Sulit Berkata "Tidak"? Kenali The Good Kid Curse dan People Pleaser

Psychology Student at UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Nazwa Salsabila tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

“Nggak apa-apa kok, biar bagian itu aku yang kerjain sekalian.”
"Aku nggak setuju sih... tapi ya udah, ikut keputusan kalian aja."
"Nggak apa-apa, aku aja."
"Terserah kamu."
"Yang penting semua orang senang."
Kalimat-kalimat seperti itu sering diucapkan oleh seseorang yang memiliki kecenderungan people pleaser—orang yang selalu ingin menyenangkan orang lain, bahkan jika harus mengorbankan keinginan dan kebutuhannya sendiri. Bagi sebagian orang, ucapan tersebut sudah berada di ujung lidah, bahkan sebelum sempat bertanya pada diri sendiri apakah itu benar-benar yang mereka inginkan.
Mira adalah salah satunya. Ia dikenal sebagai "anak baik" yang tidak pernah merepotkan siapa pun. Guru menyukainya, teman-temannya selalu mengandalkannya, dan orang tuanya bangga padanya. Namun, dua puluh tahun kemudian, ia duduk di ruang praktik seorang terapis sambil mencoba menjawab pertanyaan yang belum pernah benar-benar ia pikirkan sebelumnya: "Apa sebenarnya yang aku inginkan?"
Selama bertahun-tahun, Mira membangun karier yang sebenarnya bukan pilihannya, mempertahankan pertemanan yang menguras energinya, dan terus meminta maaf atas hal-hal yang bahkan bukan kesalahannya. Tanpa disadari, keinginannya untuk selalu menyenangkan orang lain membuatnya kehilangan kemampuan mengenali kebutuhan, batasan, dan jati dirinya sendiri. Di balik label "anak baik", ia perlahan kehilangan sesuatu yang paling berharga: dirinya sendiri.
Kisah Mira bukan pengecualian. Di banyak keluarga Indonesia, kepatuhan dipandang sebagai karakter terbaik yang bisa dimiliki seorang anak. Tapi psikologi mulai menyoroti bahwa kepatuhan yang dibangun tanpa ruang untuk berpendapat atau berkembang dapat membawa konsekuensi jangka panjang — fenomena yang kini dikenal sebagai good kid curse: ketika "menjadi baik" justru perlahan merampas jati diri seseorang.
Lalu, dari mana kebiasaan itu bermula? Salah satu jawabannya dapat ditemukan dalam pola asuh. Diana Baumrind (1967) menjelaskan bahwa pola asuh otoriter menempatkan kepatuhan sebagai nilai utama. Anak dihargai ketika menurut, tetapi perbedaan pendapat sering kali dianggap sebagai bentuk pembangkangan. Perlahan, anak belajar bahwa menjadi "anak baik" berarti tidak membantah, tidak merepotkan, dan selalu memenuhi harapan orang lain. Demi mempertahankan penerimaan tersebut, mereka mulai menahan rasa marah, kecewa, atau ketidaksetujuan. Tanpa disadari, kepatuhan yang terus-menerus dipelajari dapat membuat anak semakin sulit mengenali kebutuhan dan menyuarakan pendapatnya sendiri.
Namun, persoalannya bukan sekadar anak menjadi penurut. Carl Rogers (1959) menjelaskan bahwa setiap anak memiliki kebutuhan mendasar untuk dicintai dan diterima. Ketika kasih sayang hanya diberikan saat anak bersikap sesuai harapan orang tua, ia mulai percaya bahwa dirinya akan diterima hanya jika mampu menyenangkan orang lain. Akibatnya, suara hati sendiri perlahan tergantikan oleh kebutuhan untuk mencari persetujuan dari luar. Bukan lagi bertanya, "Apa yang sebenarnya aku inginkan?", melainkan, "Apa yang harus kulakukan agar orang lain tetap menerimaku?"
Tentu saja, kepatuhan tidak selalu membawa dampak negatif. Anak tetap perlu belajar menghormati aturan dan menghargai orang lain. Namun, berbagai penelitian, termasuk Xiao dkk. (2021), menunjukkan bahwa ketika kepatuhan dibangun melalui penerimaan yang bersyarat, kontrol yang berlebihan, atau pengabaian terhadap kebutuhan emosional anak, dampaknya dapat terbawa hingga dewasa. Individu menjadi lebih rentan mengalami kesulitan membangun konsep diri, menjalin hubungan yang sehat, serta menjaga kesejahteraan psikologisnya.
Masa kecil mungkin telah berlalu, tetapi pola yang terbentuk di dalamnya tidak selalu ikut menghilang. Dampaknya sering kali baru muncul ketika seseorang memasuki usia dewasa. ElBarazi dkk. (2024) menemukan bahwa rendahnya asertivitas berkaitan dengan tingkat stres, kecemasan, dan depresi yang lebih tinggi. Individu dengan asertivitas rendah juga lebih sulit mengekspresikan kebutuhan dan menghadapi konflik interpersonal secara sehat. Dalam kehidupan sehari-hari, pola ini hadir dalam bentuk yang mungkin terasa sangat familiar:
Sulit mengatakan "tidak". Mereka merasa bersalah ketika menolak permintaan orang lain, meskipun sedang kelelahan atau memiliki prioritas lain.
Terbiasa mengutamakan kebutuhan orang lain. Keputusan sering diambil berdasarkan harapan lingkungan, bukan keinginan pribadi.
Meminta maaf secara berlebihan. Ungkapan seperti "Maaf ya, jadi ngerepotin" atau "Maaf kalau aku salah" menjadi respons otomatis, bahkan ketika mereka tidak melakukan kesalahan apapun.
Kesulitan mengenali diri sendiri. Mereka mampu memahami apa yang diinginkan orang lain, tetapi sering kali bingung menjawab pertanyaan sesederhana: "Apa yang sebenarnya aku inginkan?"
Rentan mengalami kelelahan emosional (burnout). Terus-menerus mengorbankan kebutuhan pribadi demi mempertahankan penerimaan dari orang lain dapat berdampak serius pada kesejahteraan psikologis jangka panjang.
Di balik kebiasaan untuk selalu menyenangkan orang lain, terdapat kebutuhan yang selama ini terabaikan, yaitu kebutuhan untuk didengar oleh diri sendiri. Menjadi anak yang patuh bukanlah sebuah kesalahan. Namun, ketika kepatuhan mengharuskan seseorang mengabaikan suara, kebutuhan, dan batasan dirinya, yang hilang bukan hanya keberanian untuk berkata "tidak", melainkan juga kesempatan untuk tumbuh sebagai diri sendiri.
Seiring meningkatnya kesadaran generasi muda terhadap pentingnya kesehatan mental, asertivitas, dan personal boundaries, cara pandang terhadap makna "anak baik" mulai berubah. Semakin banyak anak muda menyadari bahwa menghormati orang tua, guru, atau orang lain tidak harus diwujudkan dengan selalu mengiyakan setiap permintaan atau mengorbankan kebutuhan diri sendiri. Kepatuhan tetap memiliki nilai yang penting, tetapi akan lebih bermakna jika berjalan berdampingan dengan kemampuan untuk menyampaikan pendapat, menetapkan batasan, dan menghargai diri sendiri. Barangkali, sudah saatnya makna "anak baik" tidak lagi diukur dari seberapa sering seseorang berkata "iya", melainkan dari kemampuannya menghormati orang lain tanpa kehilangan jati dirinya.
Untungnya, asertivitas bukan sifat bawaan yang menetap seumur hidup. Ia adalah keterampilan yang bisa dipelajari kembali, berapa pun usia seseorang saat ini. Speed, Goldstein, dan Goldfried (2018), setelah merangkum puluhan penelitian sejak tahun 1970-an, menemukan bahwa pelatihan asertivitas secara konsisten terbukti membantu mengurangi kecemasan, depresi, dan rendahnya rasa percaya diri, serta memperbaiki kualitas hubungan dengan orang lain — yaitu dampak-dampak yang justru sering muncul akibat kebiasaan terlalu patuh sejak kecil.
Secara umum, pelatihan ini berjalan melalui dua langkah sederhana:
Menata ulang cara berpikir. Banyak orang percaya bahwa berkata "tidak" akan otomatis membuat orang lain marah atau kecewa. Padahal, anggapan ini sering tidak sesuai dengan kenyataan. Penolakan yang disampaikan dengan jujur dan sopan justru lebih dihargai daripada memaksakan diri demi menyenangkan semua orang. Dengan mengubah cara pandang tersebut, seseorang dapat membangun pola pikir yang lebih sehat terhadap diri sendiri maupun hubungannya dengan orang lain.
Membiasakan komunikasi yang lebih langsung. Kemampuan untuk menyampaikan kebutuhan dan batasan diri dapat dilatih melalui kalimat yang jelas dan jujur. Misalnya, mengatakan, "Aku belum bisa membantu untuk ini sekarang," alih-alih langsung menjawab "iya" atau meminta maaf tanpa alasan. Semakin sering dilakukan, kebiasaan ini dapat membantu seseorang membangun komunikasi yang lebih asertif, baik secara mandiri maupun dengan pendampingan profesional.
Salah satu kisah nyata yang dikutip dalam jurnal tersebut menggambarkan hal ini dengan jelas. Seorang klien menceritakan bagaimana ia dulu selalu mengatakan "ya", meskipun di dalam hati ia ingin menolak, karena baginya menjadi orang baik berarti harus selalu menyetujui permintaan orang lain. Setelah menjalani proses melatih asertivitas selama kurang lebih satu tahun, ia merasa lebih percaya diri di lingkungan kerja dan berhasil membangun batasan yang lebih sehat dengan orang tuanya sendiri. Ia menyebut proses ini belum selesai sepenuhnya, tetapi terasa jauh lebih ringan untuk dijalani.
Penting untuk dipahami bahwa menjadi asertif bukan berarti mengabaikan kebutuhan orang lain. Asertivitas justru menempatkan kebutuhan diri sendiri dan orang lain dalam posisi yang setara—menyampaikan apa yang dibutuhkan tanpa harus mengorbankan diri sendiri maupun merugikan orang lain. Dengan demikian, jalan keluar dari good kid curse bukanlah berhenti menjadi orang baik, melainkan belajar bahwa kepatuhan tidak harus dibayar dengan hilangnya suara dan jati diri. Bagi Mira, perjalanan itu mungkin dimulai dari satu pertanyaan sederhana yang dulu sulit ia jawab: "Apa yang sebenarnya aku inginkan?" Pertanyaan yang sama mungkin juga sedang dicari jawabannya oleh banyak orang. Prosesnya tentu tidak mudah. Rasa bersalah ketika menolak permintaan orang lain atau memilih diri sendiri mungkin masih akan muncul. Namun, perlahan Mira mulai memahami bahwa menghargai diri sendiri bukanlah bentuk pembangkangan, melainkan bagian dari bertumbuh. Pada akhirnya, menjadi "anak baik" bukan lagi tentang seberapa sering seseorang berkata "iya", tetapi tentang keberanian untuk tetap menghormati orang lain tanpa kehilangan suara, kebutuhan, dan jati dirinya sendiri.
