Dosen Pulang Kampung, Guru Besar IPB University Kenalkan Kampung Ramah Keluarga

Berita IPB
Akun resmi Institut Pertanian Bogor
Konten dari Pengguna
3 Mei 2024 8:01 WIB
·
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Berita IPB tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Dosen Pulang Kampung, Guru Besar IPB University Kenalkan Kampung Ramah Keluarga
zoom-in-whitePerbesar
Dosen Pulang Kampung, Guru Besar IPB University Kenalkan Kampung Ramah Keluarga
ADVERTISEMENT
sosmed-whatsapp-green
kumparan Hadir di WhatsApp Channel
Follow
Salah satu Guru Besar Fakultas Ekologi Manusia (Fema) IPB University, Prof Euis Sunarti melaksanakan program Dosen Pulang Kampung (Dospulkam). Dalam program yang diinisiasi Direktorat Pengembangan Masyarakat Agromaritim (DPMA) IPB University, ia mengimplementasikan Inovasi Sosial “Model Kampung Ramah Keluarga” yang secara khusus memfasilitasi transaksi keluarga dengan lingkungannya.
ADVERTISEMENT
Program diselenggarakan di Desa Ciherang, Dramaga, Bogor, Jawa Barat sebagai salah satu desa lingkar kampus IPB. Salah satu kegiatan yang dilakukan adalah serial penyuluhan ketahanan keluarga kepada ibu-ibu. Topik pertama yang disampaikan Prof Euis Sunarti mengangkat pengasuhan anak di bawah dua tahun (baduta) untuk mencegah stunting.
Topik kedua disampaikan Drs Mustopha, MAg tentang komponen dan lingkup ketahanan keluarga. Topik selanjutnya mengenai ‘Tahap Perkembangan dan Kerentanan Keluarga, disampaikan Risda Rizkillah, MSi. Semua narasumber adalah dosen Ilmu Keluarga dan Konsumen Fema IPB University.
“Para peserta sangat antusias mengikuti kegiatan. Mereka merasa senang dapat memperoleh pengetahuan dan tips sederhana pengasuhan anak, mengenali indikator ketahanan keluarga, juga mengenali kerentanan keluarga. Para ibu menjadi tahu saja tahap perkembangan keluarga serta tugas-tugas keluarga mencakup tugas dasar, perkembangan, dan tugas krisis,” ungkap Prof Euis.
ADVERTISEMENT
Selama sesi pertanyaan, ia melanjutkan, terungkap berbagai permasalahan yang dihadapi keluarga. Salah satu contohnya, ada ibu muda yang berada pada tahap perkembangan kedua yaitu memiliki anak pertama usia bayi. Ibu muda ini merasa sendiri dan tidak mendapatkan dukungan dari keluarga. Ia merasa sungkan untuk meminta bantuan suami dan orang tuanya sehingga membuat dirinya sedih berkepanjangan.
Contoh lainnya yang didapatkan Prof Euis selama kegiatan berlangsung, yakni masalah yang dihadapi ibu-ibu muda baru menikah terkait penyesuaian dengan beragam situasi yang tidak diduga sebelumnya.