Dilema Seni dan Ekonomi: Sebuah Perjalanan Ondel-Ondel Menembus Lorong Waktu Jakarta

Bagiku hanya ada dua keningratan, keningratan budi dan akal.
Tulisan dari Nesia Qurrota A39yuni tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pengamen Ondel-ondel di kawasan Taman Ismail Marzuki/dok. M. Fadli Rizal
"Jika seni bertujuan untuk memelihara akar dari budaya kita, masyarakat harus membiarkan seniman bebas mengikuti visi mereka masing-masing ke manapun hal itu membawa mereka.” John F. Kennedy-Presiden Amerika Serikat ke-35
Tidak dapat dimungkiri bahwa dalam mendeskripsikan suatu kota di Indonesia, budaya adalah hal yang sering dirujuk. Hal tersebut menjadi sebuah kewajaran yang patut disyukuri masyarakat Indonesia karena telah ditakdirkan hidup dalam ragam budaya yang kaya. Sebagai sebuah contoh di sini, jika bertanya mengenai ‘Jakarta’, banyak orang akan menyebutkan Ondel-ondel. Mengenai Ondel-ondel sendiri, ia adalah suatu ikon Jakarta dan telah berjalan jauh menembus ruang waktu.
Dalam sejarahnya, Ondel-ondel telah ada saat masyarakat Betawi masih menganut animisme/dinamisme. Ondel-ondel diposisikan dalam pelbagai fungsi, disesuaikan dengan kondisi masyarakat Betawi yang agraris saat itu. Ondel-ondel dapat menjadi alat tolak bala; menjadi alat pengusir setan dan gangguan bersifat mistis; dan lain sebagainya. Itu fungsi Ondel-ondel dalam ruang masa lalu, lantas bagaimana Ondel-ondel hidup pada era milenial?
Jika kita berjalan menelusuri lorong-lorong Jakarta, tidaklah kaget bila menjumpai Ondel-ondel yang tak lagi berjalan berpasangan. Mereka tak lagi berjalan diiringi merdunya alunan musik tradisional Betawi. Mereka kadang berjalan dengan sebuah radio kecil yang musiknya kadang tak lagi merepresentasikan kesenian Betawi. Bahkan ada yang tidak ditemani musik apapun, mereka hanya berjalan dengan sebuah ember di genggamannya.
Keberadaan Ondel-ondel jenis di atas lantas membuat pemerintah DKI Jakarta bergerak. Pemerintah melalui dinas sosial mengategorikan Ondel-ondel jalanan ini dalam Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) melalui Peraturan Gubernur Tahun 2014. Ondel-ondel jenis ini menjadi bagian PMKS dalam kategori pengemis. Mereka kemudian menjelma menjadi pasien-pasien dari dinas sosial.
Mengapa seni yang identik dengan Jakarta ini kemudian diperlakukan demikian? Adakah hal yang salah dengan Ondel-ondel bila digunakan sebagai alat untuk bertahan hidup?
Berkenalan dengan Ondel-Ondel Betawi: Si Raksasa Pengusir Roh Jahat
Ondel-ondel sebagai ikon Jakarta pada hakikatnya merupakan sebuah perwujudan boneka kayu besar berukuran 3—3,5 meter yang berkembang mengikuti perkembangan kotanya. Di balik kisah panjangnya, Ondel-ondel yang identik dengan masyarakat Betawi, ternyata menyimpan fungsi yang terus berkembang.
Ondel-ondel pertama kali dikenal dengan nama Barungan. Nama itu berasal dari Bahasa Betawi Arkais yang berarti kumpulan, komunitas, dan diterjemahkan oleh masyarakat sekarang menjadi sanggar. Barungan melakukan aktivitas secara rombongan. Artinya ada sepasang boneka besar yang diiringi dengan alunan musik Betawi. Baru memasuki awal abad ke-19 Barungan berubah nama menjadi Ondel-ondel.
Dahulu kala, Ondel-ondel pertama kali dilestarikan oleh masyarakat Betawi Udik. Masyarakat Betawi Udik adalah satu dari tiga jenis masyarakat Betawi, antara lain Betawi Kota dan Betawi Pinggir. Masyarakat Betawi Udik adalah mereka yang tinggal berbatasan dengan masyarakat yang berbudaya Sunda.
Pada umumnya, kesenian-kesenian Indonesia memiliki hubungan dengan hal-hal mistis, begitupun dengan Ondel-ondel. Hubungan erat Ondel-ondel dengan hal mistis diungkapkan oleh Yahya Andi Saputra, Budayawan Betawi yang juga merupakan wakil ketua Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB).
“Ondel-ondel itu kesenian tradisional Betawi yang memang sudah muncul sebelum Islam datang. Ia simbol dari kekuatan gaib, yang oleh orang Betawi diyakini memiliki kekuatan dan kekuatanya itu memiliki fungsi. Fungsinya macem-macem, ada fungsi tolak bala, ada fungsi jaga kampung, ada fungsi bersih desa, ada fungsi menjaga gagal panen. Cerita Yahya.

Wawancara dengan Yahya Andi Saputra/ dok. M.Fadli Rizal
Senada dengan Yahya, sejarawan Betawi Universitas Indonesia, Siswantari juga menjelaskan hubungan Ondel-ondel dengan hal-hal mistis.
“Dia boneka tapi mempunyai fungsi penting secara ritual. Fungsi itu untuk tolak bala sebenarnya. Jadi Ondel-ondel ini sebagai ritual dari masyarakat Betawi yang saat itu agraris untuk menyambut hasil panen. Kemudian juga sebagai tolak bala untuk mengusir penyakit dan lain -lain.” Jelas Siswantari.

Siswantari saat diwawancari kumparan/dok. Tamara Anastasia Wijaya
Mengacu pada fungsinya di atas, Ondel-ondel merupakan personifikasi dari kekuatan yang maha besar. Masyarakat Betawi meyakini kekuatan yang disimbolisasikan dalam tanda atau boneka raksasa itu adalah alat untuk mengusir roh jahat yang berpotensi mengganggu kehidupan yang bercorak agraris saat itu.
Ondel-Ondel di Mata Masyarakat Milenial Ibu Kota
Ada pergeseran nilai yang begitu jelas jika kita melihat konteks Ondel-ondel pada masa lalu dengan Ondel-ondel pada era milenial. Jika kita melihat jauh ke belakang, Ondel-ondel adalah rupa dari kesenian yang disakralkan.
Walakin, seiring perkembangan zaman Ondel-ondel banyak digunakan sebagai alat mengamen. Selain itu, Ondel-ondel yang harusnya sepasang saat ini banyak yang tampil sendiri. Padahal maksud dari Ondel-ondel ditampilkan berpasangan adalah simbol dari keseimbangan yang ada di dunia, ada siang ada malam; ada hidup dan ada mati.
Berdasarkan investigasi kumparan, Ryan (22) saat ditemui di Universitas Indonesia, Jumat (10/11) siang mengatakan bahwa saat ini kita harus mengeluarkan uang terlebih dahulu untuk dapat menikmati Ondel-ondel.
“Jadi gini, kalau untuk acara-acara khusus biasanya lengkap komplet dengan segala macam orkestranya itu, tapi ada ondel-ondel yang jadi musisi jalanan itu, nah itu yang biasanya sendiri,” ungkap Ryan yang saat ini merupakan mahasiswa akhir Sastra Inggris Universitas Indonesia.
Di sisi lain, Dwita (16) salah satu siswi SMA Labschool Jakarta, mengaku bahwa Ondel-ondel saat ini lebih sering untuk mengamen. Selaras dengan Dwita, Yoga (18) mahasiswa Jurusan Ilmu Perpustakaan Universitas Indonesia mengatakan hal yang sama.
“Kalau Ondel-ondel zaman dulu itu ya dia itu emang ada panggung-panggung khususnya, kalau sekarang mah tu ya buat ngamen,” ujar laki-laki berambut ikal tersebut.
Sementara itu, Aldo (22) yang kumparan temui di Taman Ismail Marzuki mengatakan bahwa Ondel-ondel saat ini hanya bisa ditemui di beberapa tempat di Jakarta, tidak seperti dulu yang dapat ia temukan dengan mudah.
“Ondel-ondel dulu mungkin banyak kita lihat di mana aja, cuman sekarang Ondel-ondel yang sekarang kita lihat mungkin di tempat-tempat tertentu yang ramai kayak di Monas, Kota Tua. Dah gak kaya dulu lah, kalau dulu banyak di mana-mana,” keluh laki-laki kelahiran Bogor tersebut.
Ketika Ondel-Ondel Menjadi Bagian dari Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial
Ketidakmapanan ekonomi serta banyaknya penduduk luar kota Jakarta yang tidak memiliki pekerjaan datang ke ibu kota menimbulkan banyak permasalahan sosial dan kesenjangan ekonomi. Kondisi tersebut menyebabkan meningkatnya pengangguran hingga bermuara pada bertambahnya jumlah Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) di Jakarta. Salah satunya ialah pengamen yang dalam realitasnya memiliki banyak wujud dan bentuk.
Mengamati fenomena di atas ada satu hal yang menarik, yakni eksistensi pengamen yang menggunakan seni tradisional. Sebagai contohnya adalah Ondel-ondel yang banyak ditemui di jalanan ibu kota.
Sejatinya, Ondel-ondel yang dulunya disebut Barungan sangat melekat dengan budaya Betawi. Ondel-ondel terdaftar sebagai salah satu dari delapan ikon budaya Betawi yang diatur dalam Pergub No 11 tahun 2017 tentang ikon Budaya Betawi. Berdasarkan regulasi itu disebutkan bahwa secara filosofi Ondel-ondel bermakna sebagai perlambang kekuatan yang memiliki kemampuan memelihara keamanan dan ketertiban, tegar, berani, tegas, jujur, dan antimanipulasi. Regulasi tersebut juga menyebutkan dengan jelas fungsi serta penggunaan dan penempatan Ondel-ondel, yaitu sebagai pelengkap berbagai upacara adat tradisional masyarakat Betawi; sebagai dekorasi pada acara seremonial Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, festival, pentas, dan pameran; dan lain sebagainya.
Akan tetapi, menanggapi adanya Ondel-ondel yang ada di jalanan, Kepala Seksi Humas Dinas Sosial DKI, Miftahul Huda mengatakan bahwa Ondel-ondel yang mengamen termasuk dalam PMKS. Hal itu tercantum jelas dalam Pergub No. 169 mengenai Pola Penanganan Penyandang Permasalahan Kesejahteraan Sosial. Dalam pasal 4 disebutkan ada 22 kategori yang dimasukkan ke dalam PMKS di antaranya adalah pengemis. Dalam kategori pengemis inilah Ondel-ondel yang digunakan sebagai alat mengamen atau meminta-minta tergolong dalam PMKS dan harus direhabilitasi.
“Memang mereka itu sifatnya mengamen, bukan seperti pada umumnya, namun Ondel ondel itu budaya khas Betawi sifatnya kesenian tradisi dan bukan asal asal dipertunjukkan apalagi dibuat untuk mengemis dan meminta-minta. Jika Tujuanya mempublikasikan budaya Ondel-ondel kita sudah fasilitasi pementasan tradisi Ondel-ondel, kita sudah sediakan gedung gedung pertunjukan kesenian Ondel-ondel khas Betawi. Jadi bukan bahan untuk minta-minta. Di beberapa event DKI kita juga tetap menampilkan kesenian khas daerah DKI Jakarta ini. Ungkap Miftahul Hudaa.
Di satu sisi, keberadaan Ondel-ondel jenis ini dianggap mengganggu ketertiban dan kenyamanan umum.
“Pengamen ondel-ondel juga cukup menggangu ketertiban dan kenyamanan umum. Bahkan ada meminta minta secara memaksa kepada pengunjung di beberapa tempat di Jakarta dan membuat lalu lintas terganggu. Jadi jelas ini melanggar.” Tambah Miftahul huda.
Keberadaan Ondel-ondel yang demikian membuat mereka dikategorikan sebagai pengemis. Mengemis sendiri tercantum dalam pasal 504 dan pasal 505 KUHP ke-3 bahwa tindakan tersebut merupakan tindak pidana pelanggaran. Masyarakat juga harus mengetahui mereka juga dilarang memberi uang atau barang kepada pengemis sesuai Perda No 8/2007.
Membuka ‘Cerita’ di Balik Hadirnya Ondel-Ondel Jalanan
Bagaimana reaksimu ketika bertemu Ondel-ondel yang berkeliling mencari uang? Atau lebih jelasnya mereka yang ‘mengamen’, salahkah mereka ketika kemudian digolongkan sebagai PMKS?
“Ngamen itu dalam kesenian tradisional menjadi salah satu cara bagi mereka (Ondel-ondel) untuk bertahan hidup. Nah, memang kemudian di zaman sekarang ini bukan hanya orang ngamen gitar itu penyanyi jalanan itu segala macam, tapi kesenian besar seperti Ondel-ondel ini juga dimanfaatkan untuk tujuan-tujuan cari duit. Jadi ada oknum tertentu yang memanfaatkan kesenian ini dan dia jeli matanya bahwa ini menghasilkan fulus maka dimanfaatkanlah ia tanpa mempertimbangkan pakem atau kepatutan dari kesenian yang bersangkutan dalam hal ini Ondel-ondel.“ ujar Yahya Andi Saputra.
Selain itu Yahya juga menyampaikan bahwa mengamen menggunakan Ondel-ondel itu boleh, asalkan tetap menggunakan adat yang tepat seperti, menggunakan alat musik khas Betawi dan menggunakan sepasang Ondel-ondel (yang artinya tidak hanya satu Ondel-ondel).
Dalam misinya, kumparan secara tidak sengaja bertemu dengan salah satu sanggar Ondel-ondel yang dinamankan Bintang Azam di depan (Taman Ismail Marzuki). Terlihat sangat jelas bahwa mereka (Bintang Azam) sedang mengamen dengan menggunakan Ondel-ondel. Tapi tidak seperti yang diperkirakan oleh tim kumparan, ternyata Bintang Azam sendiri memang mengikuti aturan yang ada.
Kedua Ondel-ondel yang mereka gunakan, mengenakan pakaian bewarna hijau tua, lengkap dihiasi oleh pernak-pernik asli Betawi. Tak ketinggalan juga alat musik pengiring Ondel-ondel ikut meramaikan suasana di depan TIM pada Jumat Malam (10/11).
Saat kumparan mewawancarai Fadil ketua sanggar Bintang Azam, ia mengaku Sanggar miliknya ini memang sangat berbeda dengan Ondel-ondel yang mengamen sendiri (tidak sepasang). Menurutnya, Ondel-ondel yang hanya meminta uang dan tidak mengikuti aturan yang ada, hanya buat budaya Indonesia turun.
“Maaf ya sebelumnya, secara nggak langsung, Ondel-ondel yang kaya gitu, menurunkan budaya kita sendiri sih, awalnya kan Ondel-ondel dikenalin pakai alat musik asli Betawi, tapi kok dia malah berdiri sendiri kaya gitu? Ya kan? Jadinya kan aneh aja gitu,” tambah Fadil.
Tidak lama setelah kumparan mewawancarai Sanggar Bintang Azam, terlihat ada satu Ondel yang berjalan sendiri (tidak sepasang) beserta dengan wanita hamil yang memegang ember untuk diisikan uang oleh para pengunjung. Namun, seperti sedang dipantau oleh kumparan, Ondel-ondel itupun bergegas pergi.

Sanggar Bintang Azam/ dok.M.Rizal Fadli
Kemudian, Sabtu (11/11) kumparan kembali mendatangi TIM pada malam hari. Ternyata ada satu Ondel-ondel yang sedang berjalan sendiri dan kali ini tanpa ada orang yang menemani. Saat diajak berbicara oleh salah satu reporter kumparan, orang yang berada di balik Ondel-ondel ini bersedia untuk diwawancarai. Ia adalah Randy (15) yang merupakan satu dari banyak anak-anak yang ikut mengamen menggunakan Ondel-ondel.
Setelah ditelusuri lebih lanjut, terkuak bahwa Ondel-ondel yang berjalan sendiri pada hari sebelumnya, adalah Kakak Randy.
“Iya Kak, itu mah abang saya. Sama istrinya,’ ujar Randy.
Randy juga mengaku bahwa dirinya salah mengamen dengan hanya menggunakan satu Ondel-ondel.
“Ya salah sih tapi mau gimana Kak? Mau cari kerja juga sekarang susah, ya mending kaya gini aja. Saya sama abang juga nggak akrab, jadi ya kadang mah misah kalau ngamen. Tapi ini sebenarnya ada sanggarnya, namanya ‘Bintang Rafif‘, tapi kalau lagi sendiri, yaudah mau gimana kan, dari pada nggak ada penghasilan buat makan, “ tambah Randy.
Setiap harinya Randy harus mengangkat Ondel-ondel yang beratnya kisaran 15 sampai 20 kg dan ini bukanlah pekerjaan yang mudah untuk anak berusia 15 tahun. Ayah Randy sudah meninggal sejak dirinya masih kecil, sedangkan Ibunya sudah tidak lagi bisa bekerja akibat sakit.

Wawancara Randy Pengamen Ondel-ondel/dok. M.Fadli Rizal
Penghasilan yang didapat pun tidak banyak jika dibandingkan dengan Sanggar Bintang Azam yang bisa menghasilan Rp 800.000/hari, Randy hanya memperoleh penghasilan sekitar Rp 80.000 sampai Rp 100.000. Sekali lagi kasus Randy ini menjadi tanda bahwa permasalahan ekonomi ibu kota menghasilkan efek samping yang berkepanjangan. Degradasi nilai-nilai budaya adalah ganjaran atas sulitnya hidup di maha kerasnya ibu kota.
Ondel-Ondel Jalanan: Mengorbankan Nilai Estetika Budaya di Tengah Gempuran Ekonomi?
Secara filosofis, kebudayaan Indonesia berakar dari sistem kepercayaan lama. Bibitnya telah muncul sejak masyarakat masih menganut kepercayaan Animisme, Dinamisme, Totenisme, dan lain sebagainya. Kepercayaan itu kemudian diadopsi oleh hampir seluruh bentuk kesenian abad ke-4 Masehi. Pada masa itu secara fungsional kesenian merupakan media melaksanakan ritualitas, pemujaan yang sifatnya sakral. Fungsi religius menjadikan kesenian memiliki nilai estetik tinggi.
Ondel-ondel juga termasuk ke dalam jenis kesenian yang memiliki estetika religius. Kesenian ini bermakna sebagai perlambang kekuatan yang mampu memelihara keamanan, ritualitas untuk menolak bala dan roh jahat.
Seiring perkembangan zaman, Ondel-ondel mengalami sinkretisme dengan ajaran-ajaran agama yang masuk ke Indonesia, mulai dari Hindu-Budha sampai pada Islam. Fungsi Ondel-ondel sebagai media ritual atau pengusiran roh itu berubah menjadi ikon budaya yang dipertunjukkan pada momen-momen penting orang Betawi atau Jakarta.
Saat ini, di tengah gempuran ekonomi ibu kota yang begitu keras, Ondel-ondel menjadi sangat mudah dijumpai di jalanan Jakarta. Ondel-ondel jalanan atau ngamen Ondel-ondel ini memiliki citra yang buruk untuk dikategorikan sebagai ikon budaya. Apakah nilai estetis Ondel-ondel telah tergerus demi kebutuhan ekonomi?
Demi menelusuri fenomena ini, kumparan meminta pandangan Yahya Andi Saputra selaku wakil ketua Lembaga Kebudayaan Betawi. Ketika ditemui di Taman Ismail Marzuki pukul 17.00 WIB, Yahya menyebutkan bahwa fenomena ngamen Ondel-ondel merupakan salah satu cara bagi mereka untuk bertahan, untuk tetap memelihara seniman pada masa Kolonial.
“Lo kesenian ini lo ngamen di sekitar pasar, terminal, tapi lu boleh ngamen gue ijinin dari pukul sekian sampai sekian. Lu bayar belasting ke gua. Jadi dulu orang ngamen mendatangkan PAD Pemasukan Asli daerah, dulu begitu." tutur Yahya mengenai aturan ngamen Ondel-ondel saat masa penjajahan Belanda.
Meskipun sebagai budayawan Betawi tidak keberatan dengan ngamen ondel-ondel, Yahya juga mengakui bahwa sekarang memang banyak cara ngamen Ondel-ondel yang menyalahi pakem atau menghilangkan nilai estetikanya sebagai sebuah kesenian. Ondel-ondel yang seharusnya sepasang dan diiringi pemain musik secara langsung, sekarang banyak yang hanya satu dan bahkan tanpa diiringi musik. Ngamen yang salah inilah yang harus diedukasi menurutnya.
"Tapi ada kemudian orang-orang yang ngamen memanfaatkan kesenian inilah yang memang yang harus dikasih edukasi, dikasih pelajaran bahwa ngamen cara orang Betawi bukan seperti situ. Dulu itu pertama-tama ondel-ondelnya sepasang, pakai iringan musik komplit, kemudian pakai baju seragam yang komplit, mereka berhitung waktu-waktu yang tidak dilarang orang Betawi, misalnya magrib, lohor." terangnya lebih lanjut.
Seperti itulah dinamika yang terjadi pada ikon budaya Betawi saat ini. Ngamen Ondel-ondel di satu sisi menjadi sarana untuk orang-orang saat ini masih bisa melihat kesenian tersebut, tetapi di sisi lain justru terkesan mengurangi nilai estetika Ondel-ondel itu sendiri bahkan dikategorikan PMKS oleh pemerintah daerah.
Mengenai ihwal di atas, salahkah bila sebuah kesenian dimanipulasi sebagai alat pemenuhan kebutuhan di tengah tuntutan hidup yang begitu keras? Adalah tugas kita bersama untuk menjawab dan memeberikan solusi atas persoalan ini.
