Cetak Technosociopreneur Muda, IPB Hadirkan ASA 2026 dan Hackathon PRIME STeP

Akun resmi Institut Pertanian Bogor
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita IPB tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

IPB University melalui Lembaga Pengembangan Agromaritim dan Akselerasi Inopreneurship (LPA2I) resmi meluncurkan program Agromaritim Sociopreneur Academy (ASA) 2026.
Kegiatan dilaksanakan di Auditorium Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Kampus IPB Dramaga (2/5). Program ini dirancang untuk menyiapkan generasi muda, khususnya mahasiswa, agar mampu berkarya sekaligus menciptakan lapangan kerja di sektor agromaritim.
Kepala LPA2I IPB University, Dr Handian Purwawangsa menjelaskan bahwa ASA merupakan program unggulan yang lahir dari komitmen IPB dalam mencetak technosociopreneur muda yang berpihak pada kepentingan sosial.
“ASA terus berkembang dari tahun ke tahun, baik dari kualitas program, jumlah sekolah tematik, hingga peserta yang meningkat secara konsisten,” ujarnya.
Ia menyebutkan, ASA 2026 terbuka bagi mahasiswa lintas fakultas di IPB University serta masyarakat umum. Hingga akhir April, jumlah pendaftar telah mencapai lebih dari 160 orang dan diperkirakan terus bertambah.
Peserta terpilih akan mengikuti rangkaian pembinaan terintegrasi melalui CEO School yang berfokus pada peningkatan kepemimpinan, keterampilan wirausaha, dan pengembangan technosociopreneur.
Program ini terbagi ke dalam enam bidang, yakni drone mapping, kopi dan olahannya, komoditas buah unggul, tanaman pangan, unggas, serta perikanan air tawar.
“Pelaksanaan program juga melibatkan dosen dan praktisi, dilengkapi kunjungan industri serta proyek nyata sebagai pembekalan komprehensif,” tambahnya.
Selain ASA, dalam kesempatan yang sama juga disosialisasikan program Hackathon PRIME STeP yang menjadi wadah kolaborasi antara mahasiswa, dosen, investor, dan industri. Program ini menargetkan 35 tim inovator terbaik dengan dukungan pendanaan sebagai bentuk akselerasi startup berbasis kampus.
Wakil Rektor Bidang Pendidikan dan Kemahasiswaan IPB University, Prof Deni Noviana menegaskan bahwa kedua program ini dirancang untuk membentuk lulusan dengan mindset solusi.
“Kami ingin mahasiswa tidak hanya menjadi pengamat masalah sosial, tetapi menjadi technosociopreneur yang mampu mengintegrasikan kearifan lokal dengan inovasi digital,” jelasnya.
Menurutnya, Hackathon PRIME STeP menjadi langkah konkret dalam mendorong startup prainkubasi agar naik kelas, dengan simulasi pendanaan hingga Rp50 juta per tim.
Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas disiplin untuk menjawab berbagai persoalan, mulai dari pangan hingga kesehatan dan biosains.
“Jangan takut pada kompleksitas. Masalah yang rumit adalah peluang inovasi. Bangun kolaborasi yang kuat dan manfaatkan pendanaan sebagai validasi ide di pasar,” pesannya.
Direktur Kelembagaan Ditjen Dikti, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) RI, Prof Mukhamad Najib, yang turut hadir, menyoroti pentingnya penguatan ekosistem sociopreneur dalam mendorong transformasi nasional menuju Indonesia Maju 2045.
“Kita harus keluar dari middle income trap dengan dua kunci utama, yaitu sumber daya manusia unggul dan kemampuan inovasi,” ungkapnya.
Ia menambahkan, bonus demografi harus dimanfaatkan dengan menciptakan generasi produktif yang tidak hanya mencari kerja, tetapi juga mampu menciptakan lapangan pekerjaan.
Menurutnya, pendekatan sociopreneur menjadi solusi strategis karena menggabungkan inovasi, keberlanjutan, dan keberpihakan sosial dalam satu kerangka pembangunan.
“Ke depan, tantangan kita adalah memastikan program seperti ini tidak berhenti secara seremonial, tetapi berkelanjutan dan memiliki akses pembiayaan serta pasar yang kuat,” tutupnya. (AS)
