Konten dari Pengguna

Stunting Tidak Dimulai di Balita, tetapi dari Remaja Putri

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nenden Nuraeni tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pemenuhan gizi remaja putri menjadi salah satu titik awal penting dalam pencegahan stunting lintas generasi.(Ilustrasi: Katerina Holmes/Pexels)
zoom-in-whitePerbesar
Pemenuhan gizi remaja putri menjadi salah satu titik awal penting dalam pencegahan stunting lintas generasi.(Ilustrasi: Katerina Holmes/Pexels)

Stunting masih sering dibayangkan sebagai masalah balita. Dalam banyak kampanye, gambar yang muncul biasanya anak kecil dengan pertumbuhan terhambat, berat badan rendah, atau tinggi badan yang tidak sesuai usia.

Gambaran itu tidak salah. Tetapi jika kita hanya melihat stunting saat anak sudah lahir, bahkan saat anak sudah balita, maka kita sebenarnya datang terlalu terlambat.

Stunting bukan peristiwa yang muncul tiba-tiba. Ia merupakan hasil dari proses panjang yang dapat dimulai jauh sebelum seorang anak dilahirkan. Bahkan, akar persoalannya bisa terlihat sejak seorang perempuan masih remaja.

Data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 menunjukkan prevalensi stunting nasional turun dari 21,5 persen pada 2023 menjadi 19,8 persen pada 2024. Capaian ini melampaui target 20,1 persen. Namun, pemerintah masih menargetkan penurunan menjadi 14,2 persen pada 2029. Artinya, pekerjaan belum selesai. Penurunan angka stunting tidak cukup hanya dilakukan ketika anak sudah balita. Intervensi harus dimulai lebih awal, termasuk pada remaja putri.

Stunting tidak dimulai di balita. Ia bisa dimulai dari tubuh remaja putri yang kurang gizi, anemia, dan tidak pernah disiapkan untuk menjadi calon ibu yang sehat.

Remaja Putri adalah Titik Awal Generasi

Remaja putri bukan hanya kelompok usia sekolah. Mereka adalah calon perempuan dewasa, calon ibu, dan bagian penting dari siklus kehidupan generasi berikutnya.

Ketika remaja putri mengalami kekurangan gizi, anemia, pola makan buruk, atau tidak memahami kesehatan reproduksi, dampaknya tidak selalu terlihat saat itu juga. Ia bisa muncul bertahun-tahun kemudian, ketika mereka memasuki usia dewasa, hamil, melahirkan, dan membesarkan anak.

Karena itu, membicarakan stunting hanya dari sisi balita akan membuat kebijakan pencegahan menjadi terlalu sempit. Anak yang lahir dengan risiko gangguan pertumbuhan tidak bisa dilepaskan dari kondisi kesehatan ibunya sebelum dan selama kehamilan.

Kementerian Kesehatan juga menekankan bahwa intervensi stunting perlu dilakukan sejak masa pra-kelahiran, termasuk melalui perhatian pada remaja putri dan ibu hamil. Menteri Kesehatan menyebut bahwa stunting terjadi bukan setelah lahir saja, tetapi bahkan sejak dalam kandungan.

Anemia Remaja Putri Tidak Boleh Dianggap Ringan

Salah satu masalah penting pada remaja putri adalah anemia. Pada tingkat individu, anemia sering dianggap hanya sebagai keluhan biasa: mudah lelah, pucat, pusing, sulit konsentrasi, atau cepat mengantuk.

Padahal, anemia pada remaja putri bukan hanya masalah hari ini. Ia berkaitan dengan kesiapan tubuh menghadapi fase reproduksi di masa depan.

Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan Kemenkes mencatat berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia 2023, sebanyak 54,8 persen remaja putri belum pernah mendapatkan Tablet Tambah Darah. Data yang sama juga menunjukkan 51,4 persen remaja putri tidak mengonsumsi TTD karena tidak mengetahui manfaatnya.

Angka ini menunjukkan bahwa persoalan anemia bukan hanya soal ketersediaan tablet. Ada masalah literasi, edukasi, distribusi, kepatuhan konsumsi, dan akses layanan yang perlu dibenahi secara serius.

Jika remaja putri tidak memahami mengapa mereka perlu mencegah anemia, program pemberian Tablet Tambah Darah mudah dianggap sebagai kegiatan rutin sekolah semata. Padahal, dampaknya jauh lebih besar daripada sekadar minum tablet seminggu sekali.

Sekolah Penting, tetapi Tidak Boleh Menjadi Satu-satunya Pintu

Program kesehatan remaja putri selama ini banyak bertumpu pada sekolah. Ini masuk akal karena sekolah adalah tempat yang paling mudah menjangkau remaja dalam jumlah besar.

Namun, ketergantungan pada sekolah juga menyisakan persoalan. Remaja putri yang tidak berada dalam sistem pendidikan formal berisiko tidak terjangkau. Mereka yang putus sekolah, bekerja, menikah muda, atau berada di wilayah dengan akses layanan terbatas bisa keluar dari jangkauan program.

BKPK Kemenkes mencatat akses TTD masih sangat bergantung pada sekolah, dengan proporsi mencapai 88,9 sampai 90,3 persen.

Ini menjadi catatan penting. Jika pencegahan anemia dan stunting hanya berjalan melalui sekolah, maka negara perlu memikirkan ulang strategi untuk menjangkau remaja putri di luar sekolah.

Posyandu remaja, puskesmas, kader, keluarga, organisasi kepemudaan, pesantren, tempat kerja informal, dan komunitas lokal perlu masuk dalam desain pencegahan. Remaja putri tidak boleh hilang dari radar hanya karena mereka tidak berada di ruang kelas.

Tablet Tambah Darah Bukan Sekadar Program, tetapi Investasi Generasi

Tablet Tambah Darah sering dianggap sederhana. Padahal, dalam kebijakan gizi, intervensi ini memiliki nilai strategis.

Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO merekomendasikan suplementasi zat besi dan asam folat secara berkala sebagai intervensi kesehatan masyarakat pada perempuan menstruasi di wilayah dengan prevalensi anemia 20 persen atau lebih. Tujuannya untuk memperbaiki kadar hemoglobin, status zat besi, dan menurunkan risiko anemia.

Artinya, pemberian TTD kepada remaja putri bukan program kecil. Ia merupakan bagian dari upaya besar memperkuat kesehatan perempuan sejak dini.

Namun, program ini tidak boleh berhenti pada distribusi. Tablet yang dibagikan belum tentu diminum. Tablet yang diminum belum tentu dilakukan secara teratur. Remaja yang menerima tablet belum tentu memahami mengapa ia harus mengonsumsinya.

Karena itu, edukasi menjadi kunci. Remaja putri perlu diberi penjelasan dengan bahasa yang dekat dengan kehidupan mereka. Bukan hanya diberi tahu bahwa anemia berbahaya, tetapi juga dijelaskan bagaimana anemia memengaruhi konsentrasi belajar, daya tahan tubuh, produktivitas, kesehatan reproduksi, hingga risiko kehamilan di masa depan.

Pencegahan Stunting Harus Berbasis Siklus Hidup

Jika Indonesia ingin menurunkan stunting secara berkelanjutan, pendekatannya tidak cukup hanya berbasis balita. Pencegahan harus memakai cara pandang siklus hidup.

Siklus itu dimulai dari remaja putri, calon pengantin, ibu hamil, ibu melahirkan, bayi baru lahir, bayi usia 0 sampai 6 bulan, anak usia 6 sampai 23 bulan, hingga balita. Setiap fase memiliki risiko dan kebutuhan intervensi yang berbeda.

SSGI 2024 sendiri tidak hanya mengukur status gizi balita, tetapi juga mencatat indikator intervensi spesifik dan sensitif, seperti ibu hamil mendapat TTD minimal 90 tablet, ASI eksklusif, MPASI, pemantauan tumbuh kembang balita, imunisasi dasar lengkap, akses air minum layak, sanitasi layak, kepemilikan JKN, hingga pendampingan keluarga risiko stunting.

Data ini menunjukkan bahwa stunting memang bukan persoalan tunggal. Ia terkait gizi, layanan kesehatan, pendidikan, perlindungan sosial, sanitasi, air bersih, dan perilaku keluarga.

Namun, dari semua titik intervensi itu, remaja putri sering masih kurang mendapat perhatian publik. Padahal, mereka adalah titik awal yang menentukan kualitas kehamilan di masa depan.

Mengubah Cara Pandang Publik

Selama ini, banyak keluarga baru peduli pada gizi ketika seorang perempuan sudah hamil. Bahkan ada yang baru serius ketika anak lahir dan mulai terlihat sulit naik berat badan.

Cara pandang ini perlu diubah.

Remaja putri harus dibantu memahami bahwa menjaga gizi bukan soal penampilan semata. Diet ekstrem, melewatkan sarapan, menghindari sumber protein, atau menganggap lemas sebagai hal biasa dapat berdampak pada kesehatan jangka panjang.

Keluarga juga perlu dilibatkan. Orang tua tidak cukup hanya mengingatkan anak perempuan untuk belajar dan menjaga pergaulan. Mereka juga perlu memastikan anak perempuan mendapat makanan bergizi, istirahat cukup, informasi kesehatan reproduksi yang benar, dan akses layanan ketika mengalami keluhan.

Di tingkat kebijakan, program pencegahan stunting perlu lebih berani menempatkan remaja putri sebagai sasaran utama. Bukan hanya sebagai pelengkap, tetapi sebagai fondasi.

Jangan Tunggu Anak Lahir

Stunting adalah masalah generasi. Karena itu, jawabannya juga harus lintas generasi.

Menurunkan stunting bukan hanya tentang menimbang balita, memberi makanan tambahan, atau memperbaiki pencatatan di posyandu. Semua itu penting. Tetapi pencegahan yang lebih mendasar harus dimulai sebelum seorang anak hadir di dunia.

Remaja putri yang sehat hari ini adalah calon ibu yang lebih siap di masa depan. Calon ibu yang sehat memiliki peluang lebih besar untuk menjalani kehamilan yang aman. Kehamilan yang sehat memberi peluang lebih baik bagi bayi untuk tumbuh optimal sejak awal kehidupan.

Maka, jika kita serius ingin memutus rantai stunting, jangan menunggu anak menjadi balita. Jangan menunggu ibu hamil mengalami anemia. Jangan menunggu risiko muncul di ruang persalinan.

Mulailah dari remaja putri.

Sebab generasi bebas stunting tidak hanya dibentuk setelah anak lahir. Ia mulai disiapkan sejak seorang anak perempuan tumbuh sehat, cukup gizi, bebas anemia, dan memahami tubuhnya sendiri.

Stunting tidak dimulai di balita. Ia dimulai jauh lebih awal: dari kesehatan remaja putri yang sering luput dari perhatian kita.