Konten dari Pengguna

Slow Living 2026, 7 Hobi Analog Favorit Anak Muda untuk Digital Detox

Edward Ngantung

Edward Ngantung

Freelance content writer yang fokus menulis artikel lifestyle dan entertainment. Memiliki minat besar pada topik yang dekat dengan Gen Z, isu sehari-hari, serta hal-hal yang berkaitan dengan hobi dan tren yang sedang ramai dibahas.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Edward Ngantung tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

https://unsplash.com/@100millione
zoom-in-whitePerbesar
https://unsplash.com/@100millione

Di 2026, slow living makin sering dibahas di kalangan anak muda Indonesia. Mereka mengurangi waktu di depan gawai dan mengisi hari dengan aktivitas yang dekat dengan rutinitas.

Di tengah notifikasi yang terus datang, zilenial memilih kegiatan non-digital untuk digital detox karena waktu luang mereka sering habis di layar, sementara hobi manual memberi ruang untuk fokus pada satu kegiatan.

Pilihan ini tidak membuat mereka meninggalkan teknologi. Mereka tetap memakai internet untuk bekerja, belajar, dan bersosialisasi, lalu memisahkan waktu online dari ruang pribadi.

Aktivitas fisik memberi hasil yang terlihat langsung, seperti foto, koleksi piringan hitam, keramik, rajutan, atau tanaman di balkon. Proses ini melatih jeda, ketelitian, dan konsistensi, lalu membentuk cara mereka memaknai self-care hari ini.

7 Hobi Analog Favorit di 2026

1. Kamera Film

https://unsplash.com/@nordwood

Daya tarik kamera film terletak pada keterbatasannya. Satu rol film biasanya hanya memuat 36 frame, jadi setiap jepretan perlu dipilih dengan cermat. Pengguna pun lebih fokus pada sudut, cahaya, dan momen sejak awal.

Setelah memotret, film masih perlu dicuci di lab sebelum hasilnya terlihat. Jeda ini membuat proses memotret terasa lebih utuh dan melatih kesabaran. Waktu tunggu itu juga membuat setiap foto terasa lebih bernilai.

2. Piringan Hitam, Vinyl

https://unsplash.com/@shutters_guild

Cara menikmati musik ikut berubah saat orang kembali memutar piringan hitam. Vinyl mendorong pendengar mengikuti satu album secara utuh, sehingga musik kembali jadi aktivitas utama. Minat ini lalu berlanjut ke rilisan fisik.

Berburu album impor atau rilisan langka musisi lokal membuat hobi mengoleksi vinyl terasa lebih dekat dengan karya. Kebiasaan ini juga ikut membangun ruang komunal di antara penikmatnya.

3. Journaling

https://unsplash.com/@aaronburden

Menulis di kertas tetap diminati karena membantu orang mencatat agenda dan isi pikiran dengan lebih teratur. Journaling memberi ruang untuk menata hari dan merapikan pikiran tanpa gangguan layar.

Kebiasaan ini ikut mendorong minat pada alat tulis. Notebook, planner, dan pena yang nyaman dipakai membuat proses menulis terasa lebih rapi dan lebih konsisten.

4. Studio Keramik

https://unsplash.com/@earl_plannerzone

Membuat keramik menuntut gerak tangan yang tepat dan perhatian penuh. Saat membentuk tanah liat, orang perlu menjaga tekanan, bentuk, dan ritme secara bersamaan.

Minat pada kegiatan ini ikut naik lewat workshop akhir pekan yang mudah diikuti. Dari situ, keramik berkembang menjadi aktivitas yang banyak dipilih anak muda, baik saat sendiri maupun bersama teman.

5. Tufting dan Crochet

https://unsplash.com/@ahmet_ayar

Seni tekstil menarik minat banyak orang karena prosesnya berjalan bertahap dan hasilnya terlihat jelas. Saat merajut atau membuat tufting, tangan terus bergerak mengikuti pola sampai karya mulai terbentuk.

Minat ini tumbuh lewat workshop yang mudah diakses. Peserta memakai alat dan bahan yang sudah tersedia, lalu menyusun karya mereka sendiri sambil berkumpul tanpa terpaku pada layar.

6. Silent Reading Club

https://unsplash.com/@iamsimplybill

punya format yang ringkas. Orang datang membawa buku, membaca tanpa bersuara, lalu pulang. Pola ini membuat kegiatan membaca terasa lebih ringan dan terarah.

Aktivitas ini cocok bagi orang yang ingin berada di ruang bersama tanpa banyak interaksi. Mereka bisa duduk di tempat umum, fokus pada bacaan, lalu tetap merasa terhubung dengan suasana sekitar.

7. Urban Farming

https://unsplash.com/@ling_gigi

Menanam cabai atau tomat di pot balkon membuat berkebun terasa dekat dengan kehidupan kota. Orang tetap bisa menanam dan memanen sendiri meski tanpa lahan luas.

Rutinitasnya meliputi menyiram, memangkas, dan memantau tunas yang tumbuh. Lewat kebiasaan ini, banyak orang kembali dekat dengan tanaman di tengah lingkungan yang padat.

Slow living kini masuk ke cara Gen Z membagi waktu luang. Mereka mengisi sela hari dengan jurnal, rilisan fisik, atau tanaman pot karena kegiatan itu membantu menata pikiran dan membuat ritme harian lebih tertib.

Internet tetap dipakai, tetapi mereka mulai membatasi waktu layar dan mengalihkannya ke kegiatan yang lebih konkret. Dari kebiasaan kecil itu, digital detox masuk ke rutinitas sehari-hari.