Konten dari Pengguna

Ahli IPB: Tambang Nikel Halmahera Ancam Laut, Kesehatan, dan Ekonomi Masyarakat

Berita IPB

Berita IPB

Akun resmi Institut Pertanian Bogor

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita IPB tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto: aeer.or.id
zoom-in-whitePerbesar
Foto: aeer.or.id

Aktivitas pertambangan nikel yang berkembang pesat di wilayah pesisir, termasuk di kawasan Teluk Buli, Halmahera Timur, yang belakangan ini menjadi perhatian publik akibat perubahan kondisi perairan, perlu dikelola secara lebih hati-hati.

Menurut Dr Meutia Ismet, dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University, dampak pertambangan wilayah pesisir tidak hanya berpotensi mengganggu ekosistem laut, tetapi juga dapat mempengaruhi kesehatan masyarakat dan keberlanjutan ekonomi pesisir dalam jangka panjang.

Dr Meutia menjelaskan, salah satu dampak yang paling mudah diamati adalah meningkatnya kekeruhan dan perubahan warna pada perairan akibat masuknya sedimentasi dari daratan ke laut. Pembukaan lahan tambang membuat lapisan permukaan tanah menjadi tidak stabil sehingga mudah terbawa air hujan menuju perairan pesisir.

“Masuknya material padatan tersuspensi dalam jumlah yang besar dapat menurunkan kualitas perairan. Kekeruhan yang meningkat akan menghambat masuknya cahaya matahari ke kolom perairan, sehingga mengganggu proses fotosintesis berbagai organisme laut fotosintesis, dan juga menurunkan konsentrasi oksigen perairan akibat meningkatnya bahan organik dr daratan yg terdekomposisi ,” ujarnya.

Ia menambahkan, peningkatan sedimentasi di perairan juga dapat mengancam keberlangsungan ekosistem terumbu karang. Sedimentasi yang menutupi permukaan karang akan mengurangi intensitas cahaya yang dibutuhkan alga simbion untuk berfotosintesis.

“Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat menyebabkan stres pada terumbu karang yang memicu pemutihan atau coral bleaching, hingga kematian,” kata Dr Meutia.

Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa kerusakan terumbu karang tidak hanya berdampak pada satu jenis organisme. Berbagai biota laut yang menjadikan terumbu karang sebagai habitat, tempat mencari makan, dan lokasi pemijahan akan kehilangan ruang hidupnya. Dampak serupa juga berpotensi terjadi pada ekosistem lamun dan mangrove yang memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan wilayah pesisir.

Selain sedimentasi, Dr Meutia mengingatkan bahwa aktivitas pertambangan nikel berpotensi meningkatkan kandungan logam berat seperti nikel, besi, mangan, dan kadmium di perairan. Logam-logam tersebut dapat terakumulasi pada organisme laut dan mengalami biomagnifikasi dalam rantai makanan, sehingga berisiko mengganggu kesehatan manusia yang mengonsumsinya dalam jangka panjang.

“Dalam jangka panjang, logam berat yang terakumulasi dalam konsentrasi tinggi dapat meningkatkan risiko berbagai gangguan kesehatan kronis, mulai dari penyakit kulit, gangguan saraf, penurunan fungsi ginjal, hingga peningkatan risiko kanker. Risiko ini akan menjadi besar apabila masyarakat pesisir mengandalkan hasil tangkapan dari perairan yang telah terkontaminasi,” jelasnya.

Terkait dengan kondisi di Teluk Buli, Halmahera Timur, Dr Meutia menekankan pentingnya pemantauan kualitas air, sedimentasi, dan kandungan logam berat secara berkala untuk memastikan dampak aktivitas pertambangan terhadap lingkungan perairan.

Ia menilai langkah yang perlu dilakukan meliputi evaluasi pelaksanaan analisis mengenai dampak lingkungan (Amdal), penguatan pengendalian sedimentasi, revegetasi lahan terbuka, serta perlindungan bagi masyarakat terdampak melalui dukungan ekonomi, layanan kesehatan, dan akses air bersih.

“Pemulihan lingkungan harus dilakukan secara terpadu dari hulu hingga hilir dengan mengatasi sumber masalah di daratan agar manfaatnya dapat dirasakan oleh ekosistem maupun masyarakat,” tutupnya. (Ez)