Hello Tere Liye: Ketika Masa Lalu Menolak untuk Benar-Benar Usai

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Sebelas Maret (UNS)
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Nabila Fauzia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Terkadang, sebuah rumah bukan hanya tentang bangunan, tetapi juga tentang kenangan, perasaan, dan cerita yang tertinggal di dalamnya.
Ana, seorang arsitek muda, mendapat tugas untuk merenovasi sebuah hunian tua peninggalan keluarga pejabat era Orde Baru. Sebelum merancang konsep renovasi pada bangunan tersebut, Ana perlu mengenali sejarah dan cerita yang melekat di dalamnya. Ia kemudian menemui Hesty, sang pemilik rumah, untuk menggali cerita tentang hunian tersebut sekaligus menentukan bagian mana yang perlu diperbarui, dipertahankan, atau dilepaskan.
Ketika menyusuri setiap sudut rumah bersama Hesty, Ana seperti diajak melihat kembali berbagai kenangan yang pernah terjadi di dalamnya. Rumah tua itu menyimpan banyak cerita, mulai dari kehangatan keluarga, ketegangan akibat didikan keras sang ayah, hingga kisah manis dan pahit perjalanan Hesty bersama Tigor.
Tigor adalah anak dari asisten rumah tangga yang lahir pada hari yang sama dengan Hesty. Meski waktu lahir mereka hanya berselisih menit, takdir garis hidup keduanya sangat bertolak belakang. Hesty tumbuh dalam gelimang kemewahan dan pengaruh keluarga terpandang, sedangkan Tigor hidup dalam kesederhanaan. Namun, sekat status sosial itu tak pernah menjadi penghalang bagi Hesty untuk menjalin pertemanan yang tulus. Seiring berjalannya waktu, benih-benih kasih sayang tumbuh secara alami di antara keduanya, mengikat perasaan yang sulit terpisahkan.
Konflik memuncak tatkala Raden Wijaya, ayah Hesty, menolak kehadiran Tigor. Beliau menghendaki putri tunggalnya berpasangan dengan sosok dari kelas sosial yang setara. Kendati Tigor terus membuktikan kapasitas dirinya lewat deretan prestasi gemilang, pandangan sebelah mata sang ayah tidak lantas luntur. Kesalahpahaman dan perselisihan yang terjadi membuat pembaca terus bertanya-tanya, apakah cinta Hesty dan Tigor mampu bertahan di tengah berbagai tekanan yang mereka hadapi.
Menurut saya, salah satu bagian yang paling berkesan melalui penuturan Hesty adalah ketika ia dengan jujur mengungkapkan keteguhan hatinya:
"Aku tidak akan menyerah, Tigor. Tidak akan." (Hal. 287)
Menurut saya, Tere Liye berhasil menggambarkan emosi para tokohnya melalui gaya bahasa yang lugas dan sederhana. Pemilihan alur campuran (maju mundur) membantu pembaca memahami latar belakang emosional para tokoh, ketatnya aturan dalam keluarga Raden Wijaya, hingga kuatnya pengaruh hierarki sosial pada masa itu.
Novel ini pun memiliki kekurangan. Menurut saya, laju alur di bagian tengah terasa agak lambat akibat penuturan memori nostalgia yang cukup panjang. Bagi pembaca yang menyukai alur cerita bertempo cepat, ritme ini berpotensi memunculkan rasa jenuh sebelum akhirnya mencapai puncak konflik.
Meskipun demikian, perjalanan menyusuri kisah Hesty dan Tigor lewat kacamata Ana memberikan kesan mendalam bagi saya pribadi. Dari novel ini, saya belajar bahwa sebuah rumah menyimpan banyak kenangan dan cerita yang membentuk arti tempat tersebut bagi seseorang.
Selain itu, saya belajar tentang arti keikhlasan yang sesungguhnya. Menurut saya, kisah ini menunjukkan bahwa mencintai seseorang tidak selalu berarti harus memilikinya. Ada kalanya kita perlu menerima keadaan dan merelakan sesuatu yang tidak berjalan seperti yang diharapkan.
Kesimpulannya, Hello menghadirkan kisah romansa dan keluarga yang hangat. Menurut saya, cerita ini menunjukkan bahwa cinta, perjuangan, dan penerimaan terhadap keadaan menjadi bagian dari proses seseorang untuk tumbuh dan memahami hidup.
