Konten dari Pengguna

Sudahkah Kita Siap Menjadi Orang Tua?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Endirah Ekaningrum tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Saat Ambisi Pribadi Berhadapan dengan Keselamatan Anak

Gambar hanya ilustrasi: koleksi pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Gambar hanya ilustrasi: koleksi pribadi

Menjadi orang tua adalah salah satu perjalanan hidup yang tidak pernah memiliki buku panduan sempurna. Sejumlah peristiwa yang belakangan ramai di media sosial membuat saya kembali merenungkan sebuah pertanyaan mendasar "Apakah kita benar-benar sudah siap menjadi orang tua? Apakah masih ada bagian dari diri kita yang belum selesai dengan keinginan dan ego pribadi?"

Belum hilang dari ingatan kita peristiwa tragis seorang anak berusia tiga tahun yang meninggal setelah terjatuh dari balkon hotel di Samarinda ketika kedua orang tuanya sedang sarapan. Belum lagi video seorang balita menangis di dalam tenda saat orang tuanya melakukan summit di Gunung Prau. Baru-baru ini, beredar pula cerita seorang Ibu nekat angkat beban sambil menggendong bayinya (di depan). Dalam unggahannya sang ibu menyebut bahwa penilaian orang lain tidak penting dan mengaku melakukannya ‘Effort Demi Olahraga’. Menurut saya pribadi hal tersebut cukup berisiko dan tidak bijak sama sekali.

Ketiganya memiliki konteks dan tingkat risiko berbeda. Tidak semua fakta di balik peristiwa tersebut telah diketahui secara utuh. Namun, semuanya mengundang satu pertanyaan penting, sejauh mana kita menempatkan keselamatan anak dalam setiap keputusan yang kita ambil?

Saya percaya, menjadi orang tua tidak berarti harus kehilangan seluruh identitas pribadi. Kita tetap boleh memiliki mimpi, hobi, pekerjaan, dan ruang untuk menikmati hidup. Namun sejak seorang anak hadir, kebebasan itu tidak lagi berdiri sendiri. Ada kehidupan lain yang bergantung pada pertimbangan, keputusan dan tanggung jawab kita sebagai orang tua.

Bagi seorang perempuan, menjadi ibu sering kali berarti harus siap menggadaikan sebagian waktunya. Waktu tidur, waktu bekerja, bahkan waktu untuk sekadar menikmati secangkir kopi dengan tenang. Meski demikian, pengorbanan tersebut seharusnya tidak menjadi tanggung jawab ibu seorang diri. Ayah memiliki kewajiban yang sama untuk memastikan anak tumbuh dalam lingkungan yang aman, penuh perhatian, dan kasih sayang.

Tentu, kondisi setiap keluarga berbeda. Ada ibu yang tetap leluasa beraktivitas karena memang berada dalam kondisi ekonomi yang mampu menjamin semuanya, memiliki pasangan yang suportif, pengasuh terpercaya, atau keluarga besar yang siap membantu. Ada pula ibu yang harus menjalani hampir seluruh tanggung jawab pengasuhan seorang diri bahkan ditambah harus ikut membantu mencari nafkah keluarga. Karena itu, persoalannya bukan seberapa sering orang tua meninggalkan anak untuk beraktivitas, melainkan apakah pengawasan yang diberikan benar-benar sesuai dengan usia, kebutuhan, dan keselamatan anak.

Saya sendiri bukan orang tua yang sempurna, saat harus bekerja saya berusaha meninggalkan buah hati dibawah pengawasan orang-orang terpercaya. Saya juga pernah melakukan perjalanan dinas luar kota dengan membawa ketiga buah hati sembari liburan sekolah tanpa pendamping. Saat harus menjalankan tugas kantor, ketiga anak saya tinggalkan di kamar hotel itupun setelah mempersiapkan segalanya yang dirasa perlu. Saat itu, anak sulung sudah berusia sebelas tahun dan saya menilai ia cukup dapat dipercaya untuk menjaga adik-adiknya yang berusia 7 dan 4 tahun. Itupun setiap beberapa menit saya selalu chat si kakak untuk memastikan semuanya aman hingga akhirnya saya kembali ke kamar.

Saya juga pernah pada kondisi dimana harus membawa ketiga buah hati berkendara menggunakan sepeda motor sendirian untuk menempuh jarak yang cukup lumayan jauh. Semua saya lakukan setelah melalui berbagai pertimbangan dan keyakinan yang matang terutama soal keselamatan berkendara. Diperjalanan saya juga tidak memaksa untuk terus melaju jika kondisi anak-anak mulai mengantuk dan memilih untuk menepi sejenak. Semua yang saya lakukan itu karena memang kondisi yang memaksa dan tanpa mengabaikan keselamatan anak apalagi hanya sekedar gaya-gayaan.

Dari pengalaman-pengalaman tersebut mengajarkan bahwa keyakinan orang tua belum tentu sama dengan jaminan keselamatan. Anak berusia sebelas tahun tetaplah anak yang memiliki keterbatasan menghadapi keadaan darurat. Begitu pula membawa beberapa anak dengan sepeda motor tetap mengandung risiko serius, sekalipun kita merasa telah berhati-hati. Ada keputusan yang mungkin dahulu terasa wajar, tetapi patut kita evaluasi kembali karena terjadi pada saat dan kondisi yang tidak sama lagi. Di sinilah pentingnya keberanian untuk mengakui bahwa menjadi orang tua juga merupakan proses belajar yang tidak pernah selesai.

Kita pun perlu melihat persoalan ini dari sisi kesehatan mental. Kondisi seperti baby blues, depresi pascapersalinan, kelelahan pengasuhan, hingga tekanan sosial dapat memengaruhi kesejahteraan emosional orang tua terutama ibu. Namun, kita tidak boleh serta-merta mengaitkan kondisi psikologis tertentu dengan tindakan seseorang tanpa mengetahui fakta dan kondisi yang sebenarnya. Banyak hal yang mungkin melatarbelakangi seseorang dalam mengambil keputusan termasuk bagi seorang ibu.

Paparan media sosial juga turut menghadirkan tantangan tersendiri. Kita hidup pada masa ketika pencapaian, kebugaran tubuh, perjalanan wisata, dan kehidupan keluarga yang tampak sempurna dipertontonkan setiap hari. Tanpa disadari, muncul tekanan untuk membuktikan bahwa setelah memiliki anak, kita tetap bisa melakukan semuanya seperti dahulu. Padahal, tidak semua hal harus dibuktikan. Mungkin disinilah efek negatif dari media sosial jika tidak kita sikapi secara bijak. Tidak semua keinginan harus segera dipenuhi. Dan tidak semua kesempatan harus diambil ketika keselamatan anak menjadi taruhannya.

Diawal-awal menjadi seorang istri dan ibu saya pernah mengalami baby blues yang membuat mental saya cukup down. Akhirnya saya melakukan detoksifikasi media sosial untuk mengurangi paparan media sosial. Kurang lebih hampir dua tahun saya menutup diri dari beberapa media sosial yang saya miliki karena merasa mulai mengganggu kesehatan mental dengan aneka story teman-teman yang bersliweran di beranda. Saya juga memutuskan menarik diri dari berbagai komunitas dan kegiatan yang dulu saya ikuti semasa belum menikah. Dunia saya saat itu benar-benar hanya rumah dan kantor, selain pekerjaan saya fokus pada keluarga kecil kami, suami dan anak-anak. Kini setelah 14 tahun usia pernikahan, anak-anak semakin besar dan suami juga mendukung barulah saya mulai kembali mencari aktualisasi diri dengan berbagai kegiatan yang dulu pernah saya tinggalkan.

Mungkin inilah makna sesungguhnya dari pertanyaan apakah kita sudah selesai dengan diri sendiri sebelum menjadi orang tua. Bukan berarti kita harus sembuh dari seluruh luka, menuntaskan semua mimpi, atau menjadi manusia tanpa kekurangan. Melainkan memiliki kedewasaan untuk mengenali keterbatasan, mengendalikan impuls, meminta bantuan, dan memahami bahwa kebutuhan anak terkadang harus didahulukan. Anak-anak tidak pernah meminta dilahirkan. Kitalah yang menghadirkan mereka ke dunia, sehingga menjadi tanggung jawab kita untuk memberikan perlindungan terbaik sesuai kemampuan dan pengetahuan yang terus kita perbarui.

Pada akhirnya, ketahanan keluarga bukan dibangun oleh orang tua yang selalu benar, melainkan oleh orang tua yang bersedia belajar, mengevaluasi diri, dan memperbaiki keputusan. Sebab, menjadi orang tua bukan tentang berhenti mencintai diri sendiri. Menjadi orang tua adalah belajar mencintai diri sendiri tanpa mengorbankan keselamatan mereka yang telah mempercayakan seluruh dunianya kepada kita. Dan barangkali, ukuran kedewasaan kita bukan lagi tentang seberapa banyak keinginan yang berhasil diwujudkan, melainkan seberapa bijaksana kita menentukan keinginan mana yang harus ditunda demi mereka yang paling membutuhkan kita. (Nd)