Konten dari Pengguna

Pawai Obor di Tanah Sunda: Menyambut Tahun Baru Islam dengan Cahaya dan Doa

Fauziyyah
Mahasiswi UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA Program Studi Ilmu Al-Qur'an Dan Tafsir
28 Juni 2025 19:49 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Pawai Obor di Tanah Sunda: Menyambut Tahun Baru Islam dengan Cahaya dan Doa
Tradisi ini menjadi simbol penerang penerang hati dan pelestarian budaya islam di tengah perubahan zaman. Dengan cahaya obor dan lantunan doa masyarakat semangat spiritual dan kebersamaan.
Fauziyyah
Tulisan dari Fauziyyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
foto oleh penulis (dokumen pribadi)
zoom-in-whitePerbesar
foto oleh penulis (dokumen pribadi)
ADVERTISEMENT
Setiap datangnya 1 Muharram, masyarakat Muslim di berbagai daerah, khususnya di Jawa Barat (wilayah Sunda), menyambutnya dengan semarak melalui pawai obor. Tradisi ini dilaksanakan setelah Maghrib sebagai simbol dimulainya Tahun Baru Islam dan penutupan catatan amal tahun sebelumnya. Pawai obor tidak hanya menjadi ekspresi syukur dan semangat hijrah, tetapi juga bagian dari budaya yang terus hidup di tengah masyarakat. Namun, muncul pertanyaan penting: Apakah pawai obor sekadar rutinitas simbolik tanpa makna, atau justru menjadi media syiar yang memperkuat semangat hijrah di awal tahun kalender Islam?
ADVERTISEMENT

Perpaduan Nilai Budaya dan Agama

Tradisi pawai obor memiliki eksistensi yang kuat di beberapa daerah Jawa Barat seperti Tasikmalaya, Garut, Bandung, dan Purwakarta. Masyarakat setempat tetap melestarikannya sebagai bentuk penyambutan 1 Muharram. Pawai obor menjadi simbol harmonisasi antara budaya lokal dan nilai keagamaan, menyalakan semangat umat Islam untuk memulai lembaran baru kehidupan serta memperbaiki diri sebagai bekal menuju akhirat.
Selama tidak bertentangan dengan ajaran Islam, tradisi ini dilestarikan bahkan dianggap sebagai bagian dari modernisasi atau pembaruan ekspresi keislaman dalam konteks budaya lokal. Mengapa demikian? Karena pawai obor bukan sekadar seremonial—di dalamnya terkandung nilai ukhuwah, semangat hijrah, dan syiar yang menghidupkan malam 1 Muharram.
Takbir dan sholawat yang dikumandangkan selama pawai menjadi wujud syukur atas datangnya tahun baru dalam kalender Islam. Momen ini mengingatkan kita bahwa Allah SWT memberi kesempatan untuk hidup lebih panjang serta menyambut awal tahun dengan harapan baru. Selain sebagai ekspresi ibadah, pawai obor juga menjadi sarana mempererat tali silaturahmi di tengah masyarakat.
ADVERTISEMENT
foto oleh penulis (dokumen pribadi)

Makna Simbolik Dan Perayaan

Secara simbolik, pawai obor terdiri dari dua kata: pawai dan obor. Pawai berarti masyarakat turun ke jalan—mulai dari anak-anak, remaja, dewasa, hingga orang tua—untuk meramaikan dan menyukseskan acara dengan mengelilingi desa atau beriringan sepanjang jalan. Sementara obor adalah alat penerang berbahan bambu yang diisi minyak tanah. Dahulu, sebelum listrik hadir, obor digunakan leluhur untuk menerangi rumah dan jalan.
Perayaan 1 Muharram tidak boleh dimaknai sebagai hiburan semata. Di baliknya, tersirat pesan mendalam tentang hijrah, jihad (perjuangan memperbaiki diri), dan penerangan spiritual. Momen ini seharusnya menjadi ajakan untuk berubah menjadi lebih baik, baik secara individual maupun sosial

Keutamaan Amalan di 1 Muharram

Berikut beberapa amalan yang dianjurkan untuk menyambut Tahun Baru Islam:
ADVERTISEMENT
Dilaksanakan pada 26 Dzulhijjah (26 Juni 2025) setelah salat Asar, disertai amalan seperti taubat, sedekah, dan zikir.
Dianjurkan membaca Yasin 3 kali (jika tidak mampu, cukup 1 kali) setelah salat Maghrib. Salah satu riwayat menyebutkan:
"Barangsiapa membaca Surat Yasin di malam hari, maka di pagi harinya ia akan diampuni." (HR Abu Ya’la dan Ibnu Hibban).
Puasa tanggal 1 Muharram (27 Juni 2025) sangat dianjurkan, begitu pula puasa di awal, pertengahan, dan akhir bulan.
Niat Puasa Muharram:
نَوَيْتُ صَوْمَ شَهْرِ مُحَرَّمَ سُنَّةً لِلَّهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma syahri Muharram sunnatan lillahi ta’ala.
Artinya: "Aku niat puasa sunnah bulan Muharram karena Allah ta’ala."
ADVERTISEMENT
Setiap bacaan diawali dengan Bismillahirrahmanirrahim. Ayat Kursi berfungsi sebagai perlindungan dari kejahatan lahir dan batin, sekaligus penolak bala.
Ayat Kursi:
ٱللَّهُ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلْحَىُّ ٱلْقَيُّومُ ۚ لَا تَأْخُذُهُۥ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ ۚ لَّهُۥ مَا فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِى ٱلْأَرْضِ ۗ مَن ذَا ٱلَّذِى يَشْفَعُ عِندَهُۥٓ إِلَّا بِإِذْنِهِۦ ۚ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ ۖ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَىْءٍ مِّنْ عِلْمِهِۦٓ إِلَّا بِمَا شَآءَ ۚ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ ۖ وَلَا يَـُٔودُهُۥ حِفْظُهُمَا ۚ وَهُوَ ٱلْعَلِىُّ ٱلْعَظِيمُ
foto oleh penulis (dokumen pribadi)
Pawai obor di Jawa Barat bukan sekadar budaya, tapi simbol hijrah spiritual yang menyatukan seni, syiar Islam, dan nilai ukhuwah. Obor yang menyala mengingatkan kita pada pentingnya penerangan hati di tahun baru.
ADVERTISEMENT
Kuncinya:
"Cahaya obor Muharram akan abadi selama kita jadikan penerang untuk hijrah hakiki."