Konten dari Pengguna

Menolak Diam

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nabila Fauzia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Jangan diam, lawan!

Sumber: Dokumentasi Pribadi Penulis
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Dokumentasi Pribadi Penulis

Rabu sore, 28 Oktober 2026. Sebelum melangkah keluar pintu kosan untuk bergabung dengan teman-teman menuju aksi demonstrasi di Jalan Slamet Riyadi, saya menghubungi keluarga. Kepada mereka, saya meminta doa restu sekaligus izin turun ke jalan, demi kelancaran dan keselamatan mengikuti aksi bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda ini. Hari itu, saya mengenakan pakaian paling nyaman, kaus sederhana yang tak mencolok, siap berbaur di tengah lautan manusia.

Jujur, saya datang tidak untuk berorasi atau berdiri gagah memegang megapon di barisan paling depan. Saya hadir sebagai bagian kecil dari massa yang membawa keresahan. Di kepala saya, ada amarah yang menumpuk melihat kebijakan demi kebijakan pemerintah yang kian menjauh dari kesejahteraan rakyat. Tapi lebih dari rasa marah, ada keyakinan bahwa, sebagai bagian dari bangsa ini, saya tidak boleh hanya menjadi penonton yang memendam amarah di balik layar ponsel.

Ketika kaki saya menjejak jalan Slamet Riyadi, riuh suara massa langsung menyergap. Surakarta sore itu berubah menjadi panggung raksasa bagi siapa saja yang merasa haknya tergerus. Di sekeliling saya, kerumunan tampil dengan latar belakang yang amat beragam. Ada mahasiswa yang beberapa mengenakan almamater kampus, ibu-ibu rumah tangga yang sengaja mampir membawa keresahan dapur, bapak-bapak berwajah tempaan matahari, para karyawan kantoran, hingga anak-anak muda berbusana nyentrik dengan makeup baddie yang mencolok. Meski datang dari dunia yang berbeda-beda, semuanya melebur dalam satu barisan sambil mengangkat tinggi-tinggi poster perlawanan. Aksi jalanan hari itu membuktikan bahwa demonstrasi bukan sekadar milik mahasiswa, melainkan ruang bernapas bagi siapa pun yang suaranya tersumbat.

Di tengah kepungan terik dan riuh ajakan perlawanan, saya menyatukan jemari, mengacungkan tiga jari tinggi-tinggi ke udara, mengikuti sapuan gerakan #IndonesiaSadar. Tiga jari yang mengepalkan makna tentang kebebasan (liberté), kesetaraan (égalité), dan persaudaraan (fraternité). Postur tubuh saya mungkin terdesak di tengah kerumunan, namun tenggorokan saya ikut bergetar saat menyimak orasi-orasi yang bergema di udara.

Saya mengambil napas dalam-dalam, lalu membiarkan suara saya ikut bergemuruh menyatu dengan ratusan jiwa lainnya: "Hidup mahasiswa! Hidup rakyat Indonesia! Hidup perempuan yang melawan!"

Di balik riuhnya seruan tersebut, Aliansi BEM Soloraya bersama masyarakat menyuarakan tujuh tuntutan:

1. Menetapkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sebagai bencana nasional.

2. Menerbitkan Perpres/Perda standarisasi upah minimum guru honorer setara UMP/UMK.

3. Melakukan efisiensi anggaran MBG dan KDMP serta mengalokasikannya sesuai prioritas kebutuhan masyarakat.

4. Menstabilkan nilai tukar rupiah.

5. Melakukan audit data DTKS/P3KE secara transparan dan memulihkan hak korban kesalahan data desil.

6. Menghentikan konflik agraria dan eksploitasi alam yang mengabaikan hak kelola rakyat.

7. Menjamin ruang sipil yang aman dan bebas dari kekerasan aparat.

Di tengah berlangsungnya demonstrasi, beberapa orang turut menunjukkan kepeduliannya dengan membagikan air mineral dan roti kepada peserta aksi secara cuma-cuma. Makanan dan minuman tersebut dibagikan agar para peserta tetap memiliki asupan selama mengikuti demonstrasi. Tindakan sederhana ini menjadi salah satu bentuk perhatian antarsesama di tengah ramainya aksi.

Di sanalah saya melihat arti "teman jaga teman" yang sebenarnya. Solidaritas hadir lewat kebaikan kecil antarmasyarakat yang saling merawat di tengah kerumunan. Kepedulian paling jujur justru lahir dari uluran tangan sederhana antarmanusia yang bahkan tak saling tahu nama.

Menurut catatan Aliansi BEM Soloraya, aksi-aksi sebelumnya yang membawa tuntutan serupa belum juga mendapatkan tanggapan resmi dari pihak berwenang. Hari itu pun, kepastian apakah suara kami didengar masih menggantung di udara. Tapi buat saya pribadi, ketidakpastian itu bukanlah alasan untuk berhenti peduli.

Saya memang bukan orator. Nama saya mungkin tidak akan tercatat sebagai penanggung jawab aksi, dan saya juga tidak berdiri di barisan paling depan. Namun, sore itu, ketika menurunkan tiga jari dan melangkah pulang bersama kawan-kawan, saya menyadari bahwa kehadiran saya di tengah aksi merupakan pilihan yang saya yakini. Saya datang karena percaya bahwa kepedulian terhadap keadilan tidak cukup hanya disampaikan melalui keluhan, tetapi juga perlu ditunjukkan melalui tindakan, sekecil apa pun bentuknya.

Di antara ratusan orang di perempatan Slamet Riyadi, saya mungkin hanya satu titik kecil. Tapi setidaknya, di hari Sumpah Pemuda itu, saya memilih untuk berdiri dan menolak berdiam diri atas nasib negeri saya sendiri.