Konten dari Pengguna

JSF 2026: IPB Satukan Peneliti 12 Negara Bahas Megaurbanisasi Berkelanjutan

Berita IPB

Berita IPB

Akun resmi Institut Pertanian Bogor

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita IPB tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

JSF 2026: IPB Satukan Peneliti 12 Negara Bahas Megaurbanisasi Berkelanjutan
zoom-in-whitePerbesar

IPB University menyelenggarakan The 8th International Conference of Jabodetabek Study Forum (JSF) 2026 yang berlangsung secara hybrid di BRIN Thamrin Convention Hall, Jakarta (23–24/6). Mengusung tema Towards Resilient and Sustainable Mega-Urbanization in the Global South, konferensi ini diikuti 88 peserta dari 12 negara yang terdiri atas akademisi, peneliti, pemerintah, dan praktisi.

Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi IPB University dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Graduate School of Global Environmental Studies (GSGES) Kyoto University, serta Pusat Penelitian Infrastruktur dan Pengembangan Wilayah (PPIW) Institut Teknologi Bandung.

Kepala BRIN, Prof Arif Satria menilai kawasan Jabodetabek telah berkembang menjadi salah satu megaurban terbesar di dunia sehingga membutuhkan tata kelola yang semakin adaptif dan inklusif.

Menurutnya, berbagai persoalan perkotaan, mulai dari sektor informal hingga lingkungan, harus diselesaikan secara komprehensif melalui kolaborasi antara pendekatan teknokratik dan praktik-praktik yang berkembang di masyarakat.

"Sektor informal bukan ancaman. Justru harus menjadi bagian yang diintegrasikan dalam sistem ekonomi formal. Prinsip inklusif inilah yang akan sangat penting untuk menjadikan kawasan megacity lebih berkelanjutan," ungkapnya.

Sementara itu, Rektor IPB University, Dr Alim Setiawan Slamet menegaskan bahwa pesatnya urbanisasi di kawasan Global South menghadirkan tantangan multidimensi yang tidak dapat diselesaikan secara sektoral.

"Berbagai tantangan tersebut tidak dapat diselesaikan oleh satu disiplin ilmu ataupun satu institusi saja. Kita membutuhkan pendekatan yang terintegrasi, yang memadukan keunggulan ilmu pengetahuan, kebijakan berbasis bukti, inovasi teknologi, serta kolaborasi erat antara perguruan tinggi, pemerintah, dunia industri, dan masyarakat," ujarnya.

Ia menambahkan, “Sebagai institusi yang memiliki kepemimpinan global di bidang pertanian dan ilmu lingkungan, IPB University meyakini pembangunan perkotaan yang berkelanjutan harus dibangun di atas fondasi ketahanan ekologi melalui penguatan sistem pangan, perlindungan sumber daya air, konservasi keanekaragaman hayati, serta pembangunan wilayah yang inklusif.”

Wakil Rektor IPB University Bidang Riset, Inovasi, dan Pengembangan Agromaritim, Prof Ernan Rustiadi menjelaskan, penyelenggaraan JSF merupakan tradisi akademik yang telah berlangsung selama delapan kali dan kini berkembang menjadi wadah kolaborasi internasional dalam mengkaji dinamika kawasan metropolitan.

"Jabodetabek sekarang sudah menjadi megacity terbesar di dunia. Karena itu, ke depan tim JSF akan semakin memperkuat jejaring dengan para peneliti lintas negara untuk mengembangkan kajian mengenai megaurbanisasi di kawasan Global South," jelasnya.

Menurut Prof Ernan, fenomena megaurbanisasi tidak hanya berkaitan dengan kawasan perkotaan, tetapi juga melibatkan wilayah perdesaan dan periurban yang terdampak langsung oleh pertumbuhan metropolitan. Karena itu, kajian mengenai megaurbanisasi harus dilakukan secara menyeluruh dengan melibatkan berbagai disiplin ilmu.

Pada kesempatan itu, Kepala Pusat Pengkajian Perencanaan dan Pengembangan Wilayah (P4W) IPB University, Prof Baba Barus mencontohkan pengembangan desa binaan Cibulao sebagai salah satu praktik baik yang menunjukkan bagaimana kawasan perdesaan dapat berperan dalam mendukung keberlanjutan wilayah perkotaan.

Konferensi JSF 2026 menghadirkan peserta dari Indonesia, Jepang, Republik Ceko, Tiongkok, Belanda, Irlandia, Malaysia, Timor-Leste, Kenya, dan Zimbabwe. (AS)