Konten dari Pengguna

Kuliah Umum Maba Pascasarjana IPB: Mahasiswa Ditantang Hasilkan Riset Berdampak

Berita IPB

Berita IPB

Akun resmi Institut Pertanian Bogor

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita IPB tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kuliah Umum Maba Pascasarjana IPB: Mahasiswa Ditantang Hasilkan Riset Berdampak
zoom-in-whitePerbesar

Memasuki jenjang pascasarjana bukan sekadar melanjutkan pendidikan atau mengejar gelar. Pada tahap ini, mahasiswa ditantang menemukan pengetahuan baru, menjawab persoalan nyata, dan menghadirkan riset yang memberi dampak.

Pesan tersebut hadir dalam Kuliah Umum Mahasiswa Baru Sekolah Pascasarjana IPB University di Grha Widya Wisuda, Kampus IPB Dramaga, Bogor, Rabu (13/8).

Bukan Hanya Kejar Gelar

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) RI Brian Yuliarto menempatkan novelty sebagai inti perjalanan seorang peneliti. Menurutnya, mahasiswa pascasarjana harus menjalani proses ilmiah sebagai sebuah discovery journey, bukan sekadar mengejar gelar.

“Di dunia ilmu pengetahuan, kita tidak cukup hanya memiliki orang yang tahu. Kita harus menemukan sesuatu yang belum kita tahu. Itulah yang disebut novelty,” ujarnya.

Karena itu, mahasiswa didorong memiliki rasa ingin tahu dan tidak menunggu dosen menentukan arah penelitian. Membaca jurnal, berpikir kritis dan kreatif, menjaga integritas, memanfaatkan ekosistem akademik, serta berkolaborasi menjadi bekal penting untuk menjadi seorang saintis.

“Jangan selalu menunggu dari profesor atau dosen Anda. Anda harus menetapkan, Anda mau apa. Anda harus membaca,” tegasnya.

Laut: Ruang Penelitian Luas

Pesan tentang pentingnya riset juga datang dari Menteri Kelautan dan Perikanan RI, Wahyu Sakti Trenggono. Ia mengajak mahasiswa melihat laut sebagai ruang penelitian yang luas, terutama untuk menjawab kebutuhan pangan dan menemukan sumber material baru bagi berbagai kepentingan.

“Laut sebagai wilayah sumber pangan yang baru, sumber material yang perlu diteliti yang kemudian bisa berdaya guna untuk kepentingan banyak hal, seperti untuk farmasi, untuk energi dan lain sebagainya. Ini butuh penelitian,” tuturnya.

Menurutnya, berbagai persoalan kelautan, mulai dari konservasi, mikroplastik, budi daya, teknologi kapal hingga pengelolaan masyarakat pesisir, dapat menjadi ruang penelitian bagi mahasiswa magister maupun doktor.

Riset Berdampak

Sementara itu, Rektor IPB University Dr Alim Setiawan Slamet menegaskan bahwa mahasiswa pascasarjana telah memasuki fase berbeda dalam perjalanan akademiknya. Mereka tidak lagi hanya menerima ilmu, tetapi mulai bertanggung jawab menghasilkan pengetahuan.

“Di bangku sarjana, seorang mahasiswa masih menjadi konsumen ilmu. Tapi di jenjang pascasarjana, Saudara mulai mengambil tanggung jawab untuk menghasilkan pengetahuan baru, menguji batasnya, dan juga menerjemahkannya menjadi solusi,” ujarnya.

Ia mengingatkan mahasiswa agar tidak terjebak menghasilkan karya yang hanya kuat secara metodologi, tetapi tidak memiliki manfaat nyata. “Bahaya terbesarnya adalah menghasilkan karya yang rapi secara metodologi, namun sunyi dari relevansi,” katanya.

Untuk itu, Rektor mendorong mahasiswa agar berani melintasi batas disiplin melalui pengembangan visi Agromaritim 5.0, yang menghubungkan pangan, sumber daya hayati, kelautan, dan teknologi digital.

Dekan Sekolah Pascasarjana IPB University Prof Yusli Wardiatno melengkapi pesan tersebut dengan menekankan pentingnya mengubah tesis dan disertasi menjadi kontribusi nyata.

“Pendidikan pascasarjana tidak cukup hanya berorientasi pada penyelesaian studi, tetapi juga diarahkan pada pengembangan ilmu pengetahuan, pengembangan inovasi, pemecahan persoalan nyata bangsa, serta penciptaan dampak,” ujarnya. (AS)