Menyambut Muharram: Antara Spiritualitas, Solidaritas, dan Tradisi

Mahasiswa Perbandingan Madzhab, UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Neisya Salsabilla tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bulan Muharram menandai tahun baru dalam kalender Hijriyah. Namun bagi umat Islam, Muharram bukan sekadar momentum kalender, melainkan saat yang sarat makna: spiritual, sosial, hingga budaya.
Dalam Islam, Muharram adalah salah satu dari empat bulan haram—bulan suci yang diagungkan. Rasulullah ﷺ menyebutnya sebagai "Syahrullah al-Muharram", atau "bulan Allah", menunjukkan keistimewaannya dibanding bulan lainnya.
Yang paling masyhur dari Muharram adalah puasa Asyura, pada tanggal 10. Dalam sebuah hadis disebutkan:
“Sebaik-baik puasa setelah Ramadan adalah puasa di bulan Allah, Muharram.”
(HR. Muslim)
Puasa Asyura juga menjadi wasilah penghapus dosa setahun yang lalu. Maka tak heran, banyak umat Islam menjadikan Muharram sebagai awal dari tekad baru, hijrah spiritual dan perbaikan diri.
Momen Sosial: Menguatkan Kepedulian
Lebih dari sekadar ibadah individu, Muharram juga dimaknai secara sosial. Masyarakat Indonesia, misalnya, menyambut Muharram dengan kegiatan santunan yatim, doa bersama, pengajian, hingga pembagian makanan gratis.
Tradisi "Lebaran Anak Yatim" yang berkembang di beberapa daerah menunjukkan bagaimana Islam dan kepedulian sosial berpadu harmonis. Sebuah hadis menyebut:
“Barangsiapa melapangkan keluarganya pada hari Asyura, Allah akan melapangkan hidupnya sepanjang tahun.”
(HR. al-Baihaqi)
Nilai-nilai seperti berbagi, menyayangi yatim, dan mempererat silaturahmi menjadi wajah indah dari Muharram dalam bingkai masyarakat.
Ragam Budaya, Tetap Islami
Di berbagai daerah di Nusantara, Muharram juga dirayakan melalui tradisi budaya. Ada bubur Asyura, kirab Muharram, pembacaan doa awal tahun, dan pawai obor. Semua ini menjadi ekspresi syiar Islam yang membumi.
Tentu, dalam perspektif fiqh, tradisi semacam ini tidak wajib. Namun selama tidak mengandung syirik atau menyelisihi syariat, ia bisa menjadi bentuk akulturasi budaya yang positif.
Menyambut Muharram bukan hanya tentang kalender baru. Ia adalah waktu untuk hijrah menuju lebih baik—secara iman, amal, dan sosial. Ia mengajak umat merefleksi diri, memperkuat ukhuwah, dan melestarikan budaya yang bernapas Islam.
Mari jadikan Muharram sebagai titik tolak, bukan hanya harapan, tetapi juga aksi nyata menuju tahun yang lebih berkah.
