap selanjutnya.

Kang Dedi tidak menutup telinga. Ia mengakui bahwa wisuda bisa memiliki sisi emosional dan nilai kebanggaan. Tapi ia tetap mengajak masyarakat untuk melihat lebih dalam. Apakah perayaan ini benar-benar untuk anak, atau hanya menjadi beban sosial dan ekonomi yang tersembunyi?

Yang menarik, diskusi ini memunculkan berbagai perspektif tentang bagaimana kita memaknai pendidikan. Apakah pendidikan hanya soal pencapaian formal dan perayaan simbolik? Atau lebih kepada proses panjang membentuk karakter dan kemampuan?

Kebijakan ini bukan soal melarang senyum anak-anak di hari kelulusan. Tapi tentang keberanian mengevaluasi apa yang kita anggap “tradisi”. Dan Kang Dedi, dengan caranya yang khas, mengajak kita berpikir ulang, bukan untuk melarang kebahagiaan. Tapi untuk memastikan bahwa kebahagiaan itu tidak dibayar dengan pengorbanan yang tak perlu.