Dosen IPB University: Digital Hoarding Bisa Berdampak pada Kesehatan Mental

Akun resmi Institut Pertanian Bogor
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita IPB tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernah merasa sayang menghapus file foto lama, chat, screenshot, atau yang sebenarnya sudah tidak lagi dibutuhkan? Kebiasaan yang tampak sepele itu ternyata dapat berkembang menjadi digital hoarding, yaitu perilaku menimbun data digital secara berlebihan hingga sulit menghapusnya.
Dosen Program Studi Ilmu Keluarga dan Konsumen (IKK) IPB University, Agung Minto Wahyu, SPsi, MSi, menjelaskan bahwa digital hoarding bukan sekadar persoalan jumlah file yang tersimpan, melainkan berkaitan dengan hubungan psikologis seseorang terhadap data digital yang dimilikinya.
"Masalahnya bukan pada jumlah file yang kita miliki, tetapi pada seberapa besar kendali yang kita rasakan atas data digital kita sendiri," ujarnya.
Menurutnya, menyimpan foto kenangan, mengunduh artikel untuk dibaca kemudian, atau menyimpan dokumen tertentu masih merupakan hal yang wajar. Namun, kondisi tersebut perlu diwaspadai ketika seseorang menyadari sebuah file sudah tidak berguna, tetapi tetap tidak sanggup menghapusnya hingga mengganggu produktivitas dan kesehariannya.
“Digital hoarding terjadi ketika seseorang terus-menerus menyimpan file digital hingga tidak lagi mampu membedakan mana yang benar-benar penting dan mana yang sebenarnya sudah tidak diperlukan. Akibatnya, alih-alih memberikan rasa aman, tumpukan data justru memunculkan stres dan perasaan kewalahan,” kata dia.
Agung menjelaskan, ada sejumlah faktor psikologis yang membuat seseorang sulit menghapus data digital. Salah satunya adalah mentalitas "siapa tahu berguna nanti". Selain itu, terdapat kelekatan emosional terhadap foto, chat, atau rekaman yang menjadi representasi kenangan dan identitas diri. Banyak pula orang yang menyimpan email, screenshot, atau percakapan sebagai bukti pekerjaan maupun komunikasi.
Di sisi lain, proses menyortir ribuan file membutuhkan energi mental yang besar sehingga sering ditunda. Ditambah lagi, layanan penyimpanan digital yang semakin murah menciptakan ilusi ruang tanpa batas sehingga tidak ada dorongan untuk segera membersihkan data.
Lebih jauh, ia menjelaskan bahwa digital hoarding berkaitan erat dengan kecemasan (anxiety), fear of missing out (FOMO), serta kebutuhan untuk merasa aman melalui kepemilikan informasi.
"Seseorang merasa cemas kalau tidak menyimpan, tetapi juga merasa kewalahan karena terlalu banyak menyimpan. Di sinilah muncul lingkaran psikologis yang sulit diputus," jelasnya.
Selain berdampak pada kesehatan mental, digital hoarding juga dapat menurunkan produktivitas. Tumpukan data yang tidak terorganisasi membuat seseorang menghabiskan banyak waktu hanya untuk mencari file yang dibutuhkan. Kondisi ini juga meningkatkan risiko information overload, yaitu ketika terlalu banyak informasi justru menyulitkan seseorang menentukan mana yang benar-benar relevan.
Untuk membangun kebiasaan digital yang lebih sehat, Agung menyarankan agar masyarakat mulai membangun membangun kesadaran mengenai alasan menyimpan suatu file. Luangkan waktu sekitar 10–15 menit setiap minggu guna menyortir data, membuat kriteria sederhana sebelum menyimpan file, serta belajar membedakan antara kenangan yang benar-benar bermakna dan file yang hanya tersimpan karena rasa cemas.
"Kekuatan sebuah kenangan tidak ditentukan oleh apakah file-nya masih ada di ponsel kita atau tidak. Yang lebih penting adalah membangun hubungan yang lebih sadar dengan informasi digital kita tahu apa yang kita simpan, mengapa kita menyimpannya, dan berani melepaskan apa yang sudah tidak lagi kita butuhkan," pungkasnya. (AS)
