Daging Rekayasa Tengah Dikembangkan, Ini Tanggapan Dosen IPB University

Akun resmi Institut Pertanian Bogor
Konten dari Pengguna
25 Maret 2023 8:50
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Berita IPB tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Daging Rekayasa Tengah Dikembangkan, Ini Tanggapan Dosen IPB University
zoom-in-whitePerbesar
Daging Rekayasa Tengah Dikembangkan, Ini Tanggapan Dosen IPB University
Kebutuhan manusia akan protein hewani meningkat seiring bertambahnya jumlah penduduk bumi. Teknologi daging rekayasa yang dibuat dalam skala laboratorium telah dikembangkan untuk mengatasi permasalahan stok protein hewani. Konsumsi daging tanpa harus mengorbankan nyawa hewan ternak kini tidak terdengar mustahil lagi. Walau demikian, kehadiran teknologi ini menimbulkan pro dan kontra.
Dr-ing Aziz Boing Sitanggang, Dosen IPB University dari Departemen Teknologi Pangan, Fakultas Teknologi Pertanian (Fateta) menjelaskan, pengembangan daging rekayasa ini dilatar belakangi oleh area lahan peternakan yang semakin sempit dan stok daging yang menipis.
Sebelumnya, daging alternatif berbasis tanaman menjadi salah satu pilihan masyarakat. Namun cita rasa dan nutrisi daging alternatif ini memang belum bisa mengalahkan daging aslinya. Tidak semua orang juga cocok mengonsumsi daging alternatif ini.
“Di tahun 2050, konsumsi daging akan mengalami peningkatan hingga 60 sampai 80 persen karena melonjaknya angka populasi dunia. Tindakan antisipasi mulai dilakukan, salah satunya pengembangan daging rekayasa atau lab grown meat,” terangnya dalam podcast Berani Bertanya bertajuk ‘Akankah Daging Rekayasa Menjadi Solusi Pangan Masa Depan?’ (20/03).
Menurutnya, pengembangan daging rekayasa ini juga dilatar belakangi oleh gerakan organisasi anti pemanasan global dan gerakan pecinta hewan. Pengambilan sel hidup dari hewan ternak sudah cukup untuk membuat daging tanpa harus membunuhnya.
“Dalam pembuatan lab grown meat ini kita ambil satu sel hidup dari hewan ternak lalu kita biakkan menjadi sel lain kemudian dimasukkan ke bioreaktor dengan media pertumbuhan yang nantinya akan menjadi daging,” lanjutnya.
“Menariknya, selain dapat mengurangi jumlah penyembelihan hewan, pengembangan teknologi ini dapat mengurangi jejak karbon, kerusakan lingkungan, peningkatan sustainability,” ungkap Dr Aziz.
Namun, kata dia, kualitas daging rekayasa akan tergantung dari fasilitas dan besarnya rektor. Usia daging rekayasa juga kurang tahan lama dan modal pembuatannya masih tergolong mahal.
“Sampai saat ini, daging rekayasa masih berbentuk daging giling, pengolahannya memiliki keterbatasan sehingga hanya lebih cocok sebagai patty burger. Cita rasanya juga tidak dapat sama persis seperti daging konvensional. Hal ini akibat perbedaan kandungan lemak yang memberikan cita rasa dan tekstur pada daging,” ujarnya.
Ia mengungkapkan, pengembangan daging rekayasa terus didorong, mulai dari media pertumbuhan yang dibuat lebih murah dan beragam bentuk daging baru seperti steak, misalnya. Hanya saja, diperlukan formula dasar dan pengembangan yang tepat.
“Untuk konsumsi daging rekayasa secara masif di Indonesia saya rasa masih cukup lama karena sumber daya alam kita masih cukup tinggi. Kebiasaan konsumsi masyarakat lokal juga sulit diubah karena latar belakang budaya,” lanjutnya.
Menurutnya, masih banyak pertimbangan komersial yang perlu dikaji ketika ingin mentransisikan daging konvensional ke daging rekayasa. Masyarakat pun tidak perlu khawatir terhadap pengembangan daging ini. Ia meyakinkan, pembuatan daging rekayasa pasti akan melewati serangkaian uji toksisitas dan melewati berbagai persyaratan dan regulasi.
“Masyarakat tidak perlu antipati terhadap pengembangan teknologi alternatif seperti daging rekayasa karena tentu akan memberikan manfaat tertentu,” tutupnya. (MW/Rz)