Gema September Hitam

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Sebelas Maret (UNS)
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Nabila Fauzia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Selama masih ada yang hilang, September akan tetap hitam.

Langkah kakiku terhenti tepat di Boulevard UNS, area strategis depan kampus Universitas Sebelas Maret (UNS). Di seberang jalan raya yang ramai lalu lalang kendaraan, deretan poster dan seruan aksi membentang. Saya berdiri di antara kerumunan massa yang hadir untuk merawat ingatan kolektif melalui aksi simbolik bertajuk September Hitam. Kegiatan ini diinisiasi oleh Kementerian Kajian dan Aksi Strategis (Kaspro) Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Hukum (BEM FH) UNS, yang kemudian juga berkolaborasi dengan Kementerian AKSPRO BEM UNS dan juga kementerian pergerakan BEM fakultas lainnya.
Aksi panggung dan orasi yang digelar bukan sekadar agenda tahunan tanpa arti. Melalui panggung ini, seluruh partisipan melayangkan tuntutan atas rentetan peristiwa kelam sejarah yang terjadi di bulan September—mulai dari Tragedi 1965, peristiwa Tanjung Priok 1984, hilangnya Wiji Thukul pada 1998, Tragedi Semanggi II 1999, pembunuhan Munir pada 2004, hingga korban ketidakadilan seperti Andre Yunus dan Affan Kurniawan. Bagi saya sebagai mahasiswa, merawat ingatan ini adalah fondasi moral agar sejarah kelam tidak berulang dan kebuntuan hukum serta praktik impunitas yang selama ini membelenggu penyelesaian kasus HAM dapat terus dikawal hingga tuntas.
Sebagai sebuah ulasan kegiatan, September Hitam berhasil menghadirkan ruang refleksi yang menyentuh nurani. Keunggulan utama dari aksi ini terletak pada pemilihan lokasi di gerbang depan kampus yang berseberangan langsung dengan jalan utama, sehingga pesan-pesan keadilan mampu menjangkau khalayak umum dengan sangat efektif. Susunan acara yang dikemas secara sistematis dan partisipatif dari awal hingga akhir juga memicu antusiasme tinggi dari para peserta. Kendati demikian, perjuangan tidak berhenti ketika panggung aksi dibubarkan. Menjaga konsistensi gerakan pascakegiatan menjadi kunci utama agar ikhtiar ini bertransformasi menjadi pengawalan isu yang berkelanjutan.
Aksi September Hitam ini sangat penting diikuti oleh seluruh elemen generasi muda dan masyarakat umum yang peduli terhadap penegakan hak asasi manusia. Selama keadilan belum menemukan titik terang, ingatan ini harus terus kita jaga bersama.
