Konten dari Pengguna

Aroma Laut yang Menghidupi: Cerita di Balik Usaha Anugrah 2

Nabilla Az-Zahra

Nabilla Az-Zahra

Undergraduate Communication Science student at Padjadjaran University

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nabilla Az-Zahra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ditulis oleh Taraj Katherine Maharanny dan Nabilla Azzahra

“Angin laut membawa cerita, dari tangan-tangan yang tak pernah berhenti bekerja.”

Pak Ade Dindin berdiri di depan kios “Anugrah 2” tempat ia menjual  jambal roti, menjadi bagian dari ekonomi lokal di kawasan wisata Pantai Timur Pangandaran.
zoom-in-whitePerbesar
Pak Ade Dindin berdiri di depan kios “Anugrah 2” tempat ia menjual jambal roti, menjadi bagian dari ekonomi lokal di kawasan wisata Pantai Timur Pangandaran.

Angin laut pagi itu datang pelan, membawa aroma garam dan desir halus pasir Pantai Timur Pangandaran. Ketika kami mendekat, Pak Ade Dindin tampak duduk santai di bangku kayu depan kiosnya. Ia memegang sebatang rokok yang asapnya melayang tipis ke udara, seolah menyatu dengan suasana tenang pagi itu. Meski tampaknya sedang menikmati waktu senggangnya, ia langsung menegakkan badan begitu melihat kami berjalan mendekat.

“Mari neng, mau cari apa?”

sapanya dengan nada hangat, suara khas yang biasanya menyambut pembeli. Tidak berlebih, tidak dibuat-buat hanya keramahan sederhana yang muncul dari kebiasaan bertahun-tahun melayani orang dari berbagai tempat.

Kios kecil bernama Jambal Roti Anugrah 2 itu tampak sederhana, setelah mematikan puntung rokoknya, Pak Ade berdiri dan mulai menunjukkan tumpukan jambal roti yang sudah ditata rapi. Tubuhnya cukup berisi, wajahnya dihiasi jenggot tipis yang rapi, dan ketika ia tersenyum, garis-garis hangat di sekitar.

Deretan produk komoditi laut yang diasinkan seperti jambal roti, terasi udang, dan kerupuk jambal memenuhi etalase Kios Anugrah 2.

matanya ikut terbentang kecokelatannya tampak sedikit kemerahan, seperti mata seseorang yang sudah bertahun-tahun berkawan dengan matahari pesisir. Bagi banyak orang, jambal roti hanyalah lauk asin yang menemani nasi hangat. Tetapi menurut Pak Ade Dindin, jambal roti adalah jejak waktu, warisan keluarga, dan sumber kehidupan yang ia jaga sejak muda. Di balik hasil olahan asin, tersembunyi cerita tentang konsisten, bencana besar, dan keberanian untuk memulai lagi dari nol.

Sekilas, tidak ada yang istimewa dari pagi itu. Namun justru dalam kesederhanaannya, cerita ini menemukan pijakannya tentang bagaimana seorang pedagang kecil menjaga kepercayaan pelanggan, melewati pasang surut, dan membuat rasa asin yang selalu membawa orang kembali, tahun demi tahun.

Usaha jambal roti yang kini ia jalankan bukan berdiri dari ruang kosong. Sejak tahun 1990, orang tuanya sudah mengelola bisnis pengolahan ikan asin di kawasan Pangandaran.

“Saya belajar dari orang tua, dari mulai bersih-bersihin ikan sampai ngerti kapan ikan itu sudah layak untuk dijemur,” begitu kira-kira kesan yang menggambarkan proses panjang Ade menjadi pelaku usaha mandiri.

Segalanya berubah pada tahun 2006 saat tsunami menerjang Pangandaran. Banyak kios dan rumah hancur. Kawasan wisata sempat lumpuh. Tetapi bencana itu justru menjadi titik balik bagi Pak Ade. Setahun setelah gelombang besar itu, pada 2007, ia membangun usahanya sendiri yaitu Jambal Roti Anugrah 1, disusul dengan Anugrah 2 di tahun-tahun berikutnya. Modal utamanya bukan hanya uang, tetapi pengalaman dan keberanian untuk memulai ulang.

Dalam proses produksinya, Pak Ade tetap setia pada cara-cara lama yang ia sebut sebagai yang paling “jujur” menjemur ikan dengan sinar matahari. Jambal roti yang baik membutuhkan empat hingga lima hari perendaman garam sebelum dibelah dan dijemur. Cuaca adalah sahabat sekaligus musuh. Terlalu cerah, ikan cepat kering. Terlalu lembab, justru mudah muncul belatung. Meski tampak mengganggu, Pak Ade mengungkapkan bahwa belatung justru menjadi tanda bahwa jambal roti tersebut tidak memakai pengawet, sesuatu yang membuat banyak pelanggan justru lebih percaya.

Kini, ia memang jarang memproduksi sendiri karena keterbatasan ruang. Sebagian besar bahan baku ia ambil dari petani ikan asin di Cilacap. Pasokan dari nelayan lokal Pangandaran tidak selalu mencukupi sebab mereka masih menggunakan alat-alat tangkap tradisional. Namun, Pak Ade tetap menekankan satu hal yaitu kualitas. Ia mampu membedakan jambal super hanya dengan melihat tekstur daging yang tebal, halus, dan aroma wangi ketika digoreng. Di kiosnya, ada jambal roti biasa, dan ada pula yang disebut sebagai “jambal roti sultan” karena ukuran dan kualitasnya yang jauh lebih unggul.

Meski terlihat sebagai usaha kecil, dampak ekonomi dari bisnis ini terasa besar bagi keluarganya. Perlahan-lahan, ia melihat usahanya tumbuh melalui masa sepi, musim ramai, bahkan pandemi COVID-19 yang membuat seluruh kawasan wisata ditutup total. Ketika wisata kembali dibuka, kiosnya kembali hidup, satu per satu pembeli datang. Wisatawan Pangandaran 70% pelanggan nya berasal dari Bandung. Pak Ade bilang, memang orang Sunda terbiasa makan ikan asin di daerah yang udaranya dingin.

Usaha Pak Ade juga pernah disinggahi artis dan publik figur seperti keluarga Ayu Ting Ting, Desy Ratnasari, hingga Deni Chandra. Foto-foto mereka terpajang di kios, dan menjadi bukti bahwa usaha kecil pun bisa memiliki cerita besar.

Lalu, tanpa kami tanyakan, ia menambahkan sesuatu yang cukup mengejutkan.

Dulu saya sempat kuliah jurusan perbankan,”

katanya sambil tertawa kecil, seperti mengingat masa-masa mudanya. Ia tidak menyelesaikan kuliah itu, tetapi cukup lama untuk memahami dasar-dasar keuangan dan administrasi.

“Lumayan lah… ngerti dikit-dikit soal sistem pembayaran,” tambahnya.

Pengetahuan itu ternyata sangat membantu ketika pembayaran digital mulai masuk ke kawasan pesisir Pangandaran. Sementara banyak kios jambal lain masih ragu atau belum tahu cara menggunakan QRIS, Pak Ade justru cepat menyesuaikan diri. Ia menunjukkan kode QR kecil yang ditempel di dinding kiosnya.

“Sekarang banyak wisatawan nggak bawa uang cash,” katanya.

“Kalau kita nggak siap, ya mereka lari ke kios lain yang bisa.” Ia mengaku tidak kesulitan mendaftarkan diri dan mengatur sistem pembayarannya.

“Soalnya dulu kan sudah pernah belajar, walaupun cuma sebentar,” ucapnya sambil tersenyum.

Namun perjalanan usaha ini tidak selalu mulus. Ada masa di mana banjir besar melanda kawasan pantai, merusak banyak stok dan peralatan yang ia miliki. “Hampir habis semua,” kenangannya. Meski begitu, ia memilih bangkit perlahan, mengumpulkan modal kembali, dan membangun Jambal Roti Anugrah 2 dari awal.

Selain wisatawan, banyak pelanggan tetap dari luar kota yang sengaja datang untuk membeli jambal roti. Ada yang memborong, ada yang hanya membeli beberapa potong.

“Yang penting cocok rasanya,” kata Pak Ade.

Ia selalu menjaga kualitas, baik saat melayani pembeli secara langsung maupun ketika mengurus pembayaran digital.

Setelah kami berpamitan, ia kembali duduk di bangku kayu yang tadi ia tinggalkan, menyalakan rokok lain. Hari itu, tidak ada pelanggan lain selain kami. Jalanan di depan kios terasa kosong, hanya sesekali motor melintas dan hilang begitu saja. Inilah yang membuat harapan Pak Ade yang semakin kuat, ia ingin dalam 5–10 tahun ke depan, usahanya bisa berkembang lebih luas, lebih dikenal, dan memaksimalkan media sosial agar tidak hanya bergantung pada kunjungan wisatawan musiman.

Ia juga menginginkan satu hal penting yang ia sebut berulang kali yaitu tentang perbaikan destinasi wisata Pangandaran. Baginya, jika kawasan pantai dikelola lebih rapi, lebih bersih, dan lebih teratur, wisatawan tidak hanya datang pada hari libur atau tanggal merah.

“Biar setiap hari hidup,” katanya tadi, lirih tapi penuh harapan.

Kios Anugrah 2 menampilkan rak-rak penataan produk komoditi laut yang diasinkan menjadi sumber ekonomi keluarga dan magnet bagi wisatawan yang berburu oleh-oleh.

Tidak ada kisah heroik di sini, hanya ketekunan seorang pedagang kecil yang terus bertahan di antara cuaca, gelombang wisatawan, dan perubahan zaman. Namun dari kesederhanaan itulah justru muncul makna konsistensi yang tidak banyak orang lihat, dan kerja keras yang jarang diberitakan.

Dan ketika ombak terus datang tanpa pernah absen, usaha ini pun berjalan dengan cara yang sama pelan tapi pasti, tetap ada bagi siapa pun yang kembali mencarinya.