Konten dari Pengguna

Masa Depan Ketahanan Nasional di Tangan Gen Z dan Gen Alpha

Nazwa Fira Faradisa

Nazwa Fira Faradisa

Mahasiswa S1 Akuntansi Universitas Jember

·waktu baca 5 menit

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nazwa Fira Faradisa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di era ketika informasi berjalan lebih cepat daripada kesadaran manusia untuk mencerna dampaknya, generasi muda Indonesia: Gen Z dan Gen Alpha tumbuh dalam situasi yang paradoks. Mereka adalah generasi yang paling terdidik, paling melek teknologi, dan paling cepat dalam beradaptasi. Namun pada saat yang sama, mereka pula yang paling sering disorot karena penurunan karakter, ketidakstabilan emosi, dan keterputusan dari identitas kebangsaannya. Padahal, dua generasi ini adalah mereka yang akan memimpin Indonesia dalam 10-20 tahun ke depan.

Pertahanan suatu bangsa tidak lagi hanya ditentukan oleh kekuatan militer. Pertahanan modern membutuhkan warga negara yang berkarakter kuat, kritis, dan mampu beradaptasi. Di titik inilah, pendidikan karakter berbasis Pelajar Pancasila dan praktik bela negara menjadi relevan sebagai fondasi pertahanan bangsa.

Mungkin hal ini terdengar kuno di telinga sebagian orang. Tapi justru karena dunia saat ini bergerak terlalu cepat, nilai-nilai dasar seperti disiplin, tanggung jawab, gotong royong, dan kebhinekaan menjadi semakin penting, bukan semakin usang.

Generasi yang Cerdas, tetapi Rapuh?

Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai survei pendidikan, sosial media, serta penelitian karakter menunjukkan kecenderungan yang cukup mengkhawatirkan pada kalangan generasi muda seperti meningkatnya individualisme, menurunnya empati, degradasi sopan santun digital, hingga krisis ketangguhan.

Perubahan sosial yang cepat juga membuat generasi muda saat ini tumbuh dengan tekanan psikologis yang tidak kecil. FOMO, perbandingan sosial, cemas akan masa depan, hingga keresahan identitas, membuat sebagian anak muda kehilangan arah moral dan mental.

Kita bisa melihat fenomenanya setiap hari. Komentar pedas di media sosial yang dinormalisasi sebagai bentuk “kejujuran” dan praktik perundungan yang mengatasnamakan kebebasan berpendapat, padahal yang terjadi hanyalah hilangnya empati di ruang digital.

Saya juga melihat sendiri fenomenanya di lingkungan sekolah dan kampus: banyak siswa yang kritis dan cerdas, tapi mudah menyerah ketika diberi tugas berat. Ada yang aktif secara digital, tetapi canggung ketika diminta bekerja sama dalam tim. Ada pula yang hebat dalam berpendapat, tetapi kurang menghargai perbedaan. Ancaman terhadap keamanan dan ketahanan nasional kini bukan hanya berupa serangan fisik, melainkan juga perang ideologi, perang digital, serta konflik non-militer yang bersifat kompleks.

Menurut Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas), kesadaran bela negara di kalangan generasi muda di era digital “menunjukkan kecenderungan menurun atau memudar.”

Rendahnya nasionalisme praktis ditandai oleh fenomena kedaerahan berlebihan, intoleransi antar umat beragama, dan kurangnya apresiasi terhadap simbol negara seperti bendera dan lagu kebangsaan.

Kondisi ini menjadi alarm bahwa pertahanan negara tidak bisa hanya diukur dari kekuatan militer, melainkan dari kualitas karakter warga negaranya. Jika generasi muda kehilangan nilai-nilai kebangsaan, maka ketahanan nasional akan terancam dari dalam.

Bela Negara Bukan Perang Senjata, tapi Pembiasaan Karakter

Saya sendiri pernah menjadi bagian dari salah satu pelatihan bela negara di sekolah. Sebelum berangkat, saya memiliki ekspektasi yang klise: baris berbaris, yel-yel, dan sedikit materi wawasan kebangsaan. Tapi ternyata pengalaman itu jauh lebih kompleks.

Kegiatan Kader Bela Negara SMA Negeri Ambulu dengan Yon Armed 8 Uddhata Yudha - Kamis, 01 Februari 2024 (Dokumentasi Pribadi)

Kami diajak untuk memahami Pancasila bukan lewat slide yang membosankan, tetapi lewat aktivitas lapangan, simulasi, dan permainan kerja sama tim. Ada sesi di mana kami harus memecahkan masalah kelompok di tengah waktu yang sangat terbatas. Ada tugas fisik yang mengajarkan manajemen emosi. Ada diskusi yang menantang kami mempertanyakan posisi moral ketika dihadapkan pada konflik kepentingan.

Pengalaman sederhana ini membuat saya melihat bela negara sebagai pembentuk karakter, bukan sekadar aktivitas seremonial.

Mengapa Bela Negara Relevan untuk Penguatan Karakter Pelajar Pancasila?

Dalam kerangka Profil Pelajar Pancasila, terdapat enam dimensi karakter inti: beriman dan berakhlak mulia, berkebhinekaan global, gotong royong, mandiri, kreatif, dan bernalar kritis. Bela negara jika dirancang dengan baik akan mampu menjadi laboratorium nyata untuk membumikan nilai-nilai tersebut.

Dalam artikel Peran Pendidikan Pancasila dalam Membangun Karakter Bangsa pada Generasi Z (Jurnal Pendidikan Tambusai), penulis menyatakan bahwa di era digital dan globalisasi, generasi Z menghadapi tantangan menjaga identitas nasional. Pendidikan Pancasila dianggap “instrumen strategis” untuk memperkuat nasionalisme, toleransi, dan integritas.

Ketika siswa ikut pelatihan bela negara, mereka tidak hanya diajarkan wawasan kebangsaan, tetapi juga dilibatkan dalam kegiatan kolaboratif seperti simulasi krisis, diskusi pengambilan keputusan, hingga kerja sama tim. Ini bukan sekadar seremonial tapi melalui tantangan nyata, karakter seperti disiplin, ketangguhan mental, dan rasa tanggung jawab ditekan dan diuji.

Penelitian “Creating National Resilience through State Defence and Student Character” yang dilakukan di Gerakan Sekolah Belajar menemukan bahwa subjek state defence (pertahanan negara) di sekolah memiliki efek positif atau signifikan terhadap karakter siswa, dan karakter siswa itu sendiri berkontribusi pada ketahanan nasional.

Hal ini menunjukkan bahwa memasukkan pendidikan bela negara dalam kurikulum formal tidak hanya upaya untuk membentuk moral, tetapi juga bagian dari strategi nasional untuk memperkuat ketahanan ideologis dan sosial.

Bela Negara sebagai Strategi Masa Depan untuk Karakter dan Ketahanan Bangsa

Generasi muda Indonesia bukan hanya objek pembangunan, tetapi ujung tombak pertahanan bangsa. Di tangan merekalah ketahanan ideologi, ketahanan sosial, dan ketahanan digital akan ditentukan. Melalui pendidikan bela negara yang terstruktur, relevan, dan adaptif, kita bisa membentuk Pelajar Pancasila yang tidak hanya cerdas, tetapi tahan banting, kritis, kolaboratif, dan cinta tanah air.

Jika karakter generasi muda diperkuat, maka pertahanan negara tidak akan bergantung semata pada senjata, tetapi pada jiwa kolektif warga negara yang siap untuk menjaga bangsa. Dan di era penuh ancaman seperti sekarang, karakter adalah bentuk pertahanan terbaik yang dimiliki sebuah bangsa.