Konten dari Pengguna

Budaya “Tidak Enakan” yang Diam-Diam Merugikan Banyak Orang

Neva Gloria Mendrofa

Neva Gloria Mendrofa

Mahasiswa Fakultas Ilmu Komputer Universitas Katolik Santo Thomas

·waktu baca 3 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Neva Gloria Mendrofa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber gambar dari AI
zoom-in-whitePerbesar
Sumber gambar dari AI

Sejak kecil, saya selalu diajarkan satu hal: jangan merepotkan orang lain. Jangan menolak permintaan, jangan membuat orang lain tidak nyaman. Nilai ini terdengar mulia, dan memang, banyak orang menafsirkannya sebagai tanda sopan santun atau empati. Tapi seiring bertambahnya usia, saya mulai menyadari ada sisi gelap dari budaya “tidak enakan” itu, sisi yang sering tidak kita bicarakan, tapi diam-diam merugikan banyak orang, termasuk diri kita sendiri.

Dalam kehidupan sehari-hari, budaya ini hadir dengan sangat halus. Kita mengiyakan permintaan teman, rekan kerja, atau senior meski sedang lelah. Kita menerima pekerjaan tambahan yang bukan tanggung jawab kita. Kita diam ketika diperlakukan tidak adil karena takut dianggap tidak sopan atau egois. Semua itu dilakukan demi menjaga perasaan orang lain, sementara perasaan kita sendiri perlahan tergerus.

Yang paling mengkhawatirkan, budaya “tidak enakan” sering mengaburkan batas antara hak dan kewajiban. Banyak orang sulit berkata “tidak”, bahkan ketika tuntutan yang datang jelas melampaui batas wajar. Lembur tanpa kompensasi di tempat kerja, tugas kelompok yang dikerjakan satu orang di kampus, atau bantuan yang selalu diberikan tanpa henti, semua dianggap normal. Tidak ada yang menegur, karena dianggap “kamu kan baik”. Dan dari sini, ketidakadilan mulai terasa biasa.

Lebih parah lagi, budaya ini melanggengkan relasi yang timpang. Dalam hubungan yang bersifat hierarkis, atasan dan bawahan, senior dan junior, “tidak enakan” menjadi alat halus untuk menekan. Pihak yang lebih lemah merasa harus mengalah demi terlihat sopan, demi menjaga citra. Akhirnya, ketidakadilan bukan hanya terjadi, tapi terus diwariskan sebagai sesuatu yang wajar.

Saya sering melihat orang-orang yang berani berkata “tidak” atau menyampaikan keberatan dianggap bermasalah. Mengungkap ketidaknyamanan dinilai tidak sopan. Menolak dianggap egois. Padahal, kemampuan menetapkan batas adalah salah satu tanda kedewasaan sosial. Budaya “tidak enakan” justru membuat banyak orang lebih takut pada penilaian sosial daripada pada kerugian yang mereka alami sendiri.

Anak muda, terutama, merasakan tekanan ini dengan intens. Di usia yang seharusnya bebas mencoba, belajar, dan bahkan gagal, mereka justru dibebani tuntutan untuk selalu menyesuaikan diri. Tidak enakan pada keluarga, teman, guru, atau atasan. Akibatnya, banyak kelelahan emosional yang dipendam rapi, sementara di luar tampak “baik-baik saja”. Kelelahan ini jarang dibicarakan, karena dianggap bagian dari proses menjadi orang yang sopan dan matang.

Yang jarang disadari, budaya “tidak enakan” juga bisa disalahgunakan. Ada orang-orang yang sadar betul bahwa sikap ini bisa dimanfaatkan. Kalimat seperti “kamu kan baik” atau “masa nggak bisa bantu?” terdengar sederhana, tapi efektif menekan dan memanipulasi. Di titik ini, diam bukan lagi soal empati, tapi tentang siapa yang terus memberi dan siapa yang terus mengambil.

Tentu, ini bukan ajakan untuk menjadi acuh atau individualistis. Empati tetap penting. Tapi empati yang sehat tidak seharusnya membuat kita terus mengorbankan diri sendiri. Ada perbedaan besar antara membantu dengan tulus dan mengalah karena terpaksa. Budaya “tidak enakan” sering membuat batas itu menjadi samar.

Saya percaya, mulai sekarang kita perlu belajar berkata jujur dan menetapkan batas tanpa merasa bersalah. Menolak bukan berarti tidak peduli. Menyampaikan keberatan bukan berarti tidak sopan. Dengan begitu, kita membangun relasi yang lebih sehat, lebih setara, dan lebih manusiawi. Karena pada akhirnya, menghargai orang lain tidak berarti mengabaikan diri sendiri.

Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Ilmu Komputer Universitas Katolik Santo Thomas