Konten dari Pengguna

Kenali Beda Buaya Muara dan Buaya Air Tawar, Ahli IPB: Satu Pemalu, Satu Agresif

Berita IPB

Berita IPB

Akun resmi Institut Pertanian Bogor

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita IPB tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi: Magnific.com
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi: Magnific.com

Bagi sebagian orang, buaya identik dengan satwa buas yang menakutkan. Namun, tidak semua buaya memiliki karakter yang sama. Di Indonesia, setidaknya terdapat dua jenis buaya yang paling dikenal masyarakat, yakni buaya muara (Crocodylus porosus) dan buaya air tawar atau buaya siam (Crocodylus siamensis).

Meski sekilas tampak serupa, keduanya memiliki perbedaan mencolok dari segi habitat, ukuran tubuh, hingga perilakunya. Bertepatan dengan Hari Buaya Sedunia yang diperingati setiap 17 Juni, Pakar IPB University Prof Burhanuddin Masyud mengurai perbedaan buaya muara dan buaya air tawar.

“Indonesia merupakan salah satu negara dengan keanekaragaman jenis buaya yang tinggi. Setidaknya terdapat lima jenis buaya yang telah teridentifikasi, meskipun sejumlah pakar menyebut jumlahnya bisa lebih banyak,” ujar Prof Burhanuddin.

Beda Habitat, Beda Karakter

Menurut Prof Burhanuddin, buaya muara umumnya hidup di sungai, muara, pesisir pantai, dan perairan payau. Spesies ini memiliki tubuh lebih besar dengan panjang mencapai 5–7 meter dan bobot hingga lebih dari satu ton. Moncongnya lebar dan kuat serta dikenal sebagai predator puncak yang teritorial dan berpotensi membahayakan manusia.

“Buaya muara aktif berenang, jantan dewasa lebih dominan dan agresif, serta memiliki wilayah kekuasaan yang kuat,” jelasnya.

Sementara itu, buaya air tawar lebih banyak ditemukan di rawa, sungai, dan danau air tawar yang jauh dari pengaruh laut. Ukurannya lebih kecil, umumnya memiliki panjang 1,5–2,5 meter dengan moncong yang lebih ramping berbentuk huruf “V”.

“Buaya air tawar cenderung lebih tenang, pemalu, dan menghindari manusia. Perilaku menyerang biasanya terjadi ketika satwa tersebut terdesak atau mempertahankan diri,” tambahnya.

Satwa Dilindungi

Prof Burhanuddin menjelaskan, baik buaya muara maupun buaya air tawar termasuk satwa yang dilindungi di Indonesia. Namun, kondisi keduanya berbeda. Buaya muara berstatus least concern menurut The International Union for Conservation of Nature (IUCN), sedangkan buaya air tawar berstatus critically endangered atau kritis.

Ia menegaskan bahwa lembaga konservasi, kebun binatang, dan penangkaran memiliki peran penting dalam menjaga kelestarian populasi buaya. Selain menjadi cadangan plasma nutfah, penangkaran juga dapat mengurangi tekanan perburuan di alam serta mendukung program pelepasliaran.

“Keberhasilan penangkaran dapat menjadi sistem pendukung penting bagi konservasi buaya di habitat alaminya sekaligus mendukung pemanfaatan yang berkelanjutan,” tuturnya. (Fj)