Konten dari Pengguna

Peran Generasi Muda dalam Pertahankan Bahasa Indonesia di Era Digital

Nesyana Nindiandra

Nesyana Nindiandra

Saya adalah mahasiswi aktif jurusan ilmu komunikasi di Universitas Bina Nusantara. Saat ini saya sedang menjalani perkuliahan semester tiga. Selain bekuliah, saya juga memiliki hobi mencoba berbagai macam makanan di berbagai tempat (kuliner).

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nesyana Nindiandra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

com-Ilustrasi anak muda yang melakukan perubahan sekitar.  Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
com-Ilustrasi anak muda yang melakukan perubahan sekitar. Foto: Shutterstock

Bahasa merupakan alat atau fungsi yang manusia gunakan untuk saling berkomunikasi. Alat komunikasi yang paling efektif, mutlak dan diperlukan setiap negara adalah bahasa, sehingga bahasa dapat menjadi salah satu identitas budaya sebuah negara.

Bukan hanya itu, bahasa menjadi suatu cara guna memahami pikiran dan perasaan manusia serta untuk menyatakan isi dari pikiran dan perasaan tersebut.

Oleh karena itu, dengan bahasa pula kita dapat mengekspresikan diri. Ekspresi diri adalah tindakan mengungkapkan maksud, perasaan, dan gagasan seseorang sebagai hasil pemikiran sendiri.

Di era digital saat ini, berbagai macam media platform sudah tersedia, sehingga banyak wadah untuk melakukan ekspresi diri. Berbagai hal bisa kita lakukan dalam mengimplementasikannya, seperti membuat video menunjukkan keahlian tertentu, membagikan momen tak terlupakan, menulis kalimat-kalimat yang memotivasi, dan memberikan opini dan masukan terhadap suatu hal. Kebanyakan dari kegiatan-kegiatan tersebut di dalamnya menggunakan bahasa.

Ilustrasi Persatuan Indonesia. Sumber: Shutterstock.com

Namun, dikarenakan perkembangan zaman yang mana tidak ada batasan dalam hal komunikasi, masyarakat Indonesia, khususnya generasi muda lebih suka menggunakan bahasa atau istilah asing dalam penyampaiannya.

Generasi muda memiliki kemampuan, semangat, dan wawasan yang luas yang dibutuhkan untuk membangun dan memajukan negara. Maka dari itu, generasi muda memiliki peran untuk menjaga eksistensi Bahasa Indonesia di era digital.

Era digital pasti memberikan dampak akan penggunaan bahasa generasi muda. Di era digital ini memudahkan kita untuk berkomunikasi tanpa batas dengan orang dari negara lain melalui media sosial, yang pasti di dalam komunikasinya menggunakan bahasa universal atau asing.

Penggunaan bahasa asing dan gaul kerap mereka gunakan di media sosial, karena penggunanya seringkali akan terlihat keren dan mengikuti perkembangan zaman.

com-Ilustrasi anak muda Foto: Shutterstock

Sehingga mereka seringkali melupakan bagaimana menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Padahal Bahasa Indonesia tidak semena-mena muncul dan ada begitu saja, namun memerlukan semangat perjuangan orang-orang terdahulu kita untuk menjadikannya bahasa persatuan Indonesia.

Oleh karena itu kemajuan zaman dan terus berkembangnya era digital, seharusnya bukan menjadi alasan para generasi muda untuk berhenti menggunakan Bahasa Indonesia.

Sangat mengkhawatirkan apabila pemakaian Bahasa Indonesia pada mereka sangat minim, karena mereka mempunyai tanggung jawab yang besar untuk tetap menjaga eksistensi Bahasa Indonesia hingga ke generasi-generasi berikutnya.

Ilustrasi Remaja dan Digital Teknologi. Sumber: Shutterstock.com

Seharusnya era digital bisa dijadikan keuntungan bagi generasi muda untuk memajukan Bahasa Indonesia, salah satunya dengan cara menggunakannya sebagai alat komunikasi dalam pengekspresian diri di media sosial.

Generasi muda dapat mempertahankan eksistensi Bahasa Indonesia dengan cara lebih sering berbicara dan menulis dalam mengekspresikan diri menggunakan Bahasa Indonesia di media sosial. Pengguna tertinggi media sosial tertinggi yaitu remaja, dengan persentase 75,50% di Indonesia.

Dikutip dalam kumparanTech, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) sedang berencana mengusulkan pembatasan usia penggunaan layanan media sosial, termasuk Twitter, Facebook, dan Instagram, menjadi 17 tahun. Melalui pembatasan ini diharapkan generasi muda dapat memanfaatkan media sosial dalam ranah positif.

Ilustrasi media sosial. Foto: Shutterstock

Dengan banyaknya pengguna generasi muda pada media sosial, apabila hal tersebut dilakukan oleh mereka, eksistensi Bahasa Indonesia akan tetap bertahan di era digital.

Apalagi dengan dukungan pemerintah seperti membuat kampanye atau kompetisi berbahasa indonesia untuk generasi muda. Penulis yakin Bahasa Indonesia bisa dapat terus eksis bahkan dikenal sampai ke mancanegara.

Generasi muda adalah orang-orang yang menggenggam masa depan Indonesia. Sebagai generasi muda, penulis merasa generasi muda tidak boleh abai dalam hal ini. Mau dibawa ke mana Bahasa Indonesia di masa depan merupakan pilihan kita sendiri (generasi muda).