Iran dan Pertanyaan Hegemoni Amerika

Penulis dan Mahasiswa S1 Sosiologi Universitas Terbuka
·waktu baca 10 menit
Tulisan dari Alit Teja Kepakisan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

*Perlu disclaimer dari awal, bahwa saya menulis ini tidak sebagai sebuah isu apapun melainkan murni dinamika politik, militer dan juga resensi singkat apa yang disebut sebagai Lobi Israel dalam buku Mearsheimer dan Walt.
Serangan Amerika Serikat (AS) dan juga Israel ke Iran yang dilakukan pada 28 Februari 2026, adalah sebuah pertunjukan nyata daripada Amerika Serikat yang menunjukkan agresif dalam politik luar negeri-nya. Namun, dalam pembacaan saya, memang ini tidak lepas daripada pertunjukan kembali hegemoni Amerika terutama di ranah geopolitik.
Hal yang paling terpenting untuk dilihat adalah peta baru geopolitik pasca Perang Dingin yang tidak lagi dua kutub melainkan kutub yang berpencar dengan pertumbuhan kekuatan serta kepentingan yang berkelindan di antara negara-negara yang memang sejak abad ke-21 tumbuh sebagai sebuah ancaman kepentingan nasional dari Amerika Serikat itu sendiri.
Kita bisa membaca peta ini, dengan dua cara. Pertama, pertarungan China dengan Amerika Serikat, terutama di bidang ekonomi dan perdagangan yang sejak 2001 memutuskan untuk masuk ke WTO, China memang menjadi ancaman bagi kepentingan Amerika Serikat sendiri bahkan kita kenal istilah "Trade War" dan juga oleh Graham Allison dalam The Thucydides Trap, yang juga melihat Amerika sebagai "established" dengan China yang "rise".
Kedua, pertarungan dengan Rusia. Memang, Uni Soviet sudah runtuh sejak Piagam Belavezha dan kemudian Ukraina dan negara bekas Uni Soviet itu menjadi negara yang otonom (sekali lagi otonom) dalam mengelola, namun hegemoni tetap bekerja dengan Rusia yang masih memiliki kultur "Tsar". Kultur tersebutlah yang bekerja dalam imajinasi Putin atau kita kenal Aleksandr Dugin yang merupakan filsuf Rusia yang bekerja dibalik kultur nasionalis itu.
Tapi, dua ancaman mengenai Rusia dan China, memang selalu ada dibalik bayangan - bayangan negara yang dituju oleh Amerika. Sederhana, tulisan saya yang sudah terbit di kumparan mengenai Venezuela, itu memperlihatkan adanya motif geopolitik apa dibalik Maduro dan juga logika sejarah geopolitik dan hegemoni apa yang ada dibalik Venezuela. Maka, sekarang apa yang sebenarnya ada pada Iran? Apakah serangan itu begitu saja? Atau ini adalah ada upaya melakukan de-Khomeinisasi?
Iran Perspektif Politik Murni
Tentu berbicara soal Mohammed Mossadegh, ini amatlah penting. Mengapa? Karena, Iran sebelum 1979 atau kita kenal sebagai Revolusi Iran 1979, adalah bagian penting dari Amerika Serikat. Menurut, John Mearsheimer, ada tiga wilayah strategis yang menjadi titik penting kepentingan Amerika Serikat yaitu Eropa, Asia Timur dan Timur Tengah.
Kita bisa memahami, bagaimana misalnya hubungan Saudi dengan Amerika Serikat lewat misalnya ARAMCO (Arabian American Oil Company) pada 1933, membuktikan bahwa aliansi Saudi dengan Amerika Serikat memang nyata dan penting juga bagi Amerika Serikat. Ditambah, Iran yang sangat penting bagi Amerika Serikat sehingga muncul istilah The Twin Pillars di era Presiden Nixon dan Henry Kissinger, yang mana Iran dan Arab Saudi adalah bagian penting di Timur Tengah.
Namun, semua itu berubah ketika revolusi Khomeini mengguncang yang namanya Mohammad Reza Pahlavi yang berkuasa pasca Mossadegh. Kembali pada Mossadegh, bahwa dia adalah yang melakukan nasionalisasi terhadap Anglo-Iranian Oil Company yang artinya bahwa ini adalah ancaman kepentingan nasional khususnya pada bidang energi yang mana menjadi titik penting Amerika di Timur Tengah adalah soal minyak atau sumber daya alam.
Karena itulah bahwa sekali lagi, ini kedengarannya konspirasi, namun buku yang diterbitkan oleh Tim Weiner berjudul Legacy of Ashes: The History of the CIA atau yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia yaitu Kegagalan CIA : Spinoase Amatiran Sebuah Negara Adidaya, menjelaskan faktanya bahwa ada CIA dan juga MI6 yang terlibat di dalam Operasi Ajax dengan menaikkan Reza Pahlavi.
Artinya, apa yang terjadi pada 1979 dan kemudian sampai hari ini ada kesan bahwa Iran merupakan ancaman Amerika di Timur Tengah, dimulai oleh tindakan intervensi yang dilakukan Amerika ke Iran pada Mossadegh dan munculnya revolusi pada 1979 tersebut. Ini penting untuk dipahami yang kemudian berdampak, mengapa geopolitik Timur Tengah selain Israel, juga penting membahas adanya Iran.
Kenapa kemudian saya mengatakan semacam ada "de-Khomeinisasi"? Jangan lupa bahwa variabel "Khomeinisasi" itu ada banyak antara lain : penolakan hegemoni AS (sekaligus Israel) dan juga ekspor revolusi ke luar negeri. Artinya, Khomeinisasi itu bukanlah sekedar peristiwa melainkan ada ideologi yang menjadi landasan Iran yang menurut saya sampai saat ini ada dan itu yang menjadi kepentingan Iran yang juga menjadi ancaman akan kepentingan Amerika di Timur Tengah dan juga Israel.
Soal ekspor revolusi memang kalau kita membaca cermat dari Pasal 154 Konstitusi Iran 1989 adalah bahwa :
The Islamic Republic of Iran has as its ideal human felicity throughout human society, and considers the attainment of independence, freedom, and rule of justice and truth to be the right of all people of the world. Accordingly, while scrupulously refraining from all forms of interference in the internal affairs of other nations, it supports the just struggles of the mustad'afun against the mustakbirun in every corner of the globe.
Maka apa yang dimaksud mendukung kaum tertindas (mustad'afun) itu adalah bentuk dukungan secara tidak langsung terhadap revolusi maupun yang namanya juga perjuangan, seperti Hizbullah (Hezbollah) di Lebanon dan juga Hamas di Palestina. Namun, ekspor revolusi terutama di Timur Tengah bukanlah tanpa modal yang memadai.
Hal itu tercermin pada Perang Irak dan Iran pada 1980 sampai 1988, yang mana serangan dari Irak dengan rudal itu membuat Teheran (Iran) harus berdaulat terutama di dalam bidang persenjataan dan juga teknologi perang. Diplomasi Iran yang dilakukan ke beberapa negara akibat embargo di 1979, adalah cikal bakal senjata Iran yang kini dikenal berdaulat tersebut. Iran sebagai pilar yang runtuh dalam konteks kepentingan Amerika, membuat Iran sebagai negara yang ekspansif terutama dalam menanamkan hegemoni di Timur Tengah untuk melawan Amerika Serikat.
Koalisi yang cukup kuat dalam kebijakan luar negeri selain Arab Saudi adalah Israel. Inilah yang kemudian sebenarnya bisa dibaca sebagai sebuah kebijakan Amerika yang sangat mendukung Israel juga variabel pentingnya adalah menghadapi hegemoni Iran di Timur Tengah. Maka, yang menjadi penting sekarang adalah bagaimana kemudian Amerika harus rela dalam kebijakan luar negerinya yang tidak pernah berubah akan Israel?
Membaca Lobi Israel
Untuk memahami hal ini, disarankan untuk membaca buku The Israel Lobby and U.S. Foreign Policy yang ditulis oleh John Mearsheimer dan Sthepen Walt. Kata kunci yang menarik adalah bahwasanya kebijakan yang tidak berubah akan Israel itu adalah sebuah keniscayaan, siapapun presidennya maka kebijakan terhadap Israel tidaklah berubah. Mearsheimer dan Walt sudah gamblang dalam menjelaskan hal tersebut ketika Pilpres AS 2008, tidak ada yang berubah atau berbeda dari semua kandidat termasuk Obama pula yang tidak tegas saat itu kebijakannya mengenai Israel.
Namun, apakah ini teori konspirasi? Sebenarnya tidak konspirasi. Kebijakan lobi Israel ini bukanlah sesuatu yang bercerita mengenai elit global, melainkan lebih bagaimana para "lobi" itu bekerja untuk memberikan arah kepada politik luar negeri yang selalu mengutamakan Israel, apapun rasionalitas yang dipakai. Menarik untuk menjelaskan ini, bukan sekedar teoritis melainkan secara praktis, memang bahwa kebijakan Israel itu adalah bagian dari dukungan Amerika Serikat.
Lobi Israel itu nyata sekali di Amerika, terutama Mearsheimer yang mencari alasan apa sebenarnya yang cukup masuk akal menjelaskan kenapa Israel itu sangat penting. Apakah alasan agama, strategis atau yang lainnya? Sebenarnya, tidak banyak, menurut Mearsheimer, sama sekali tidak ada yang masuk akal dibalik kebijakan Amerika yang dalam bahasanya begitu "ngebet" untuk melakukan dukungan kepada Israel.
Namun, kita bisa membahas tiga wilayah penting yang menurut Mearsheimer yang cukup penting untuk selalu dibahas yaitu Eropa, Asia Timur dan Timur Tengah. Dalam kaitannya dengan Timur Tengah, haruslah dibaca dalam kepentingan bahwa Israel adalah vasal atau proxy, sekaligus juga sebuah negara berdaulat yang juga memiliki kepentingan sekaligus. Jadi, tidak logika hitam putih. Apabila argumennya karena rezim yang demokratis di tengah monarki Timur Tengah, sebenarnya tidak masuk akal.
Yang jelas, logika realis disini bekerja daripada argumen moral dengan menggunakan bahasa Yuval Noah Harari yaitu paket liberal : hak asasi manusia, pasar bebas dan demokrasi. Sama sekali tidak itu. Lebih melihat adanya logika strategis yang begitu penting bagaimana Israel itu menjadi penting tanpa syarat dalam logika Amerika itu sendiri.
Apa contoh kebijakan Amerika yang dilakukan demi Israel? Dalam kaitannya hari ini, adalah soal Iran. Pasca perang Iran di 1980-1988, ancaman Israel atau Amerika di Timur Tengah adalah Irak. Karena itu, di dalam buku Israel Lobby tersebut dan juga dalam media Israel bernama Hareetz, dalam artikel White Man's Burden pada April 2003 menyebutkan ada 25 neokonservatif atau intelektual dibalik penyerangan ke Irak tersebut. Namun, nyatanya bahwa penyerangan untuk menumbangkan Saddam Hussein adalah menghancurkan sekaligus memberikan peran Iran masuk ke Irak akibat kekosongan kekuasaan.
Sehingga, Iran makin memperkuat akarnya terutama di Israel dengan Hamas dan juga dengan negara seperti Suriah dan juga Irak lalu kemudian merembet kepada Lebanon. Namun, yang penting bahwasanya mereka selain bagian Iran, dibaliknya ada Rusia yang juga merupakan musuh Amerika. Sehingga, kebijakan lobi Israel tersebut justru menjadi pukulan bagi Amerika sendiri. Pertanyaan hari ini, bagaimana kemudian jika Amerika lewat Washington ingin mengembalikan hegemoni dan kemudian kebijakan ini meski bukan berasal dari lobi tetapi tidak memperhatikan hal yang lain yaitu bahwasanya apakah memang kemudian ini hanya persoalan ambisi Trump atau sebenarnya ada faktor yang memang membuat menyerang Iran hari ini menjadi penting?
Satu, Iran yang memang sudah melihat adanya program nuklir di Teheran? Kedua, jaringan Iran yang memang menjadi musuh Israel dan yang ketiga soal posisi Iran di dalam geopolitik atau geostrategis terutama Selat Hormuz? Maka, dalam perspektif lobi Israel, sekalipun Iran adalah ancaman dan harus diselesaikan namun tentu saja Washington barangkali memiliki perhitungan tersendiri di dalam geopolitik dan juga keamanan untuk wilayah yang menurut Mearsheimer cukup strategis.
Menang Untuk Berakhir? Sebuah Paradoks
Pertanyaan selanjutnya selain sejarah soal Iran, apakah sungguh sebenarnya bahwa hegemoni Amerika akan kembali? Mengapa ini penting? Karena, kita tahu bersama bahwa sejak invasi Rusia ke Ukraina tersebut, sebenarnya ada framing yang secara tidak sengaja bahwa Amerika sekaligus NATO sudah mulai terpukul akan invasi Putin tersebut.
Hal yang paling penting adalah dilihat soal sejarah. Kita merujuk kepada Inggris, sebagai sebuah negara yang tumbuh sebagai revolusi industri dan maju pesat hingga akhirnya ekspansinya dikenal sebagai bagian dari kolonialisme. Namun, apakah ini akan sama dengan Amerika hari ini?
Saya membaca dengan cukup serius, terutama dalam buku Fareed Zakaria berjudul The Post-American World, yang memperlihatkan adanya kejanggalan Inggris yaitu bahkan menurut Zakaria sudah terlihat saat Diamond Jubilee of Queen Victoria pada 1897, yang mana saat itu Inggris tampil sebagai imperium yaitu kapal, koloni, parade kekaisaran dan London yang menjadi pusat dunia. Zakaria, melihatnya lain. Bahwa kekuatan ekonomi (pengaruh yang paling signifikan) sudah mulai tertinggal ketika kompetitor mulai muncul, yang mana revolusi industri sudah kian bertumbuh di negara selain Inggris.
Saat ini, kita bisa lihat bagaimana perang dagang atau perang ekonomi ini memang selalu melibatkan Amerika, yang mana kebijakan Trump akan tarif kepada China dan negara lainnya memang memperlihatkan ada sisi ekonomi yang tidak seimbang. Bahkan, ketika perang Rusia dan Ukraina terjadi pada Februari 2022, yang terjadi adalah The Fed menaikkan suku bunga dengan sangat signifikan yang membuat Amerika juga berpikir terutama soal hutang yang menumpuk dengan bunga yang tinggi.
Karena itulah, penting untuk membaca apakah benar hegemoni ini akan kembali? Saya membacanya tidak secara hitam dan putih, namun untuk refleksi geopolitik barangkali dipertimbangkan bahwa apakah bisa jadi Iran ini adalah "Diamond Jubilee"-nya Washington terutama demonstrasi kekuatan militer dan mempertahankan hegemoni di tiga wilayah geopolitik yang cukup signifikan menurut Mearsheimer salah satunya Timur Tengah tersebut?
Sebab, sekalipun Reza Pahlavi meminta merebut kota oleh demonstran pada 10 Januari, namun nyatanya "De-Khomeinisasi" atau mencabut revolusi 1979 itu tidak mudah dengan serangan. Bahkan, kita bisa mengutip seorang pakar Rusia bernama Sthepen Kotkin bahwa perang adalah about winning the peace. Yeah. Wars are generally a miscalculation. Apakah kelak kesalahan kalkulasi yang awalnya ingin mengakarkan hegemoni lantas menjadi pedang bermata dua?
Kita harus memahami dalam perspektif Thucydides Trap, bahwa ada yang "established" dengan "rise" dan Iran tentu bukan "established" maupun "rise" melainkan regional power, atau mudahnya kekuatan yang berpengaruh kontra di Timur Tengah dengan kepentingan Amerika sendiri. Karena itu, pasca 2003 terutama setelah Irak diserang, pengaruh Iran cukup kuat dan disamping itu Iran dimasukkan dalam variabel penting di buku Israel Lobby meskipun diserang oleh sanksi barat, inflasi maupun investasi yang cenderung rendah.
Karena itu, apakah kemudian ini merupakan lebih kepada kepentingan Israel sekaligus Amerika? Namun, bukan itu yang penting, apakah akhir dari serangan ini kemudian memperkuat atau hanya ingin menang saja tanpa kemudian mempedulikan hegemoni Amerika itu sendiri? Ini yang harus dijawab.
