Konten dari Pengguna

Hardiknas, Mahasiswa Internasional di IPB Tukar Cerita dan Pengalaman

Berita IPB

Berita IPB

Akun resmi Institut Pertanian Bogor

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita IPB tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Hardiknas, Mahasiswa Internasional di IPB Tukar Cerita dan Pengalaman
zoom-in-whitePerbesar
Hardiknas, Mahasiswa Internasional di IPB Tukar Cerita dan Pengalaman

Ada sisi menarik dari peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 di IPB University. Selepas upacara, mahasiswa internasional berkumpul dan berbagi cerita tentang sistem pendidikan di negara masing-masing.

Melalui International Student Forum (ISF) yang digelar Direktorat Pendidikan Internasional, mahasiswa dari berbagai negara saling bertukar pengalaman sekaligus memperluas wawasan tentang keberagaman pendidikan di dunia.

Direktur Pendidikan Internasional IPB University, Dr Raden Dikky Indrawan, menyampaikan bahwa forum ini tidak hanya menjadi ruang berbagi, tetapi juga sarana membangun masa depan bersama melalui pendidikan.

“Acara ini adalah momentum penting bagi pendidikan Indonesia. Melalui forum ini, kita belajar bahwa perbedaan budaya bukanlah penghalang, melainkan kekuatan untuk tumbuh bersama menuju masa depan yang lebih baik,” kata Dr Dikky saat membuka acara di Collaborative Lounge, Kampus IPB Dramaga (2/5).

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa pengalaman belajar di luar negeri memberikan perspektif yang luas terhadap keberagaman budaya dan sistem pendidikan. Hal tersebut, menurutnya, menjadi bekal utama dalam menghadapi tantangan global.

Ia juga menambahkan bahwa IPB University tengah memperkuat strategi internasionalisasi dengan meningkatkan jumlah mahasiswa internasional hingga minimal 6 persen atau sekitar 2.500 mahasiswa dalam beberapa tahun ke depan.

Untuk mendukung target tersebut, IPB University menghadirkan sejumlah beasiswa internasional dan program kolaboratif dengan mitra industri global. Program ini dirancang untuk memberikan akses pendidikan yang lebih luas bagi mahasiswa internasional sekaligus meningkatkan kualitas akademik melalui kolaborasi internasional.

Mahasiswa asal Kenya, Samuel Kamau Maina, menjelaskan bahwa sistem pendidikan di negaranya berbasis kompetensi dengan penekanan pada keterampilan praktis, kreativitas, dan literasi digital. Ia menuturkan bahwa pendidikan di Kenya juga mengintegrasikan nilai-nilai lingkungan dan keberlanjutan sebagai bagian dari kurikulum.

Samuel juga mengatakan bahwa sektor pertanian menjadi tulang punggung ekonomi Kenya, berkontribusi hampir 40 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). Hal ini memperlihatkan kesamaan dengan Indonesia dalam hal potensi agrikultur, sehingga membuka peluang kolaborasi akademik dan riset antara kedua negara.

Sementara itu, mahasiswa asal Pakistan, Waseem Ahmed, memaparkan bahwa sistem pendidikan di negaranya terdiri dari tiga jalur utama, yakni pendidikan pemerintah, pendidikan swasta, dan pendidikan berbasis agama (madrasah).

Ia menjelaskan bahwa ketiga sistem tersebut berjalan secara paralel dan saling melengkapi dalam membentuk sumber daya manusia yang kompeten. Ia juga menekankan bahwa pendidikan di Pakistan merupakan hak fundamental yang dijamin oleh negara, khususnya bagi anak usia 5 hingga 16 tahun.

Dalam paparannya, Waseem menilai bahwa keberagaman sistem pendidikan menjadi kekuatan tersendiri dalam menjawab kebutuhan masyarakat yang dinamis.

Hal senada juga diungkapkan oleh mahasiswa asal Prancis, Mila Rose, yang menyoroti perbedaan sistem pendidikan di Prancis dan Indonesia. Ia menilai bahwa setiap negara memiliki pendekatan unik, mulai dari sistem berbasis teori hingga praktik klinis, serta interaksi antara mahasiswa dan dosen yang berbeda.

Menurutnya, pengalaman belajar lintas negara memberikan pemahaman bahwa pendidikan tidak terbatas oleh batas geografis. (dr)