Konten dari Pengguna

3 Dampak Toxic Relationship: Trauma hingga Depresi yang Terjadi Tanpa Sadar

Nesyana Nindiandra

Nesyana Nindiandra

Saya adalah mahasiswi aktif jurusan ilmu komunikasi di Universitas Bina Nusantara. Saat ini saya sedang menjalani perkuliahan semester tiga. Selain bekuliah, saya juga memiliki hobi mencoba berbagai macam makanan di berbagai tempat (kuliner).

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nesyana Nindiandra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi toxic relationship Foto: Resty Pangestu/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi toxic relationship Foto: Resty Pangestu/kumparan

Manusia sebagai makhluk sosial tidak lepas dari interaksi dan komunikasi. Interaksi dan komunikasi yang terjadi secara terus menerus mempengaruhi kedekatan emosional dan membentuk suatu hubungan.

Namun, dalam proses komunikasi secara interpersonal sering kali terjadi kegagalan menginterpretasikan pesan sehingga menyebabkan terjadinya tindakan di luar batas kewajaran. Hal ini dapat mengarah pada hubungan tidak sehat atau toxic relationship.

Toxic relationship merupakan istilah yang mendeskripsikan hubungan tidak sehat yang dapat berdampak buruk pada fisik maupun mental seseorang.

Perilaku toxic bisa dimotivasi oleh masalah kesehatan mental yang tidak terdiagnosis dan ketimpangan kepribadian seseorang. Penyebab orang menjadi toxic bisa jadi terkait dengan pengalaman hidupnya di masa lalu, seperti pola asuh yang buruk, kurangnya kasih sayang dari orang tua, dan bullying.

Ilustrasi pasangan bertengkar. Foto: Kmpzzz/shutterstock

Toxic relationship dapat terjadi dalam hubungan pertemanan, keluarga, asmara, dan lain-lain. Salah satu kasus toxic relationship yang marak terjadi adalah dalam hubungan asmara.

Suatu toxic relationship bahkan dapat mengganggu kehidupan sehari-hari. Dampak yang dapat dialami oleh korban toxic relationship dapat merusak kesehatan fisik atau pun mental.

Trauma adalah salah satu dampak yang paling banyak dialami oleh korban dari toxic relationship. Tidak heran apabila terdapat korban yang depresi hingga takut apabila bertemu dengan orang karena mengalami trauma berat.

Terkadang kita tidak sadar bahwa sedang dalam toxic relationship karena sudah terbiasa dalam posisi itu. Akan tetapi tidak ada kata terlambat untuk mengatasi atau bahkan mencegah hal tersebut. Menurut kumparanWOMAN, ada ciri-ciri seseorang mengalami toxic relationship yaitu:

1. Lebih Banyak Tidak Bahagia

Ilustrasi perempuan tidak bahagia. Foto: Shutterstock

Saat menjalin hubungan dengan seseorang, kita pasti akan mengharapkan yang terbaik dalam hubungan tersebut baik dalam pertemanan maupun percintaan.

Kita tentu berharap agar bisa disayangi dan dicintai. Seseorang yang berada dalam fase toxic relationship, cenderung akan merasa tertekan dan tidak bahagia.

2. Lebih Banyak Takut daripada Aman

Ilustrasi takut. Foto: Shutter Stock

Ketika seseorang lebih banyak merasa takut daripada aman dengan pasangannya merupakan salah satu ciri toxic relationship, misalnya ketika kita ingin pergi keluar rumah.

Walau keluar rumah adalah hal yang seharusnya bisa dilakukan oleh siapa saja dengan mudah, ketika terjebak dalam toxic relationship, kita akan memiliki banyak kekhawatiran jika ingin melakukannya.

Bisa jadi, kita akan takut mendapat perlakuan kasar, seperti diteriaki atau dipukul bila memutuskan untuk keluar rumah.

3. Adanya Kekerasan dalam Hubungan

Ilustrasi kekerasan. Foto: Marmalade Photos/Shutterstock

Ciri yang menandakan bahwa hubungan itu tak lagi sehat adalah ketika ada kekerasan di dalamnya. Ini bisa terjadi dalam bentuk kekerasan fisik, seperti adanya pemukulan atau pencubitan, hingga kekerasan psikis yang tidak melibatkan fisik, namun mengganggu mental kita.

Kemudian yang dapat kita lakukan untuk mengatasi toxic relationship adalah pahami apakah hubungan tersebut bisa diperbaiki atau tidak, bersikap asertif, belajar untuk percaya diri sendiri, dan jangan menghindari konflik.

Apabila dampak yang ditimbulkan oleh toxic relationship sudah tidak dapat diselesaikan secara pribadi jangan pernah takut atau malu untuk meminta bantuan profesional.

Ilustrasi pacaran. Foto: Shutter stock

Kesimpulannya kita harus lebih berhati-hati dalam menjalin hubungan dengan orang lain, cobalah untuk lebih menghargai suatu hubungan, jangan menjadi racun bagi orang lain.

Jika kita ingin membangun hubungan, kita harus memastikan diri kita sudah sembuh dari segala trauma dan siap untuk menjalankan hubungan terlebih dahulu agar tidak menyakiti bahkan merusak orang lain secara sengaja atau tidak sengaja.