Konten dari Pengguna

Kenapa Mahasiswa Sering Screenshot Materi tapi Jarang Membukanya Lagi?

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nazwa Maulidya Darmadi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi mahasiswa mengakses materi kuliah melalui ponsel. Foto: RDNE Stock project/Pexels.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi mahasiswa mengakses materi kuliah melalui ponsel. Foto: RDNE Stock project/Pexels.

Coba buka galeri ponsel dan cari screenshot yang sudah lama tersimpan. Mungkin ada foto jadwal kuliah, pengumuman dari dosen, materi presentasi, catatan teman, sampai screenshot materi kuliah yang pernah dianggap penting.

Awalnya semua screenshot tersebut dibuat dengan tujuan yang jelas. Ada yang ingin dibaca nanti, disimpan untuk mengingat tugas, atau sekadar berjaga-jaga kalau informasi tersebut diperlukan lagi. Sayangnya, kata “nanti” terkadang berlangsung cukup lama.

Screenshot yang awalnya dianggap penting akhirnya hanya menjadi salah satu dari banyak gambar yang memenuhi galeri. Ketika suatu saat ingin mencarinya kembali, justru muncul masalah baru. Harus menggulir banyak foto hanya untuk menemukan satu gambar yang dibutuhkan.

Kebiasaan seperti ini cukup dekat dengan kehidupan mahasiswa. Hampir setiap hari ada informasi baru yang masuk melalui grup kelas, platform pembelajaran, media sosial, atau percakapan pribadi. Screenshot menjadi salah satu cara paling cepat untuk menyimpan informasi tersebut.

Screenshot Memang Cara yang Praktis

Tidak heran jika mahasiswa sering menggunakan screenshot untuk menyimpan informasi. Dibandingkan harus menyalin seluruh isi pesan atau mengetik ulang materi, menekan tombol screenshot hanya membutuhkan waktu beberapa detik.

Misalnya dosen mengirimkan pengumuman mengenai perubahan jadwal kuliah. Daripada harus mencari pesan tersebut lagi ketika mendekati hari perkuliahan, mahasiswa bisa langsung mengambil screenshot dan menyimpannya di galeri.

Hal yang sama berlaku untuk materi kuliah. Ketika ada slide yang dianggap penting, mahasiswa dapat menyimpannya dengan cepat tanpa harus membuka kembali file presentasi.

Cara tersebut memang praktis. Masalahnya muncul ketika screenshot yang disimpan semakin banyak.

Satu hari mungkin hanya ada dua atau tiga screenshot. Dalam seminggu jumlahnya bisa bertambah puluhan. Setelah beberapa bulan, galeri ponsel akhirnya dipenuhi berbagai gambar yang berasal dari kegiatan kuliah.

Ada Niat untuk Membacanya Nanti

Salah satu alasan screenshot jarang dibuka kembali adalah adanya anggapan bahwa informasi tersebut masih bisa dilihat kapan saja.

Ketika sedang terburu-buru, mahasiswa mungkin berpikir bahwa materi tersebut akan dibaca setelah sampai rumah. Saat sudah sampai rumah, ada tugas lain yang harus dikerjakan. Besoknya ada kegiatan kuliah lagi. Akhirnya screenshot tersebut terlupakan.

Hal ini berbeda dengan informasi yang memang harus segera digunakan. Misalnya ada soal yang harus dikerjakan malam itu. Screenshot kemungkinan besar langsung dibuka kembali karena memang dibutuhkan.

Sementara informasi yang tidak memiliki batas waktu jelas lebih mudah ditunda.

Kalimat “nanti aku baca” terdengar sederhana. Namun ketika ada banyak informasi lain yang masuk, screenshot lama semakin mudah terlupakan.

Screenshot Bisa Menjadi Arsip yang Tidak Teratur

Masalah lain muncul ketika screenshot sudah terlalu banyak tetapi tidak memiliki pengelompokan.

Bayangkan ada screenshot materi untuk lima mata kuliah yang tersimpan di galeri yang sama. Ditambah screenshot jadwal, tugas, pengumuman, percakapan grup, dan berbagai gambar lainnya.

Ketika membutuhkan satu materi tertentu, mahasiswa harus mengingat kira-kira kapan screenshot tersebut dibuat. Setelah itu baru mulai menggulir galeri sambil berharap menemukan gambar yang dicari.

Kalau tidak ketemu, pencarian bisa berubah menjadi kegiatan membuka satu per satu gambar.

Situasi tersebut membuat screenshot yang seharusnya membantu justru menjadi sulit digunakan. Informasinya memang masih tersimpan, tetapi menemukan kembali informasi tersebut membutuhkan waktu.

Tidak Semua Screenshot Harus Disimpan

Kebiasaan mengambil screenshot bukan berarti sesuatu yang buruk. Yang perlu diperhatikan adalah informasi apa yang memang perlu disimpan.

Tidak semua pesan di grup kelas harus dijadikan screenshot. Jika sebuah informasi hanya bersifat sementara dan tidak akan dibutuhkan lagi, menyimpannya mungkin tidak terlalu diperlukan.

Mahasiswa bisa mempertimbangkan beberapa hal sebelum menekan tombol screenshot.

Apakah informasi ini akan dibutuhkan lagi? Apakah informasinya sulit ditemukan kembali? Apakah ada file atau dokumen asli yang bisa disimpan sebagai gantinya?

Jika jawabannya tidak, mungkin informasi tersebut tidak perlu memenuhi galeri ponsel.

Cara sederhana ini bisa mengurangi jumlah screenshot yang tidak terpakai.

Materi Kuliah Lebih Baik Disimpan di Tempat yang Sesuai

Untuk materi kuliah yang memang akan digunakan berkali-kali, menyimpan file aslinya biasanya lebih praktis daripada mengambil screenshot setiap halaman.

Misalnya dosen memberikan file PDF atau PowerPoint. File tersebut bisa disimpan dalam folder khusus berdasarkan mata kuliah.

Dengan cara ini, mahasiswa tidak perlu mencari materi melalui galeri. Ketika membutuhkan materi tertentu, cukup membuka folder mata kuliah yang sesuai.

Screenshot tetap bisa digunakan untuk informasi tertentu yang memang lebih cepat disimpan dalam bentuk gambar. Misalnya satu halaman materi, tabel, jadwal, atau pengumuman singkat.

Jadi, screenshot tidak harus menjadi tempat penyimpanan semua informasi.

Screenshot Pengumuman Sering Terasa Penting

Ada satu jenis screenshot yang mungkin paling sering ditemukan di galeri mahasiswa, yaitu screenshot pengumuman.

Mulai dari perubahan jadwal, informasi tugas, pembagian kelompok, batas pengumpulan, sampai pesan dari dosen.

Pengumuman memang sering perlu disimpan karena bisa dibutuhkan kembali. Namun ketika informasi tersebut sudah tidak berlaku, screenshot sebenarnya sudah tidak memiliki fungsi yang sama.

Contohnya screenshot jadwal presentasi yang sudah selesai beberapa minggu lalu. Jika masih tersimpan bersama screenshot yang lebih baru, gambar tersebut hanya membuat pencarian informasi menjadi lebih panjang.

Membersihkan screenshot lama sesekali bisa menjadi cara sederhana untuk membuat galeri lebih teratur.

Bagaimana Kalau Screenshot Memang Banyak?

Tidak perlu menghapus semua screenshot sekaligus. Justru lebih baik memilahnya sedikit demi sedikit.

Mahasiswa bisa membuat album khusus di galeri seperti “Kuliah”, “Tugas”, atau nama mata kuliah tertentu. Screenshot yang masih diperlukan dapat dipindahkan ke album tersebut.

Cara lain adalah menggunakan folder pada penyimpanan ponsel atau layanan penyimpanan digital. Materi yang penting bisa dipisahkan berdasarkan mata kuliah sehingga lebih mudah ditemukan.

Tidak perlu membuat terlalu banyak folder. Terlalu banyak kategori justru bisa membuat penyimpanan terasa rumit.

Yang terpenting adalah membuat pola yang mudah diingat.

Kebiasaan Kecil Bisa Menghemat Waktu

Mengatur screenshot mungkin terlihat seperti hal kecil. Tidak ada nilai tambahan dari dosen hanya karena galeri ponsel terlihat rapi. Namun kebiasaan tersebut dapat membantu ketika mahasiswa membutuhkan informasi dengan cepat.

Bayangkan dosen tiba-tiba menanyakan kembali materi yang dikirim beberapa minggu sebelumnya. Jika informasi tersebut tersimpan dengan rapi, mahasiswa tidak perlu menghabiskan waktu untuk mencari di antara ratusan gambar.

Begitu juga ketika ada tugas yang membutuhkan materi lama. File yang sudah dikelompokkan akan lebih mudah ditemukan dibandingkan screenshot yang bercampur dengan foto pribadi dan gambar lainnya.

Waktu yang biasanya digunakan untuk mencari informasi bisa dialihkan untuk mengerjakan hal yang lebih penting.

Screenshot Bukan Masalahnya

Pada akhirnya, mengambil screenshot bukan kebiasaan yang perlu dihindari. Fitur tersebut justru sangat membantu dalam kegiatan perkuliahan.

Masalahnya adalah ketika semua informasi dianggap perlu disimpan tanpa pernah diperiksa kembali.

Screenshot bisa menjadi pengingat yang berguna ketika digunakan dengan tepat. Sebaliknya, screenshot yang terlalu banyak tanpa pengelolaan dapat membuat informasi penting justru sulit ditemukan.

Mahasiswa tidak harus berhenti mengambil screenshot. Cukup mulai membedakan mana informasi yang memang perlu disimpan dan mana yang hanya dibutuhkan untuk sementara.

Sesekali luangkan waktu untuk melihat kembali galeri. Hapus screenshot yang sudah tidak diperlukan dan pindahkan informasi yang masih berguna ke tempat yang lebih sesuai.

Mungkin terlihat sepele. Tetapi ketika tugas datang dan materi lama harus ditemukan dalam waktu singkat, kebiasaan sederhana tersebut bisa terasa cukup membantu.

Jadi, kalau galeri ponsel penuh dengan screenshot materi kuliah yang belum pernah dibuka lagi, mungkin masalahnya bukan karena terlalu sering mengambil screenshot. Bisa jadi kita hanya terlalu sering mengatakan, “Nanti aku baca.”