Dari Balik Meja Pelayanan, Saya Belajar Literasi Keuangan

Mahasiswa Program Studi Ekonomi, Keuangan, dan Perbankan, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Brawijaya. Tertarik pada isu ekonomi, bisnis, keuangan, dan literasi keuangan.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Nazwa Fadillah Ichsan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
"Mbak, kalau saya belum punya uang banyak, apa tetap bisa mulai investasi emas?"
Pertanyaan itu menjadi salah satu yang paling sering saya dengar selama menjalani program magang di PT Pegadaian. Awalnya saya mengira magang hanya akan diisi dengan pekerjaan administrasi dan pelayanan. Namun, di balik meja pelayanan, saya justru belajar banyak tentang pentingnya literasi keuangan dan bagaimana sebuah percakapan sederhana dapat mengubah cara pandang seseorang terhadap investasi.
Belakangan ini, investasi emas kembali menjadi pilihan banyak masyarakat. Di tengah ketidakpastian ekonomi, emas dikenal sebagai aset yang relatif stabil dan aman sehingga sering dipilih untuk menjaga nilai kekayaan dalam jangka panjang. Sayangnya, masih banyak orang yang menganggap investasi emas hanya bisa dilakukan jika memiliki dana besar.
Selama magang, saya membantu berbagai aktivitas operasional, mulai dari pengarsipan dokumen, administrasi, berpartisipasi dalam kegiatan Jumat Berbagi, hingga melayani kebutuhan nasabah. Dari seluruh pengalaman tersebut, kesempatan untuk menjelaskan salah satu produk Pegadaian yaitu Cicilan Emas Logam Mulia menjadi momen yang paling berkesan.
Setiap hari saya bertemu dengan nasabah yang memiliki latar belakang dan kebutuhan yang berbeda. Ada yang ingin mulai berinvestasi tetapi belum memahami mekanismenya, ada pula yang masih ragu karena menganggap membeli emas harus dilakukan secara tunai. Melalui produk Cicilan Emas Logam Mulia, saya menjelaskan bahwa masyarakat dapat memiliki emas secara bertahap sesuai kemampuan finansial masing-masing.
Pengalaman tersebut mengajarkan saya bahwa literasi keuangan bukan hanya tentang memahami produk keuangan, tetapi juga tentang bagaimana menyampaikan informasi dengan cara yang mudah dipahami. Saya belajar untuk lebih banyak mendengarkan sebelum menjelaskan. Ketika nasabah merasa didengar, mereka menjadi lebih terbuka untuk berdiskusi mengenai tujuan keuangan dan pilihan investasi yang sesuai dengan kebutuhannya.
Dari situlah saya menyadari bahwa kepercayaan merupakan fondasi utama dalam pelayanan. Komunikasi yang baik bukan bertujuan meyakinkan seseorang untuk membeli suatu produk, melainkan membantu mereka memahami informasi agar dapat mengambil keputusan secara sadar dan sesuai kebutuhan.
Salah satu pengalaman yang paling saya syukuri selama magang adalah berhasil melakukan closing produk Cicilan Emas Logam Mulia dengan total 15 gram. Pencapaian tersebut bukan sekadar angka penjualan. Bagi saya, itu menjadi bukti bahwa pelayanan yang baik, komunikasi yang jelas, dan edukasi yang tepat mampu membangun kepercayaan nasabah.
Pengalaman ini membuat saya memahami bahwa meningkatkan literasi keuangan tidak selalu harus dilakukan melalui seminar atau pelatihan besar. Edukasi juga bisa hadir dalam percakapan sehari-hari di meja pelayanan, ketika seseorang datang membawa pertanyaan sederhana dan pulang dengan pemahaman baru.
Pada akhirnya, magang di Pegadaian bukan hanya menjadi kesempatan untuk mengenal dunia kerja, tetapi juga mengajarkan saya bahwa setiap interaksi dengan masyarakat memiliki nilai pembelajaran. Dari balik meja pelayanan, saya belajar bahwa membantu seseorang memahami cara mengelola keuangan dan memulai investasi merupakan pengalaman yang sama berharganya dengan menyelesaikan pekerjaan itu sendiri.
