Konten dari Pengguna

Beli Terus, Sadar Sekilas: Potret Pasca-Konsumsi Fast Fashion Mahasiswa Bandung

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nicholas Malvin Cassavano tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi fast fashion oleh macrovector - Magnific.com
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi fast fashion oleh macrovector - Magnific.com

“Lemari penuh, tetapi tetap merasa tidak punya baju”

Kalimat tentang membeli pakaian sering terdengar seperti candaan sehari-hari mahasiswa. Namun, di balik rak yang sesak dan gantungan yang terus bertambah, terdapat pola konsumsi yang perlahan menjadi kebiasaan. Alasan membeli pun beragam, mulai dari diskon, takut tertinggal tren, kebutuhan acara, hingga merasa pakaian lama sudah tidak menarik meskipun masih layak digunakan. Paparan media sosial melalui outfit check, haul, rekomendasi brand, dan tren yang cepat berganti turut memperkuat kebiasaan tersebut. Meski demikian, perilaku konsumsi mahasiswa tidak hanya dipengaruhi media sosial, tetapi juga lingkungan pergaulan, kebutuhan tampil rapi, kegiatan organisasi, dan gaya hidup perkotaan.

Fenomena tersebut dikenal sebagai fast fashion, yaitu produksi pakaian dengan siklus tren cepat dan harga relatif murah sehingga mendorong konsumen membeli lebih sering (Cambridge Dictionary, 2025). Dalam kajian perilaku konsumsi, fast fashion tidak hanya berkaitan dengan pembelian pakaian, tetapi juga pencarian identitas sosial melalui penampilan. Erikson menjelaskan bahwa masa remaja hingga dewasa awal merupakan tahap pembentukan identitas diri, ketika individu berusaha menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial, termasuk melalui penampilan (Nauval & Mutiah, 2022). Karena itu, pakaian bagi mahasiswa bukan sekadar kebutuhan, melainkan bahasa sosial yang dapat memengaruhi cara seseorang merasa diterima dan dianggap relevan.

Fenomena ini semakin dekat dengan mahasiswa di Kota Bandung yang dikenal sebagai kota kreatif sekaligus pusat fashion anak muda. Distro, factory outlet, UMKM pakaian, serta brand seperti 3SECOND, Screamous, Greenlight, dan Ouval Research membentuk budaya berpakaian yang kuat di ruang sosial mahasiswa. Penelitian terhadap mahasiswa UNPAR dan BINUS Bandung menunjukkan bahwa lingkungan sekitar kampus turut mendorong pola konsumsi tersebut. Kedekatan BINUS Bandung dengan Paskal 23 serta kawasan UNPAR yang dipenuhi kafe dan toko pakaian membuat akses terhadap tren menjadi mudah dan terus hadir dalam kehidupan sehari-hari. Dari 50 responden, sebagian besar membeli pakaian untuk kebutuhan sehari-hari, sementara sebagian lainnya dipengaruhi tren sosial maupun media digital, dengan frekuensi pembelian yang turut meningkatkan pengeluaran.

Kondisi tersebut dapat dikaitkan dengan teori behaviorisme yang memandang perilaku sebagai respons terhadap stimulus lingkungan. Dalam konteks fast fashion, tren digital, budaya pergaulan, lingkungan sosial, dan paparan produk baru secara terus-menerus menjadi stimulus yang membentuk pola konsumsi. Ketika pembelian pakaian memberikan rasa percaya diri atau membuat seseorang merasa lebih sesuai dengan lingkungannya, perilaku tersebut memperoleh penguatan dan berpotensi menjadi kebiasaan. Masalahnya kemudian tidak berhenti pada proses membeli, tetapi berlanjut pada perilaku pascakonsumsi. Sebanyak 14 dari 50 responden mengaku memiliki pakaian yang hanya dipakai beberapa kali sebelum akhirnya jarang digunakan kembali, sementara sebagian tetap membeli pakaian baru meskipun pakaian lama masih layak.

Dampak fast fashion juga dirasakan langsung terhadap gaya hidup mahasiswa. Sebanyak 21 responden merasa kebiasaan mengikuti tren membuat mereka lebih boros dan konsumtif, 13 responden terdorong terus membeli pakaian baru meskipun pakaian lama masih layak, dan 7 responden merasa kesadaran finansial mereka menurun akibat terlalu sering membeli. Hanya sekitar 4 responden yang merasa fast fashion tidak terlalu memengaruhi gaya hidup mereka. Fenomena ini berkaitan dengan teori hyperbolic discounting dari Cohen dkk. (2020), yaitu kecenderungan manusia lebih mengutamakan kepuasan jangka pendek daripada konsekuensi jangka panjang. Rasa senang saat membeli pakaian terasa langsung, sedangkan dampak lingkungan dan finansial terasa jauh serta abstrak.

Kontradiksi tersebut terlihat dari kesadaran responden terhadap limbah tekstil. Sebanyak 34 responden menyadari bahwa fast fashion dapat meningkatkan limbah pakaian dan mendorong konsumsi tidak berkelanjutan, tetapi 22 responden menganggap persoalan tersebut lebih menjadi tanggung jawab pemerintah dan industri fashion karena kurangnya regulasi. Hal ini dapat dijelaskan melalui Neutralization Theory Sykes dan Matza (1957), yaitu kecenderungan individu mencari pembenaran terhadap perilaku yang bertentangan dengan nilai yang mereka pahami, misalnya dengan berpikir bahwa semua orang juga melakukannya atau bahwa dampaknya tidak terlalu besar. Padahal, Global Fashion Agenda (2023) mencatat limbah tekstil global mencapai sekitar 92 juta ton per tahun. Penelitian juga menunjukkan 22 responden rutin menjual kembali atau mendonasikan pakaian yang tidak digunakan, sedangkan sebagian lainnya menyimpannya di lemari hingga menjadi pakaian yang kehilangan fungsi dan relevansi.

Fast fashion di kalangan mahasiswa Bandung bukan sekadar persoalan tren, tetapi berkaitan dengan perilaku konsumtif yang perlahan dianggap normal, meningkatnya pengeluaran, dan menurunnya kesadaran terhadap keberlanjutan. Pakaian yang awalnya dibeli untuk memenuhi kebutuhan dapat berubah menjadi simbol sosial yang terus diperbarui mengikuti lingkungan dan tren. Pemerintah serta industri memang memiliki tanggung jawab besar dalam mengatur produksi dan pengelolaan limbah tekstil, tetapi perubahan tetap berawal dari keputusan individu. Kesadaran terhadap apa yang dibeli, seberapa sering digunakan, dan ke mana pakaian berakhir menjadi bagian penting untuk memutus siklus membeli cepat, memakai singkat, lalu melupakan.

Karena itu, perubahan tidak selalu harus dimulai dengan berhenti membeli pakaian baru. Kadang perubahan dimulai dari satu pertanyaan kecil sebelum checkout:

Apakah pakaian ini benar-benar akan digunakan dalam waktu lama, atau hanya terasa penting hari ini saja?