6 Kebiasaan Gen Z yang Muncul karena Financial Uncertainty

Freelance content writer yang fokus menulis artikel lifestyle dan entertainment. Memiliki minat besar pada topik yang dekat dengan Gen Z, isu sehari-hari, serta hal-hal yang berkaitan dengan hobi dan tren yang sedang ramai dibahas.
ยทwaktu baca 3 menit
Tulisan dari Edward Ngantung tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Saat masuk dunia kerja, sebagian Gen Z langsung menghadapi tekanan finansial. Mereka harus membagi gaji untuk makan, transportasi, kos, tagihan, tabungan, dan kebutuhan pribadi setiap bulan.
Dari fase ini, financial uncertainty jadi terasa dekat. Istilah ini merujuk pada rasa tidak aman terhadap kondisi keuangan, terutama ketika penghasilan tetap belum mampu mengimbangi kenaikan biaya hidup.
Tekanan finansial memengaruhi cara Gen Z mengatur uang, memilih pergaulan, menjaga kesehatan mental, dan menyusun rencana masa depan.
1. Loud Budgeting
Ketika biaya hidup naik, sebagian Gen Z mulai lebih sadar soal batas keuangan mereka. Mereka menolak ajakan nongkrong di tempat mahal, makan di restoran, atau datang ke konser saat anggaran bulanan tidak cukup.
Dari kebiasaan itu, publik mengenal istilah loud budgeting. Sikap ini membantu anak muda menjaga prioritas, menekan pengeluaran, dan mengelola uang tanpa merasa malu.
2. Doom Spending
Selain membatasi pengeluaran, sebagian orang berbelanja barang daring saat mereka merasa stres. Psikolog menyebut perilaku belanja impulsif ini doom spending.
Kelompok pekerja muda melakukan hal ini karena merasa sulit mencapai tujuan finansial. Jadinya, mereka mengalihkan uang untuk membeli pakaian atau berlangganan hiburan digital guna mengatasi stres.
3. Sulit Tidur
Setelah tekanan uang menumpuk, tubuh dan pikiran mulai menunjukkan respons. Karena kecemasan itu, sebagian pekerja muda sulit tidur saat memikirkan tagihan, cicilan, biaya kos, dan kebutuhan bulanan.
Pada waktu yang sama, tuntutan untuk terus produktif demi mencapai stabilitas memicu burnout finansial.
Dampaknya terlihat dalam aktivitas harian. Mereka kehilangan fokus, kehabisan energi, dan mengalami penurunan motivasi kerja.
4. Menunda Rencana
Selain memengaruhi rutinitas, tekanan ekonomi juga mengubah keputusan jangka panjang. Kenaikan biaya hidup, pendidikan, dan properti sering bergerak lebih cepat daripada pertumbuhan gaji.
Hal tersebut membuat sebagian Gen Z menunda pernikahan, pendidikan lanjutan, membeli rumah, atau hidup mandiri. Mereka mengambil keputusan itu agar rencana hidup tetap sesuai dengan kapasitas finansial.
5. Money Dysmorphia
Gen Z juga mendapat tekanan dari media sosial. Saat melihat orang lain liburan, membeli barang mahal, atau menunjukkan gaya hidup tertentu, sebagian anak muda merasa tertinggal.
Pakar menyebut kondisi ini sebagai money dysmorphia, yaitu persepsi keliru terhadap keadaan finansial sendiri. Seseorang bisa punya pekerjaan tetap dan tabungan, tetapi tetap merasa gagal karena terus membandingkan diri dengan orang lain.
6. Pay-Later
Rasa tertinggal tersebut sering mendorong sebagian anak muda memakai pay-later atau kredit digital. Layanan ini memberi akses cepat untuk membeli kebutuhan atau mengikuti gaya hidup harian.
Jika mereka memakai kredit digital tanpa perhitungan, cicilan bulanan akan menyerap pendapatan. Literasi keuangan yang rendah juga memperbesar risiko utang konsumtif sejak usia muda.
Makanya Gen Z perlu memahami bunga, denda, dan kemampuan bayar sebelum memakai layanan kredit. Keputusan kecil saat checkout dapat memengaruhi ruang gerak finansial pada bulan berikutnya.
Situasi Financial uncertainty membuat sebagian Gen Z lebih sadar dalam mengelola uang. Mereka mulai menyusun anggaran, mencatat pengeluaran, membatasi belanja impulsif, dan mengurangi paparan media sosial yang memicu perbandingan.
Pengelolaan uang yang benar menolong mereka menjaga fokus pada tujuan jangka panjang dan mengurangi tekanan dari gaya hidup harian.
Temukan informasi lain tentang cara mengatur keuangan melalui artikel edukasi lainnya.
