Akademisi IPB University Beberkan Empat Kesalahan Fatal dalam Komunikasi Krisis

Akun resmi Institut Pertanian Bogor
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Berita IPB tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di era digital yang bergerak serba cepat, sebuah isu kecil dapat dengan mudah membesar menjadi krisis reputasi jika tidak ditangani dengan tepat. Perguruan tinggi dituntut untuk tidak hanya responsif, tetapi juga cermat dalam mengelola arus informasi demi menjaga kepercayaan publik dan kredibilitas institusi.
Dalam Forum Kebijakan dan Bimbingan Teknis Manajemen Krisis Perguruan Tinggi di Era Digital, Direktur Kerjasama, Komunikasi, dan Pemasaran IPB University, Dr Alfian Helmi, membeberkan empat kesalahan fatal yang wajib dihindari institusi pendidikan tinggi dalam komunikasi krisis.
“Pertama, jangan biarkan kekosongan informasi,” ujar Dr Helmi saat berbagi wawasan dan pengalaman di hadapan para praktisi humas perguruan tinggi se-Indonesia, Rabu (22/6) di Jakarta.
Ia menjelaskan, ketiadaan informasi resmi justru memberi ruang bagi rumor, spekulasi, dan narasi yang tidak terkendali.
Kedua, jangan terlambat memberikan konteks. Keterlambatan dalam memaparkan konteks sangat berbahaya karena dapat memicu salah tafsir dan memperbesar kepanikan publik.
"Berikutnya, sampaikan informasi secara bertahap. Jangan tunggu informasi lengkap untuk memberikan keterangan pers. Jangan diam terlalu lama. Sampaikan pembaruan singkat dan berkala meskipun proses penanganan masih berlangsung," ujar Dr Helmi.
Terakhir, ia menekankan pentingnya menjaga konsistensi informasi dari seluruh lini institusi. "Jangan menyampaikan pesan yang tidak selaras. Perbedaan informasi antara pimpinan, pegawai, media, dan publik dapat merusak kredibilitas organisasi," tegasnya.
Di akhir sesi, Dr Helmi berpesan, ”Krisis akan selalu ada. Akan tetapi, reputasi tidak pernah mati oleh krisis. Krisis harus kita manfaatkan untuk memperkuat reputasi dan insan humas adalah garda terdepan yang bergerak untuk terus menyuarakan kebenaran.”
