Konten dari Pengguna

Peran Gender yang Dianggap Wajar

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nazwa Khalidiyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi peran gender dalam rumah tangga. Sumber: Pexels
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi peran gender dalam rumah tangga. Sumber: Pexels

Pernahkah kita memperhatikan siapa yang biasanya diminta membantu menyiapkan makanan ketika ada acara keluarga? Atau siapa yang lebih sering diharapkan untuk mencari nafkah dan menjadi tumpuan keluarga? Hal-hal seperti ini mungkin terlihat biasa. Perempuan identik dengan memasak dan mengurus anak, sedangkan laki-laki dianggap bertanggung jawab memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. Namun, pernahkah kita bertanya mengapa peran-peran tersebut seolah sudah ditentukan berdasarkan jenis kelamin?

Dalam kehidupan sehari-hari, perempuan dan laki-laki sering tumbuh dengan harapan yang berbeda. Anak perempuan dapat dibiasakan membantu pekerjaan rumah sejak kecil, sedangkan anak laki-laki didorong untuk menjadi kuat dan mandiri. Ketika dewasa, perempuan sering diharapkan mampu mengurus keluarga, sementara laki-laki dituntut untuk mencari nafkah. Persoalannya bukan tentang boleh atau tidaknya perempuan mengurus rumah dan laki-laki mencari nafkah, melainkan mengapa peran-peran tersebut kerap dianggap sebagai kewajiban berdasarkan gender.

Peran Gender yang Dipelajari Sejak Kecil

Keluarga menjadi lingkungan pertama tempat seseorang mempelajari nilai dan kebiasaan sosial. Melalui proses sosialisasi, anak mulai memahami perilaku yang dianggap pantas bagi perempuan maupun laki-laki. Misalnya, anak perempuan lebih sering diminta membantu memasak atau membersihkan rumah, sementara anak laki-laki tidak mendapat tuntutan yang sama. Kebiasaan sehari-hari seperti ini dapat membentuk pemahaman bahwa perempuan dan laki-laki memiliki peran yang berbeda.

Kebiasaan tersebut tidak selalu muncul karena adanya niat untuk membedakan atau merugikan salah satu pihak. Orang tua mungkin hanya meneruskan pola asuh yang mereka kenal sejak kecil. Namun, ketika kebiasaan yang sama terus diwariskan dari generasi ke generasi, pembagian peran berdasarkan gender dapat dianggap sebagai sesuatu yang wajar dan tidak lagi dipertanyakan.

Di sinilah persoalan sosial mulai terlihat. Kebiasaan yang sudah berlangsung lama tidak berarti harus terus dilakukan dengan cara yang sama. Anak perempuan dan laki-laki sama-sama dapat belajar memasak, membersihkan rumah, merawat anggota keluarga, dan bertanggung jawab atas dirinya sendiri. Kemampuan tersebut seharusnya tidak dibatasi oleh anggapan mengenai pekerjaan yang dianggap cocok bagi gender tertentu.

Ketika Pekerjaan Rumah Dianggap sebagai Tanggung Jawab Perempuan

Salah satu contoh yang mudah ditemukan adalah pembagian pekerjaan rumah tangga. Dalam sebagian keluarga, perempuan tetap diharapkan mengurus rumah meskipun mereka juga bekerja atau sedang menempuh pendidikan. Setelah menyelesaikan aktivitas di luar rumah, mereka masih harus menyelesaikan berbagai pekerjaan rumah tangga yang belum selesai.

Pekerjaan rumah tangga bukanlah sesuatu yang merugikan. Memasak, membersihkan rumah, dan merawat anak merupakan bagian penting dalam kehidupan keluarga. Persoalan muncul ketika tanggung jawab tersebut lebih banyak dibebankan kepada perempuan, sementara anggota keluarga lainnya tidak ikut berkontribusi secara seimbang.

Akibatnya, perempuan dapat memiliki waktu istirahat yang lebih sedikit dan kesempatan yang lebih terbatas untuk mengembangkan diri. Dalam perspektif sosiologi, pembagian pekerjaan rumah tangga bukan sekadar persoalan kebiasaan keluarga, tetapi juga berkaitan dengan norma sosial yang membentuk anggapan tentang siapa yang seharusnya bertanggung jawab atas pekerjaan tertentu.

Pola tersebut dapat dikaitkan dengan patriarki, yaitu sistem sosial yang menempatkan laki-laki pada posisi dominan dalam relasi kuasa dan berbagai aspek kehidupan. Namun, bukan berarti semua keluarga memiliki pola yang sama atau setiap laki-laki selalu diuntungkan. Pembagian peran dalam keluarga tetap perlu dipahami berdasarkan kondisi dan praktik yang benar-benar terjadi.

Laki-Laki Juga Dituntut untuk Selalu Kuat

Jika perempuan sering dihadapkan pada tuntutan untuk mengurus keluarga, laki-laki juga menghadapi harapan sosial mengenai bagaimana mereka seharusnya bersikap. Laki-laki diharapkan untuk selalu kuat, tidak mudah menangis, mampu menyelesaikan masalah sendiri, dan memiliki penghasilan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Harapan tersebut berkaitan dengan maskulinitas, yaitu pandangan masyarakat mengenai sifat dan perilaku yang dianggap mencerminkan sosok laki-laki. Laki-laki ideal sering digambarkan sebagai sosok yang tegas, tangguh, mandiri, dan tidak menunjukkan kelemahan. Akibatnya, laki-laki yang tidak sesuai dengan gambaran tersebut terkadang dianggap kurang jantan atau dipandang sebelah mata.

R. W. Connell dan James W. Messerschmidt (2005), melalui konsep hegemonic masculinity, menjelaskan bahwa terdapat bentuk maskulinitas tertentu yang lebih dominan dan dianggap lebih ideal dibandingkan bentuk lainnya. Artinya, masyarakat tidak selalu menghargai semua cara laki-laki mengekspresikan dirinya secara setara. Misalnya, laki-laki yang terbuka dalam menunjukkan emosi dapat menghadapi penilaian negatif ketika lingkungannya menganggap bahwa laki-laki harus selalu terlihat kuat.

Tuntutan untuk menjadi pencari nafkah utama juga dapat menimbulkan tekanan, terutama ketika kondisi ekonomi membuat laki-laki kesulitan memenuhi harapan tersebut. Dalam situasi ini, keberhasilan dan harga diri laki-laki dapat dikaitkan dengan kemampuannya memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga.

Meski demikian, tekanan yang dialami laki-laki tidak serta-merta sama dengan ketimpangan yang dihadapi perempuan. Keduanya memiliki bentuk dan dampak yang perlu dipahami secara spesifik. Perempuan dapat menghadapi beban pekerjaan rumah tangga yang tidak seimbang, sedangkan laki-laki dapat mengalami tekanan untuk memenuhi standar maskulinitas. Memahami pengalaman salah satu pihak bukan berarti mengabaikan pengalaman pihak lainnya.

Siapa yang Diuntungkan oleh Norma Gender?

Jika perempuan dan laki-laki sama-sama menghadapi tuntutan sosial, apakah berarti keduanya selalu berada dalam posisi yang setara? Belum tentu.

Hal yang perlu diperhatikan adalah bagaimana norma gender membagi tanggung jawab, kesempatan, dan kebebasan secara tidak seimbang. Ketika perempuan dianggap paling bertanggung jawab atas pekerjaan rumah, anggota keluarga lainnya dapat memiliki lebih banyak waktu luang. Sementara itu, ketika laki-laki dituntut menjadi pencari nafkah utama, mereka dapat merasa harus terus memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga, meskipun sebenarnya ingin berbagi tanggung jawab tersebut dengan pasangan.

Dengan demikian, norma gender dapat menimbulkan beban yang berbeda bagi setiap orang. Ada pihak yang memperoleh lebih banyak kemudahan dari pembagian peran tertentu, sementara pihak lain harus menanggung tanggung jawab yang lebih besar. Dampaknya juga beragam, bergantung pada kondisi ekonomi keluarga, lingkungan sosial, kesempatan pendidikan, dan kesepakatan antaranggota keluarga.

Oleh karena itu, pembahasan mengenai patriarki sebaiknya tidak hanya berfokus pada menyalahkan laki-laki sebagai individu. Laki-laki tidak selalu menjadi pihak yang menciptakan norma yang mereka jalani, sebagaimana perempuan juga dapat ikut mempertahankan kebiasaan yang telah lama dianggap wajar. Namun, hal ini bukan berarti ketimpangan dapat diabaikan. Sebaliknya, kita perlu memahami bagaimana norma tersebut terus bertahan, bagaimana norma itu memengaruhi kehidupan sehari-hari, dan siapa yang paling banyak menanggung dampaknya.

Membagi Peran Tanpa Membatasi Pilihan

Membahas patriarki dan maskulinitas bukan berarti menuntut perempuan dan laki-laki menjalani kehidupan yang sama persis. Setiap keluarga memiliki kebutuhan dan kesepakatan yang berbeda. Ada perempuan yang memilih fokus mengurus rumah, ada laki-laki yang menjadi pencari nafkah utama, dan ada pula keluarga yang membagi kedua tanggung jawab tersebut.

Hal yang perlu dipertanyakan adalah apakah pembagian peran tersebut benar-benar didasarkan pada kesepakatan atau justru muncul karena seseorang merasa tidak memiliki pilihan lain akibat tuntutan gender. Perempuan tidak seharusnya otomatis dianggap bertanggung jawab atas pekerjaan rumah hanya karena ia perempuan. Begitu pula laki-laki tidak seharusnya dianggap gagal hanya karena tidak memenuhi gambaran ideal sebagai pencari nafkah.

Pada akhirnya, persoalan norma gender bukan sekadar tentang siapa yang lebih dirugikan atau paling banyak berkorban. Persoalan utamanya adalah bagaimana kebiasaan sosial membentuk harapan terhadap perempuan dan laki-laki hingga harapan tersebut dianggap sebagai kewajiban yang harus dipenuhi.

Karena itu, sudah saatnya kita mempertanyakan anggapan bahwa mengurus rumah merupakan kodrat perempuan atau bahwa laki-laki yang kuat tidak boleh menunjukkan emosi. Keluarga dan masyarakat seharusnya menjadi tempat setiap orang belajar bertanggung jawab dan mengembangkan diri, bukan membatasi mereka dengan peran yang ditentukan berdasarkan gender sebelum mereka memiliki kesempatan untuk memilih.