Guru Besar IPB Usulkan Solusi “Ekologi Nutrisi” untuk Masa Depan Akuakultur

Akun resmi Institut Pertanian Bogor
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Berita IPB tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Indonesia saat ini menempati posisi sebagai produsen akuakultur terbesar ketiga di dunia. Pencapaian ini menegaskan peran vital sektor akuakultur dalam memenuhi kebutuhan protein masyarakat dunia.
Namun, tantangan besar muncul dari sistem budi daya intensif. Komponen pakan menjadi biaya terbesar dan sering kali menghasilkan limbah yang merusak kualitas air serta meningkatkan risiko penyakit bagi lingkungan perairan.
Mengatasi hal tersebut, Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University, Prof Julie Ekasari mengusulkan konsep "Ekologi Nutrisi" untuk mengurangi nitrogen pakan yang hanya sekitar 20–40 persen benar-benar menjadi biomassa hasil panen.
“Konsep ini memandang pakan, organisme budi daya, komunitas mikroba, dan lingkungan sebagai satu sistem terintegrasi yang saling berinteraksi melalui aliran nutrien,” ujarnya dalam Konferensi Pers Pra Orasi Ilmiah Guru Besar IPB University (23/7).
Dengan memahami perjalanan nutrien, ia melanjutkan, efisiensi produksi dapat ditingkatkan sekaligus menjaga kesehatan organisme dan meminimalkan dampak lingkungan.
Prof Julie menekankan tiga poin krusial dalam pengelolaan akuakultur modern: Pertama, efisiensi budi daya tidak boleh hanya diukur melalui feed conversion ratio (FCR), melainkan juga dari kemampuan sistem dalam mempertahankan dan mendaur ulang nutrien.
“Masa depan akuakultur Indonesia sangat bergantung pada kemampuan kita dalam mengelola sumber daya nutrien secara bijaksana demi ketahanan pangan yang berkelanjutan,” ungkapnya.
Poin kedua, pengelolaan nutrien berdampak langsung pada mikrobioma dan sistem imun produk. Ketiga, pengelolaan nutrien merupakan fondasi utama bagi keberlanjutan sektor akuakultur di masa depan.
Menanggapi isu tingginya konsumsi energi pada teknologi seperti bioflok, Prof Julie menjelaskan bahwa sistem ekologi nutrisi dapat dioptimalkan agar lebih hemat biaya. Hal ini dapat dicapai melalui manajemen kepadatan ikan yang presisi, integrasi sistem pengendapan untuk mengontrol bakteri, hingga pemanfaatan teknologi masa depan seperti smart aeration system berbasis solar energy dan sensor digital untuk mendukung sistem budi daya yang lebih efisien.
Ia menaruh harapan besar agar konsep ekologi nutrisi ini tidak sekadar menjadi gagasan akademik, tetapi bertransformasi menjadi landasan kebijakan nasional dan praktik budi daya yang ramah lingkungan. (dh)
