Ruang Belajar bersama Bubid: Mendekatkan Edukasi Publik ke Ruang Digital Warga
Tulisan dari Nenden Nuraeni tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di era digital, masyarakat semakin terbiasa mencari informasi melalui media sosial. Bagi pemerintah, perubahan ini bukan hanya tantangan, tetapi peluang untuk menghadirkan pelayanan publik yang lebih dekat, mudah diakses, dan interaktif.
Peluang tersebut dimanfaatkan Balai Diklat KKB Garut melalui Ruang Belajar bersama Bubid, inovasi edukasi publik melalui siaran langsung (live) di TikTok. Setiap hari pukul 12.00–13.00, masyarakat diajak belajar dan berdiskusi tentang kesehatan, kesehatan reproduksi, kesehatan ibu dan anak, pengasuhan, pembangunan keluarga, serta berbagai persoalan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Inovasi pelayanan publik tidak selalu membutuhkan teknologi yang rumit. Kadang, yang dibutuhkan adalah keberanian untuk hadir di ruang tempat masyarakat berada.
Digitalisasi ASN, Membuka Ruang Pelayanan Baru
Pemanfaatan teknologi oleh ASN bukan sekadar mengikuti tren. Arah tersebut sejalan dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2023 tentang Aparatur Sipil Negara, yang mengatur digitalisasi manajemen ASN untuk mendukung efisiensi, efektivitas, akurasi, serta ekosistem layanan digital yang terintegrasi.
Semangat digitalisasi tersebut dapat diterjemahkan lebih luas, termasuk dalam cara pemerintah berkomunikasi dan memberikan edukasi kepada masyarakat.
Ruang Belajar hadir dari pemikiran sederhana: jika masyarakat telah berada di ruang digital, mengapa edukasi publik tidak ikut hadir di sana?
Berawal dari 25 Tahun Pengalaman Melayani
Inovasi ini memiliki kekuatan dari pengalaman panjang pelayanan kesehatan.
Host Ruang Belajar, Bubid, merupakan bidan yang telah menjalani 25 tahun pelayanan di Puskesmas, terdiri atas 10 tahun sebagai tenaga honorer dan 15 tahun sebagai ASN.
Selama seperempat abad, ia berhadapan langsung dengan ibu, bayi, anak, dan keluarga beserta berbagai persoalan kesehatan mereka. Pengalaman tersebut membentuk kemampuan memberikan edukasi dengan bahasa yang dekat dan mudah dipahami masyarakat.
Ketika kemudian memasuki lingkungan kediklatan dan pembangunan keluarga, pengalaman tersebut tidak berhenti. Pengetahuan kesehatan justru menemukan ruang baru untuk dibagikan kepada masyarakat melalui teknologi digital.
Kesehatan dan pembangunan keluarga memiliki irisan yang kuat. Kesehatan reproduksi, kesehatan ibu dan anak, pengasuhan, tumbuh kembang, dan kualitas keluarga merupakan bagian yang saling berkaitan.
Karena itu, pengalaman 25 tahun di ruang pelayanan menjadi modal penting dalam menghadirkan edukasi yang relevan.
Dari Kanal Personal Menjadi Kolaborasi Instansi
Sebelum dikembangkan bersama instansi, kegiatan live edukasi telah dilakukan melalui akun pribadi Kat@Bubid, yang saat ini memiliki 2.283 followers. Sementara akun Diklat KKB Garut yang relatif baru memiliki 160 followers.
Perbedaan karakter kedua kanal tersebut menjadi peluang kolaborasi.
Pengalaman komunikasi digital dan audiens yang telah terbentuk melalui kanal personal dipertemukan dengan kanal kelembagaan yang sedang dibangun. Dengan demikian, instansi dapat memperluas jangkauan edukasi sekaligus memperkenalkan kanal resminya kepada masyarakat.
Akun personal menjadi pintu masuk, kanal instansi menjadi ruang untuk memperluas manfaat.
Satu Jam yang Tetap Memperhatikan Tata Kelola
Ruang Belajar dilaksanakan pukul 12.00–13.00, bertepatan dengan jam istirahat. Pemilihan waktu ini merupakan bagian dari kehati-hatian agar kegiatan edukasi tidak mengganggu pelaksanaan tugas kedinasan.
Kegiatan tersebut juga telah didukung surat penugasan dari instansi.
Hal ini menunjukkan bahwa inovasi dan tata kelola dapat berjalan bersama. Kreativitas ASN tetap perlu ditempatkan dalam koridor tanggung jawab, profesionalisme, dan kepentingan organisasi.
Bukan Sekadar Memberi Informasi
Keunggulan live adalah adanya komunikasi dua arah. Masyarakat dapat bertanya, menyampaikan pengalaman, dan mendiskusikan persoalan yang mereka hadapi.
Interaksi tersebut sekaligus memberikan masukan bagi pengembangan tema berikutnya. Dengan demikian, Ruang Belajar tidak hanya menjadi media penyampaian informasi, tetapi juga ruang untuk mendengarkan kebutuhan masyarakat.
Masyarakat tidak perlu datang ke kantor atau mengikuti kegiatan tatap muka. Mereka dapat memperoleh edukasi dari ruang digital yang sudah menjadi bagian dari keseharian.
Namun, kemudahan akses tetap harus diiringi kualitas informasi. Pengalaman 25 tahun sebagai bidan menjadi salah satu modal untuk menjaga agar edukasi kesehatan disampaikan secara bertanggung jawab, sementara perspektif pembangunan keluarga memperluas tema sesuai kebutuhan masyarakat.
Mengukur Dampak dari Manfaat
Jumlah penonton, komentar, pertanyaan, dan pertumbuhan followers dapat menjadi indikator perkembangan kanal. Namun, keberhasilan inovasi tidak berhenti pada angka.
Dampak yang lebih penting adalah ketika masyarakat memperoleh pengetahuan yang benar, memahami persoalan kesehatan, mendapatkan perspektif baru dalam pengasuhan, atau mengetahui langkah yang lebih tepat menghadapi persoalan keluarga.
Di sinilah ukuran keberhasilan pelayanan publik bergeser: bukan hanya seberapa banyak informasi disampaikan, tetapi seberapa jauh informasi tersebut memberi manfaat.
Dari Pengalaman Menjadi Manfaat
Ruang Belajar bersama Bubid menunjukkan bahwa inovasi pelayanan publik dapat lahir dari hal yang sederhana: kompetensi manusia, teknologi yang tersedia, konsistensi, dan kemauan untuk hadir di tengah masyarakat.
Bagi instansi, inovasi ini menjadi cara memperluas jangkauan edukasi publik. Bagi masyarakat, ia menghadirkan ruang belajar yang mudah dijangkau dan interaktif. Bagi ASN, pengalaman ini menunjukkan bahwa kompetensi yang dimiliki dapat terus dikembangkan menjadi manfaat publik, bahkan ketika ruang pengabdian berubah.
Pengalaman 25 tahun di ruang pelayanan menjadi bekal untuk membuka ruang belajar baru di tengah masyarakat.
Ruangnya mungkin hanya sebuah layar. Waktunya hanya satu jam. Namun, ketika pengetahuan yang tepat bertemu dengan kebutuhan masyarakat, satu jam tersebut dapat menjadi bagian dari pelayanan publik yang bermakna.
Satu jam belajar. Satu jam berbagi. Satu jam yang berdampak.

