Konten dari Pengguna

Dua Dosen IPB Diseminasikan Hasil Penelitian Keluarga Berencana dan Stunting

Berita IPB

Berita IPB

Akun resmi Institut Pertanian Bogor

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita IPB tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dua Dosen IPB Diseminasikan Hasil Penelitian Keluarga Berencana dan Stunting
zoom-in-whitePerbesar
Dua Dosen IPB Diseminasikan Hasil Penelitian Keluarga Berencana dan Stunting

Program keluarga berencana (KB) dan keluarga sejahtera (KS) merupakan program pemerintah yang terus didorong, mengingat angka kelahiran tidak diinginkan dan stunting cenderung masih tinggi. Faktor-faktor penyebabnya perlu digali lebih dalam melalui kajian ilmiah sehingga dapat menghasilkan rekomendasi kebijakan bagi pemerintah.

Dalam kegiatan Webinar Seputar KB dan KS (SKS) Hasil Penelitian Mitra PUSNA tahun 2020 seri 3 (26/01) oleh Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), topik ini turut dibahas oleh dua Dosen IPB University melalui diseminasi hasil penelitiannya.

Dr Megawati Simanjuntak, Dosen IPB University dari Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen (IKK), Fakultas Ekologi Manusia membahas terkait meta-analisis faktor-faktor yang mempengaruhi gizi buruk atau stunting pada balita di Indonesia. Penelitiannya ini dilatarbelakangi oleh prevalensi stunting di Indonesia lebih tinggi daripada negara lain di Asia Tenggara dan menduduki peringkat kelima di dunia. Hal ini menjadi momok buruk bagi perekonomian Indonesia karena dampaknya dapat dirasakan dalam jangka waktu panjang.

“Hasil kajian ini nantinya dapat dimanfaatkan sebagai basis rujukan para stakeholder untuk menyusun model solusi strategis berupa rencana aksi kependudukan dan KB yang akan diimplementasikan dengan fokus peningkatan pengentasan kasus stunting,” jelasnya.

Menurutnya, variabel yang disimpulkan berpengaruh terhadap kasus stunting adalah usia ibu, sosial ekonomi, besar keluarga, pendidikan ibu, ASI eksklusif, imunisasi, diare, panjang badan, Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MPASI) dan posyandu. Meta-analisis ini hanya dilakukan terhadap laporan penelitian yang telah dipublikasikan dalam sepuluh tahun terakhir.

Hasil ini, ia melanjutkan, tentu saja mungkin belum optimal karena adanya bias publikasi.

“Implikasi pada kebijakan pemerintah, harus ada upaya mengatasi stunting dengan memadukan aspek perbaikan gizi dan penguatan keluarga. Mulai dari pendidikan pra nikah, sekolah ibu, sosialisasi pengasuhan, penguatan ketahanan ekonomi serta perlunya koordinasi lintas sektor,” jelasnya.

Selanjutnya, Dr Dwi Retno Hapsari, Dosen IPB University dari Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat (SKPM), Fakultas Ekologi Manusia membahas dari sisi inklusi digital pada program keluarga berencana (KB). Hasil penelitiannya menunjukkan fakta bahwa sumber informasi pengetahuan perempuan tentang KB berasal dari institusi. Misalnya lembaga pendidikan, organisasi kemasyarakatan, kelompok masyarakat, dan kelompok kegiatan.

Di sisi lain, lanjutnya, internet ternyata menjadi variabel paling berpengaruh dalam meningkatkan penggunaan kontrasepsi. Walau bukan merupakan sumber informasi yang berpengaruh paling tinggi dalam meningkatkan pengetahuan wanita.

“Hasil temuan ini semakin memperkuat bahwa Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) berbasis digital menjadi sumber informasi potensial dalam menyukseskan program KB. BKKBN sebagai pelaku utama program KB perlu memaksimalkan internet untuk melakukan kampanye program KB dengan memanfaatkan beragam platform seperti media sosial, membangun komunitas online dan offline. Selain itu, perlu juga mengoptimalkan website untuk meningkatkan literasi terkait KB,” lanjutnya.

Ia menambahkan, platform berupa layanan interaktif untuk konsultasi KB berbasis web atau aplikasi juga perlu disediakan. Aksesibilitas, keterjangkauan dan sistem yang ramah pengguna juga perlu dirancang sehingga dapat memenuhi kebutuhan pada layanan digital. (MW/Zul)