Konten dari Pengguna

Transmisi Trauma: Mengapa Korban Kekerasan Bisa Jadi Pelaku?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nefra Minang Revitha tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kamu mungkin pernah bertekad:

"Aku tidak akan seperti orang tuaku."

Tapi suatu hari, ketika anak atau pasanganmu melakukan sesuatu yang bikin frustrasi, tangan kamu sudah terangkat duluan sebelum pikiran sempat melarang. Bukan berarti tekad itu tidak sungguh-sungguh, melainkan terdapat proses psikologis yang bekerja jauh lebih dalam dari sekadar niat baik, yaitu alam bawah sadar.

Psikoanalisis Freud: Ketika Trauma Ditekan ke Alam Bawah Sadar

Ilustrasi (Pexels.com/Timur Weber)

Sigmund Freud adalah orang pertama yang secara serius mengajukan gagasan bahwa sebagian besar dari apa yang mengendalikan perilaku kita tidak kita sadari. Pikiran, emosi, dan dorongan yang terlalu menyakitkan atau mengancam untuk dihadapi ditekan ke alam bawah sadar (unconscious) melalui mekanisme yang disebut represi.

Bayangkan seorang anak yang setiap hari pulang ke rumah dengan perasaan takut. Orang yang seharusnya jadi tempat paling aman justru menjadi sumber ancaman terbesar baginya. Pada anak yang mengalami kekerasan dari orang tua, represi bekerja sebagai strategi bertahan hidup. Ia tidak bisa sepenuhnya memproses rasa sakit, amarah, dan ketakutan yang ia rasakan karena memproses itu artinya menghadapi kenyataan bahwa orang yang paling ia butuhkan juga orang yang paling menyakitinya. Bukan karena rasa sakit itu hilang, tetapi karena itu satu-satunya cara untuk bertahan.

Represi bukan berarti melupakan. Luka itu tidak benar-benar pergi, hanya tersimpan jauh di dalam bawah sadar dan terus memengaruhi seseorang tanpa ia sadari. Trauma yang ditekan dapat muncul kembali dalam bentuk cara seseorang bereaksi, mengekspresikan kemarahan, membangun relasi, bahkan dalam cara ia membesarkan anaknya sendiri.

We may say that the patient does not remember anything of what he has forgotten and repressed, but acts it out. He reproduces it not as a memory but as an action; he repeats it, without, of course, knowing that he is repeating it (Freud, 1914).

Mekanisme Pertahanan yang Menjadi Jembatan Antargenerasi

Sigmund Freud dan Anna Freud menjelaskan bahwa ego menggunakan berbagai mekanisme pertahanan diri (defense mechanisms) untuk melindungi individu dari kecemasan dan konflik psikologis. Dalam konteks trauma akibat kekerasan orang tua, dua mekanisme yang paling relevan ialah identification with the aggressor dan displacement.

Ilustrasi (Pexels.com/Liza Summer)

Identification with the Aggressor

Ketika seorang anak berada pada posisi tidak berdaya terhadap orang yang menyakitinya, anak dapat secara tidak sadar mulai meniru perilaku orang tersebut sebagai cara untuk mengurangi rasa takut dan kecemasan. Anak yang mengalami kekerasan tidak memilih untuk menjadi seperti orang tuanya, tetapi proses identifikasi tersebut berlangsung otomatis sebagai bentuk mekanisme pertahanan ego.

...when he had to face a scolding by the latter, he tried to master his anxiety by involuntarily imitating him (Freud, 1936).

Anna Freud menjelaskan bahwa kritik dan agresi dari luar dapat terinternalisasi menjadi bagian dari diri anak, sementara kemarahan dan rasa bersalah diekspresikan keluar kepada orang lain.

The moment the criticism is internalized, the offense is externalized (Freud, 1936).

Akibatnya, luka masa kecil tidak selalu muncul sebagai ingatan yang jelas ketika individu dewasa, tetapi hadir dalam bentuk pola respons emosional, cara mengendalikan orang lain, maupun cara mengekspresikan kemarahan dalam relasi interpersonal. Oleh karena itu, kekerasan dapat berulang antargenerasi, bukan semata-mata karena seseorang ingin menyakiti, tetapi karena pola emosional dan relasi yang terbentuk sejak kecil terus bekerja tanpa sepenuhnya disadari.

Vehement indignation at someone else’s wrongdoing is the precursor of and substitute for guilty feelings on its own account (Freud, 1936).

Displacement

Dalam psikoanalisis Freud, emosi yang tidak dapat diekspresikan kepada sumber aslinya dapat dialihkan (displacement) kepada target yang lebih aman, seperti saudara kandung, teman, pasangan, atau bahkan anak sendiri di kemudian hari (Freud, 1923). Bukan karena mereka yang bersalah, tetapi karena merekalah yang tersedia saat emosi yang terpendam itu akhirnya mencari jalan keluar. Dengan kata lain, amarah yang tidak dapat diarahkan kepada figur yang lebih berkuasa, seperti orang tua, tidak benar-benar hilang, tetapi tersimpan di bawah sadar dan muncul kembali melalui relasi dengan orang lain yang dinilai lebih aman.

Upaya Memutus Trauma Antargenerasi

Ilustrasi (Pexels.com/Vlada Karpovics)

Memutus trauma antargenerasi tidak mudah dilakukan sendirian karena banyak luka psikologis bekerja pada lapisan yang tidak sepenuhnya disadari. Oleh karena itu, bantuan profesional seperti psikolog atau psikiater dapat membantu individu mengenali pola emosi, respons, dan keyakinan yang terbentuk dari pengalaman masa kecil. Dalam psikoanalisis, proses terapi membantu membawa konflik bawah sadar ke dalam kesadaran, sehingga individu dapat memahami sumber luka psikologisnya (Sandler, 2018). Dengan bantuan yang tepat, seseorang tidak hanya memahami lukanya, tetapi juga memiliki kesempatan untuk menghentikan pola trauma agar tidak terus diwariskan kepada generasi berikutnya.

Disusun oleh: Nefra Minang Revitha

Dosen pengampu: Dr. Rachmat Mulyono, M.Si., Psikolog

Referensi

Freud, A. (1936). Das Ich und die Abwehrmechanismen. The ego and the mechanisms of defence. Cecil Baines (terj). 1993. Karnac Books.

Freud, S. (1914). Weitere Ratsch1age zur Technik der Psychoanalyse (II): Erinnern,Wiederholen und Durchar-beiten. Remembering, repeating and working-through (Further recommendations on the technique of psycho-analysis II). Joan Riviere (terj). 1950. Hogarth Press.

Freud, S. (1923). The ego and the id. James Strachey (terj). 1961. Hogarth Press.

Sandler, J., Dare, G., & Holder, A. (2018). Basic psychoanalytic concepts: IX. Working through. The British Journal of Psychiatry, 149(4). https://doi.org/10.1192/bjp.149.4.553