Laut dan Para Hantu

Penulis dan Mahasiswa S1 Sosiologi Universitas Terbuka
·waktu baca 10 menit
Tulisan dari Alit Teja Kepakisan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

*Sebuah catatan kaki untuk Mas Laut dan Jangkar yang tenggelam di arus deras namun hantunya masih bergentayangan, bukan di Eropa, melainkan di Indonesia.
Scroll TikTok beberapa bulan terakhir atau mungkin sejak booming buku Madilog di keranjang kuning, memang terjadi yang disebut sebagai "Booming Kiri", mungkin tidak sefantastis ketika Pertamina dibawah Ibnu Sutowo mengalami "Booming Oil" dan itu menguntungkan Pertamina dekade 1970-an. Namun, apa sebenarnya yang terjadi? Mengapa romantisisme kiri kembali menguat?
Kiri, disini bukanlah sesederhana seperti lagu Iksan Skuter berjudul Bingung, yang liriknya "Kiri dibilang kumanis (eh, Komunis), kanan di cap kapitalis". Namun, kiri itu ya bisa dibilang adalah sebuah hal yang cukup menggoda dan bahkan sangat "edgy" pada masa Orde Baru. Tentu, celetukan ini bukan karena saya menyaksikan sendiri, sebab saya sendiri adalah Gen Z (bacanya bisa Gen Zet, Genzi atau Takiya Genzi, Hahaha).
Namun, apa sebenarnya yang terjadi ketika buku seperti Laut Bercerita dari Leila S. Chudori, Madilog, Aksi Massa dan buku lainnya dari Tan Malaka lalu juga banyak lagi. Apa sebenarnya yang menjadikan kiri ini menjadi begitu menjadi hantu sehingga bergentayangan menghiasi etalase dan keranjang kuning?
Lawan Kata Kiri Bukan Kanan, Tapi?
Jangan pernah bicara soal lawan kata disini. Lawan kata disini harus benar - benar melihat konteks apa yang melatari bahwa lawan kata kiri adalah bukan kanan, tengah, atas atau bawah, melainkan satu hal yang sering saya tulis : militer. Lho, kok bisa?
Ya, mungkin Anda saya tidak perlu ceritakan soal namlima (baca : 1965). terlalu detail, terutama bicara soal Biro Khusus apalagi mengutip Aidit, Sjam, Soepardjo dan lainnya Mungkin, beberapa foto yang ada dalam beberapa berita ini, adalah sebuah gambaran.
Kebayang kan, Soe Hok Gie saja disita karena dia kiri. Padahal, ya bagi orang yang sudah tahu siapa itu Soe Hok Gie, apalagi membaca memoar yang sikapnya sangat "edgy" sejak masa Demokrasi Terpimpin yaitu Catatan Seorang Demonstran (1983), sebenarnya agak aneh. Sebab, kritik yang dimulai dari memakan kulit mangga itu justru sebenarnya sangat anti terhadap Paduka Yang Mulia/Panglima Tertinggi Presiden Soekarno (baca : Nasakom, casu quo Kom). Tapi, dari dua gambar ini minimal pembaca yang budiman (Bukan Budiman Sudjatmiko, dia dulu kiri juga), minimal sudah mendapatkan gambaran kenapa militer (casu quo TNI) ini sangat anti terhadap kiri.
Tapi, penyebabnya apa? Apa sekedar 1965?
Memoar wartawan Angkatan Bersenjata, Salim Said yang saat itu dibawah pimpinan Brigadir Jenderal Sugandhi. Dalam kisah Salim Said, setelah hari pertama dengan dua sinergi antara Mayor Jenderal TNI Soeharto dengan Kolonel Sarwo Edhie yang merupakan Komandan RPKAD (Resimen Para Komando Angkatan Darat) yang berhasil mengamankan dua titik yaitu Halim dan RRI, bahwa Salim Said dan para perwira - perwira yang bercerita malamnya mendengar celetukan bahwa peristiwa Madiun pada 18 September 1948 akan terulang lagi.
Lantas, apa itu Madiun? Disinilah dia, Madiun dan Lubang Buaya, boleh kata adalah hantu September yang menjadi musuh ideologi negara kemudian. Peristiwa Madiun 1948 itu terjadi ketika masa revolusi (1945-1950), yang mana Madiun saat itu dengan Front Demokrasi Rakyat (FDR) dari Amir Sjarifudin yang merupakan mantan (mantan, ya) Menteri Pertahanan dan juga Perdana Menteri itu melakukan pemberontakan.
Singkat cerita, disitu ada Musso yang juga baru pulang dari Uni Soviet dan bersama Amir Sjarifudin akhirnya berhasil ditumpas. Namun, saat itu Nugroho Notosusanto adalah tentara pelajar sekaligus yang digambarkan oleh Katharine McGregor sebagai Nugroho Notosusanto: The legacy of a Historian in the Service of an Authoritarian Regime, sehingga dia tidak bisa melakukan penulisan layaknya pasca namlima tersebut. Karena, 19 Desember 1948, Belanda melakukan agresi militer kembali dan akhirnya ibukota yang pindah dari Jakarta ke Yogyakarta (tanpa pembuatan UU IKN), akhirnya pindah lagi ke Bukittinggi dan disinilah disebut sebagai Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI).
Dan, 1948 ke 1965 baru 17 tahun, layaknya kita merasakan reformasi pada 1998 sampai hari ini, ingatannya begitu segar. Sehingga, kita bisa melihat cuplikan film Penumpasan Pengkhianatan G 30 S PKI, bisa melihat bahwa ketika Soeharto kedatangan Sarwo Edhie di Kostrad dan memberi tahukan bahwa apa itu pidato Untung (Letnan Kolonel Untung, maksudnya) lantas kemudian disebut bahwa PKI ada di belakang itu semua.
Pada intinya, di Kostrad itulah bahwa saksi penumpasan itu terjadi dan kemudian Orde Baru dengan para pujangga sastra-nya, dalam bahasa Wijaya Herlambang, berhasil melakukan yang disebut sebagai kekerasan yang sah (Wijaya Herlambang , 2013 : 128). Ya, mau bagaimana lagi. Pada intinya dengan Ketetapan MPR Nomor XXV/MPRS/1966 Tahun 1966 tentang Pembubaran Partai Komunis Indonesia, maka ABRI (casu quo TNI) dengan Sapta Marga butir (2) yaitu "Kami Patriot Indonesia, pendukung serta pembela ideologi negara yang bertanggung jawab dan tidak mengenal menyerah", maka TNI akan melawan siapapun itu yang bertentangan dengan ideologi negara.
Maka, kalau menggunakan logika yang digunakan oleh Benny Moerdani sebagaimana dalam catatan Salim Said (2002) dan juga Ali Moertopo (1981), bahwa peran TNI (casu quo Angkatan Darat) pada tahun 1950 sampai dengan 1965 (kira-kira) itu adalah bukti kegagalan sipil sehingga dwifungsi yang masuk melalui Dekrit 5 Juli 1959 dengan kembalinya UUD 1945, tentara masuk sebagai bagian dari golongan adalah konsekuensi logis. Salim Said, menafsirkan apa yang ditulis oleh Ali Moertopo sebagai "sipil yang seolah-olah tertindas" (Salim Said, 2002 : 111).
Karena itulah bahwa dwifungsi itu adalah sebuah keniscayaan. Tapi, kembali ke laptop, bahwa kiri dan TNI sebagai pembela ideologi negara melawan ideologi yang sudah dilarang negara ini adalah memang tugas. Tetapi, kaitannya dengan kiri jangan lupa bahwa ada yang disebut sebagai "Metode Jakarta". Apa itu "Metode Jakarta"? Sederhananya, apa yang terjadi di namlima, itu terjadi di negara lain dimana pada masa Perang Dingin, kekuatan kiri di hajar oleh militer (bukan TNI tentunya) di negara - negara tersebut.
Jadi, apakah lawan kata kiri adalah militer merupakan pola yang universal? Bisa jadi. Tapi ini bukan argumentasi yang melalui prosedur penelitian atau menggunakan variabel, ya.
Melawan Kiri di Puncak, Bumerang Pun Kena
Setelah Orde Baru mengalami bisul akibat Piagam Belavezha ditandatangani dan adanya sulap Uni Soviet resmi bubar pada 1991, akhirnya "hantu" yang resmi menakutkan itu perlahan mulai menjadi sebuah hantu yang tidak horor lagi. Namun, apa yang terjadi pada Orde Baru, bahwa setiap saja pemerintah mencurigai adanya gerakan, kerusuhan atau pun semacam mimbar pendapat, kata - kata yang muncul selain menggangu stabilitas adalah komunisme.
Ya, itulah dia. Namun, hantu itu kemudian hilang dan bisul kemudian muncul secara perlahan. Bisul itu pun tanpa mata, sehingga tidak mampu untuk dilihat secara kasat mata, bahwa apakah memang benar komunisme masih sebuah ancaman yang menakutkan setelah operasi militer selain perang (OMSP) yang dilakukan para pujangga (sastrawan) dan juga ekonom yang berhasil membuat garis demarkasi bahwa Orde Lama (variabelnya pasti ada Komunisme) itu penuh kelaparan sedangkan Orde Baru penuh dengan beras dan foto Presiden Soeharto di sawah - sawah tersebut?
Nyatanya, Nasution dalam pendapatnya mengatakan “Musuh kita bukan PKI saja, tapi ketidakadilan sosial. Ketidakadilan sosial ini bisa bermacam-macam. Misalnya ucapan yang tak serasi dengan perbuatan (munafik), gemar membuat ‘killing ground’ (menjebak orang lain tanpa salah), gemar menyebar fitnah terhadap orang yang tak bersalah,” ucap Nasution dalam Warnasari, No. 200, September 1995.
Namun, nyatanya bahwa apa yang disebut hantu itu memang kemudian menjadi sesuatu yang istimewa. Kenapa demikian? Ya, mereka yang disebut sebagai "subversif" atau di cap apapun oleh Kopkamtib atau siapapun, pada nyatanya generasi saat itu memang disebut "rizz" atau juga "sigma". Sebab, memang dalam setiap zaman, akan ada yang disebut oleh mereka yang ingin terlihat "edgy" supaya terlihat "rizz" dan juga "sigma". Namun, nyata bahwa mereka yang kini dikenang memang perjuangannya layak disebut sebagai "rizz" bahkan "sigma".
Kenapa demikian? Karena, ketakutan akan hantu, lupa menghadirkan apa yang disebut sebagai keadilan sosial. Sehingga, sibuknya Pemerintah saat itu membendung ideologi para hantu itu dengan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1985 tentang Partai Politik dan Golongan Karya dan juga Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1985 tentang Organisasi Kemasyarakatan, maka mereka lupa yang substantif adalah apakah bahwa meningkatnya kelas menengah itu kemudian bukan ancaman?
Kenapa generasi muda ini layak disebut ancaman akibat sebuah pembangunan itu? Dan jangan lupa, dominasi pecahnya bisul (baca: 1998) itu juga serangan para generasi muda mahasiswa, aktivis dan juga kelas menengah saat itu, Kita menggunakan pendekatan saksi sejarah dari memoar atau otobiografi, Salim Said (2013) menuliskan sebuah paper (istilah keren) kepada Panglima ABRI Jenderal TNI Feisal Tanjung yaitu Menjelang Perubahan pada tahun 1997. Bahwa apa yang menyebabkan generasi muda itu tetap "melawan" sekalipun mereka merasakan perbaikan kualitas hidup berdasarkan perbandingannya dengan Orde Lama yang antri beras harus bergabung dengan SOBSI tersebut?
Tiga hal, penyalahgunaan kekuasaan (abuse of power), iklim yang korup, dan kebijakan yang buruk (Salim Said, 2013: 400). Jadi, berkaca pada tiga hal tersebut, stabilitas itu kemudian bisa ditiup oleh angin dari Bangkok yang menghasilkan krisis moneter. Maka, sebenarnya apa yang ada pada novel Leila S. Chudori adalah bukan melankolisasi atas sebuah terumbu karang dan jangkar kapal yang tenggelam, melainkan bertanya mengapa arwah para hantu yang sudah tenggelam dengan Mas Laut itu akan selalu ada?
Sebab, kiri memang bukan hantu. Menekan kiri adalah bumerang apabila yang mengatakan kiri itu adalah hantu, maka bumerang itu akan kemudian mengenai bisul yang tidak disadari.
Laut dan Para Hantunya
Saya menulis beberapa kali artikel, bicara mengenai buku, Orde Baru bahkan PDIP (khususnya kaitan dengan Kudatuli), saya selalu untuk sebisa mungkin menjadikan buku Laut Bercerita dari Leila S. Chudori ini sebagai sebuah konsiderans bahwa perjuangan hantu - hantu itu ternyata memang nyatanya tidaklah mudah. Bahkan, para hantu itu pun harus membaca di Rumah Hantu, Seyegan, Yogyakarta pada 1991.
Namun, apa yang diperjuangkan oleh Mas Laut (dkk) misalnya dalam tindakan aktivisme bukanlah sebuah tindakan yang memang layak dihadapi oleh militer dengan Operasi Militer Selain Perang (OMSP). Sama sekali tidak. Ketakutan akan terkikisnya ideologi negara yang dihadapinya dengan bedil dan mesiu tersebut nyatanya menjadikan hiperrealitas sebagaimana dalam istilah Jean Baudrillard.
Tapi, apa yang kemudian terjadi adalah bahwasanya kiri itu akan tetap jadi hantu yang akan menggentayangi, tidak lagi oleh Uni Soviet (casu quo pihak asing) melainkan tergantung bagaimana kita apakah bisa menghasilkan keadilan itu atau tidak. Eki (Ekstrim Kiri) dan Eka (Ekstrim Kanan) ini akan menjadi hantu siapapun rezimnya, selama mereka yang menjadi Panglima Tertinggi memahami bahwa ini bukan sekedar ideologi dan "stempelisasi" musuh begitu saja.
Melainkan, memahami. Benar, apa yang dikatakan Salim Said (2016) bahwa komunisme sudah bangkrut. Namun, kiri dan komunisme memang beririsan, namun kiri adalah stempelisasi bahasa pergerakan dan aktivisme yang terlajur sudah menjadi cap sebagai gangguan akan stabilitas politik dan pembangunan yang selalu dibanggakan. Karena itu, jangan heran apabila hantu - hantu ini akan kemudian tetap menjadi gentayangan menghantui apabila tiga hal yang dikatakan Salim Said sejak tahun 1997 yaitu penyalahgunaan kekuasaan (abuse of power), iklim yang korup, dan kebijakan yang buruk.
Karena itu, menjelang Reza Rahadian, Dian Sastrowardoyo, dan kawan lainnya yang memerankan Laut Bercerita ini akan tayang, sebagai sebuah pelajaran bahwa apapun itu, seperti yang dikatakan oleh Rocky Gerung (2018) bahwa Laut Bercerita adalah sebuah arsip ontologis yang hanya dapat diakses oleh hasrat mendatangkan keadilan.
Karena itu, melihat apa yang dikatakan oleh Rocky Gerung adalah membaca Laut Bercerita bukan hanya memori sejarah melainkan pengandaian akan "politics of hope", yang mana tulisan ini juga berisi "politics of hope" yang mana menggunakan sejarah sebagai fundamen dalam membahasakan Laut Bercerita sebagai bukti bahwa pencarian akan keadilan justru berakhir dengan tragis dari seorang yang merasa dirinya sebagai pelaksana keadilan sebagaimana dalam ideologi negara.
Sehingga, apakah fenomena banyaknya buku kiri yang makin naik di keranjang kuning atau etalase live itu adalah sebuah hantu? Bisa jadi. Dia bukan hanya terjangkar di laut melainkan juga menancap di darat. Karena itu, upaya Menteri Kebudayaan kita Fadli Zon dalam meresmikan yang sudah resmi yaitu misalnya bahaya Komunisme, adalah sesungguhnya hal yang sia - sia. Sebab, dia adalah hantu yang melawan ketidakadilan.
*Sebagian diambil dari tulisan saya di kumparan berjudul Hantu Itu Bernama Buku, Nulis Sejarah Resmi atau Mengulang Sejarah, Mirip Dikit! dan Bayangan Merah di Bulan September.
