Konten dari Pengguna

Ini Potensi Besar Senyawa Apatit Menurut Guru Besar IPB University

Berita IPB

Berita IPB

Akun resmi Institut Pertanian Bogor

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita IPB tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi: magnific
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi: magnific

Senyawa apatit dinilai berpotensi besar sebagai material strategis yang mampu menjawab tantangan kesehatan dan lingkungan global abad ke-21.

Selain telah banyak dimanfaatkan dalam bidang biomedis untuk mendukung regenerasi jaringan keras, material ini juga menunjukkan kemampuan tinggi dalam mengatasi pencemaran logam berat di lingkungan.

Hal tersebut disampaikan Guru Besar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) IPB University, Prof Charlena dalam Konferensi Pers Pra Orasi Ilmiah Guru Besar (23/7) secara daring.

Menurut Prof Charlena, apatit, khususnya hidroksiapatit (HAp) dan fluorapatit (FAp), memiliki struktur kristal yang stabil dan fleksibel sehingga dapat dimodifikasi melalui substitusi ionik. Karakteristik tersebut menjadikannya material multifungsi yang dapat diaplikasikan pada berbagai bidang.

“Dalam bidang kesehatan, apatit merupakan komponen utama penyusun jaringan keras manusia. Material ini memiliki sifat biokompatibel, bioaktif, dan osteokonduktif sehingga sangat potensial digunakan sebagai material implan, scaffold regenerasi tulang, maupun pelapis implan logam,” ujarnya.

Ia menjelaskan, berbagai penelitian menunjukkan pengembangan material komposit berbasis apatit yang dikombinasikan dengan logam oksida maupun polimer biodegradable mampu meningkatkan sifat mekanik, bioaktivitas, sekaligus aktivitas antibakteri. Dengan demikian, material ini berpotensi mendukung pengembangan teknologi medis yang lebih aman dan efektif.

Tidak hanya di bidang kesehatan, Prof Charlena menerangkan bahwa apatit juga memiliki peran penting dalam sektor lingkungan. Struktur kristalnya yang kaya gugus fosfat dan hidroksil memungkinkan material ini bekerja sebagai adsorben dan stabilisator untuk mengikat berbagai kontaminan berbahaya, terutama logam berat seperti timbal (Pb²⁺) dan kromium heksavalen (Cr⁶⁺).

“Pengembangan komposit hidroksiapatit dengan Fe₃O₄ telah menunjukkan efisiensi tinggi dalam menyerap logam berat sekaligus memberikan sifat magnetik yang mempermudah proses pemisahan material setelah digunakan,” ujarnya.

Menurutnya, inovasi tersebut membuka peluang penerapan teknologi remediasi lingkungan yang lebih efisien dan ramah lingkungan. Kesamaan mekanisme interaksi ionik pada senyawa apatit menjadi jembatan antara aplikasi biomedis dan lingkungan. Material yang sama dapat berfungsi sebagai agen penyembuh pada sistem biologis sekaligus sebagai agen pemulih kualitas lingkungan.

Meski demikian, ia mengakui pengembangan material apatit masih menghadapi sejumlah tantangan, seperti pengendalian ukuran partikel nano, peningkatan stabilitas material, standardisasi proses produksi, hingga percepatan hilirisasi menuju aplikasi klinis dan industri.

Karena itu, kolaborasi riset lintas disiplin menjadi kunci agar potensi apatit dapat dimanfaatkan secara optimal dalam mendukung pembangunan berkelanjutan dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat.