Konten dari Pengguna

Dari Anak Kalcer sampai Green-Tech Pragmatists, Ini 7 Subkultur Gen Z Indonesia

Edward Ngantung

Edward Ngantung

Freelance content writer yang fokus menulis artikel lifestyle dan entertainment. Memiliki minat besar pada topik yang dekat dengan Gen Z, isu sehari-hari, serta hal-hal yang berkaitan dengan hobi dan tren yang sedang ramai dibahas.

ยทwaktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Edward Ngantung tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

https://unsplash.com/@romchik_supreme
zoom-in-whitePerbesar
https://unsplash.com/@romchik_supreme

Generasi Z kini menempati porsi besar dalam populasi usia produktif di Indonesia. Posisi ini membuat pengaruh mereka makin terasa dalam budaya digital, pola konsumsi, dan percakapan sehari-hari.

Perubahan itu terlihat dari cara Gen Z membentuk identitas. Mereka tidak lagi sekadar mengikuti tren yang beredar di media sosial. Mereka memilih referensi sendiri, lalu membangun gaya hidup yang sesuai dengan nilai, minat, dan kebutuhan pribadi.

Dari sini, muncul banyak subkultur dengan ciri yang berbeda. Ada yang bergerak di ranah budaya, ada yang bertumpu pada olahraga, ada yang dekat dengan warisan lokal, dan ada juga yang menaruh perhatian pada etika konsumsi. Karena itu, Gen Z di Indonesia tidak bisa dibaca sebagai satu kelompok yang seragam.

1. Anak Kalcer

Anak Kalcer tumbuh dari minat pada budaya yang lebih personal dan tidak arus utama. Mereka dekat dengan kedai kopi, galeri alternatif, panggung musik kecil, dan karya lokal yang punya karakter kuat.

Pilihan konsumsi mereka mengikuti arah itu. Mereka lebih suka produk artisan, barang buatan lokal, dan fesyen dengan nilai jangka panjang. Dalam keseharian, mereka cenderung memilih slow fashion karena selaras dengan selera dan sikap mereka terhadap budaya populer.

2. Atlet Cabor

Berbeda dari Anak Kalcer yang membangun identitas lewat selera budaya, Atlet Cabor membentuk citra diri lewat aktivitas fisik. Lari, tenis, dan padel tidak berhenti pada urusan olahraga. Aktivitas ini juga menjadi sarana bergaul, menjaga ritme hidup, dan membangun kebiasaan yang lebih teratur.

Kebiasaan itu ikut membentuk pola belanja mereka. Mereka memilih pakaian olahraga yang nyaman, praktis, dan tetap pantas dipakai di luar sesi latihan. Mereka juga lebih teliti saat memilih makanan, minuman, dan suplemen karena tubuh menjadi bagian utama dari gaya hidup mereka.

3. Skena Wastra

Skena Wastra hadir dari minat pada budaya lokal yang dibawa ke tampilan sehari-hari. Kelompok ini memadukan batik, tenun, dan kain tradisional dengan potongan busana yang lebih modern.

Arah ini membuat wastra terasa dekat dengan generasi muda. Mereka tidak memakai kain tradisional hanya pada acara resmi. Mereka menghadirkannya dalam gaya kasual, lalu menjadikannya bagian dari identitas personal. Dari sini, warisan budaya masuk ke rutinitas harian tanpa terasa kaku.

4. Nuruls dan Nopals

Nuruls dan Nopals bergerak dengan pendekatan yang lebih praktis. Mereka datang dari kelas menengah urban yang berusaha menyeimbangkan ambisi pribadi dengan nilai keluarga, agama, dan kebiasaan sosial yang tetap mereka jaga.

Cara mereka memakai teknologi mencerminkan pola tersebut. Mereka tidak memakai media sosial, live shopping, atau e-wallet untuk hiburan semata. Mereka memakainya untuk jualan, membuka usaha kecil, dan menambah pemasukan. Fokus mereka ada pada hasil yang bisa langsung dirasakan.

5. Kevins dan Michelles

Di sisi lain, Kevins dan Michelles identik dengan ritme hidup kota besar yang cepat. Mereka fokus pada karier, efisiensi, dan target kerja yang jelas. Mobilitas tinggi dan hasil yang terukur jadi bagian dari keseharian mereka.

Pilihan konsumsi mereka pun mengikuti pola itu. Mereka memilih produk yang mendukung produktivitas dan memperkuat citra profesional. Mereka juga cepat mengadopsi alat berbasis AI untuk riset, otomasi, dan pengelolaan tugas karena kecepatan kerja jadi prioritas.

6. Salims

Salims berada pada lapisan yang berbeda karena mereka punya akses ekonomi yang lebih tinggi. Mereka dekat dengan perjalanan internasional, layanan personal, dan pengalaman eksklusif yang tidak mudah dijangkau semua orang.

Pola konsumsi mereka sangat selektif. Mereka tidak mudah tertarik pada iklan massal. Mereka lebih memilih merek yang menawarkan mutu tinggi, pelayanan khusus, dan akses terbatas. Bagi kelompok ini, nilai produk terletak pada kualitas dan standar layanan yang menyertainya.

7. Green-Tech Pragmatists

Sementara itu, Green-Tech Pragmatists membangun identitas dari nilai etis. Mereka menaruh perhatian pada isu lingkungan, kesehatan mental, dan tanggung jawab sosial dalam keputusan sehari-hari.

Sikap itu terlihat jelas dalam pilihan konsumsi mereka. Mereka cenderung memilih produk cruelty-free, pola makan plant-based, dan layanan yang mereka nilai lebih bertanggung jawab. Mereka juga lebih cepat meninggalkan merek yang dinilai merusak lingkungan atau tidak punya komitmen sosial yang jelas.

Meski tiap subkultur punya ciri yang berbeda, semuanya lahir dari pola yang sama. Gen Z ingin hidup dengan cara yang lebih sesuai dengan nilai yang mereka pegang. Dari situlah pilihan gaya hidup, kebiasaan belanja, dan cara mereka membangun komunitas ikut berubah.

Membaca Gen Z tidak cukup dari kategori umur semata. Orang perlu melihat minat, prioritas, dan cara mereka menempatkan diri dalam budaya sehari-hari. Lewat subkultur inilah arah anak muda Indonesia saat ini terlihat lebih jelas.